Bencana ini tentu saja merusak ekosistem dan alam secara masif. Aktivitas pariwisata dan ekonomi lokal juga terpuruk akibat kebakaran ini. Tempat-tempat yang terbakar pun harus ditutup sementara waktu, demi keamanan pengunjung.
Bulan Kemerdekaan: Gunung, Taman Nasional, dan Desa Adat Terbakar

- Agustus 2026 diwarnai kebakaran serentak di Kalimantan, sejumlah gunung, taman nasional, hingga Desa Adat Sade, diperparah musim kemarau, angin, dan medan pemadaman yang sulit.
- Karhutla Kalimantan mencatat 1.487 titik panas per 19 Agustus; kebakaran di Arut Selatan dan Kumai membakar 859,49 hektare serta memicu darurat asap hingga Malaysia.
- Kebakaran menyebabkan penutupan pendakian dan wisata, merusak ekosistem serta ekonomi lokal; Desa Adat Sade terbakar tanpa korban jiwa, sementara penyebabnya belum diketahui.
Bulan Agustus 2026 seharusnya menjadi momen perayaan Kemerdekaan Republik Indonesia yang disambut dengan suka cita dan kemeriahan. Namun, serangkaian bencana kebakaran hampir serentak melanda di berbagai wilayah negeri, mulai dari wilayah pegunungan, taman nasional, hingga yang terbaru di sebuah kawasan wisata populer.
Situasi tersebut tentu membuat banyak orang khawatir, mengingat saat ini sudah musim kemarau dan risiko kebakaran sangat tinggi di mana saja. Proses pemadaman api yang tidak mudah, angin yang berpotensi membuat api semakin besar, hingga kurangnya kesadaran manusia dalam hal mitigasi bencana tentu menjadi tantangan tersendiri.
Berikut daftar gunung, taman nasional, hingga desa adat yang terbakar sepanjang bulan Kemerdekaan Agustus 2026 ini.
1. Kalimantan
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Kalimantan menjadi bencana berulang yang terjadi hampir setiap tahun saat musim kemarau. Hal ini diperparah fenomena El Nino yang puncaknya terjadi pada Agustus-September.
Penyebaran titik kebakaran terjadi hampir di setiap provinsi di Kalimantan. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat per tanggal 19 Agustus 2026 ada 1.487 titik panas (hotspot) di seluruh Kalimantan. Terdiri dari 767 titik di Kalimantan Tengah, 441 titik di Kalimantan Barat, 315 di Kalimantan Tengah, 34 di Kalimantan Selatan, dan 17 di Kalimantan Utara.
Kebakaran terparah terjadi di Kecamatan Arut Selatan (Arsel) dan Kumai, Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah. Di sini terdapat sekitar 461 titik panas yang menyebabkan 859,49 hektare lahan terbakar.
Dampak dari kebakaran Kalimantan ini tidak hanya merusak hutan dan ekosistem, tetapi juga telah meluas ke sejumlah sektor, mulai dari kesehatan, pendidikan, transportasi, dan ekonomi. Hingga saat ini, Kalimantan masih dalam kondisi darurat asap dan api, bahkan asapnya telah menyebar ke negeri tetangga seperti Malaysia.
2. Gunung Bromo

Potret kebakaran hutan dan lahan di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (instagram.com/bbtnbromotenggersemeru) Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Gunung Bromo terjadi sejak Senin (3/8/2026) dan disinyalir sebagai ulah manusia. Lebih dari 1.000 hektare lahan terbakar di wilayah Lumajang, Probolinggo, hingga Malang. Proses pemadaman terkendala kondisi medan yang curam dengan kemiringan mencapai 80-90 derajat. Selain itu, kondisi dedaunan yang kering dan hembusan angin kencang membuat api sulit dikendalikan.
Pihak Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BB-TNBTS) sempat menutup sementara semua akses masuk ke kawasan Gunung Bromo. Hal ini bertujuan demi keselamatan pengunjung dan demi proses pemadaman api berjalan lancar. Gunung tersebut akhirnya dibuka lagi pada Kamis (20/8/2026).
3. Gunung Gede

Potret Alun-alun Surya Kencana, Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (IDN Times/Intan Deviana) Alun-alun Suryakencana di kawasan Gunung Gede, Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, Jawa Barat, mengalami kebakaran sejak Kamis (6/8/2026). Di hari yang sama, api berhasil dipadamkan, tetapi sekitar satu hektare lahan ludes dilalap si jago merah.
Sehari setelahnya, titik api kembali muncul di sekitar Kawah Wadon yang lokasinya cukup jauh dari Alun-alun Suryakencana. Lahan dan hutan yang terbakar mencapai 5,8 hektare.
Pengelola Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (BB-TNGGP) melakukan penutupan sementara terhadap kegiatan pendakian di seluruh pintu masuk kawasan selama 7-11 Agustus 2026. Penutupan kemudian diperpanjang hingga 18 Agustus 2026 dan diperpanjang lagi hingga 31 Agustus 2026.
4. Taman Nasional Gunung Rinjani

Potret pendaki di Pelawangan Senaru, Gunung Rinjani, Lombok (IDN Times/Ahmad Viqi Wahyu Rizki) Kebakaran hutan dan lahan melanda kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani, Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), pada Jumat (7/8/2026) sore. Hutan seluas 30 hektare di Kawasan Resor Sembalun, Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah II Balai Taman Nasional Gunung Rinjani, ludes dilalap si jago merah.
Kepala Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (BTNGR), Budhy Kurniawan, menjelaskan api telah berhasil dikendalikan pada Sabtu (8/8/2026) sekitar pukul 00.30 WITA oleh tim gabungan yang dipimpin Kapolres Lombok Timur.
5. Gunung Andong

Gunung Andong, Jawa Tengah (pexels.com/egi daki) Kawasan lereng Gunung Andong di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, terbakar pada Senin (10/8/2026) sekitar pukul 12.00 WIB. Api muncul di delapan titik dan membakar sekitar 3,67 hektare lahan. Kebakaran ini diketahui dari laporan warga yang melihat kepulan asap dari arah Desa Jogoyayasan Kecamatan Ngablak, Kabupaten Magelang.
Tim gabungan dari berbagai unsur langsung bergerak menuju ke lokasi untuk melakukan penanganan dan mencegah api meluas ke kawasan hutan di sekitarnya. Kondisi medan dan vegetasi menjadi salah satu tantangan dalam proses pemadaman yang dilakukan secara manual. Dalam kurun waktu empat jam, api berhasil dipadamkan sepenuhnya.
6. Tahura Raden Soerjo dan Gunung Arjuno-Welirang

Pos perizinan Gunung Arjuno-Welirang (IDN Times/Khusnul Hasana) Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terjadi di kawasan Pegunungan Arjuno-Welirang, Taman Hutan Raya (Tahura), Raden Soerjo, Selasa (18/8/2026). Api mulai muncul pertama kali di sebelah timur area Lapangan Kotak. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Timur belum bisa memastikan penyebab pasti kebakaran tersebut.
Setelah berjibaku dengan api dan kondisi angin yang kencang, api bisa dipadamkan sejak Jumat malam (21/8/2026). Namun, hingga Minggu (23/8/2026) siang, kepulan asap masih terpantau dari Posko Kaliandra dan diperkirakan berasal dari kawasan di atas Lembah Kidang. Akibat kebakaran tersebut, seluruh aktivitas pendakian Gunung Arjuno-Welirang ditutup sementara sampai batas waktu yang tidak ditentukan.
7. Taman Nasional Way Kambas

Taman Nasional Way Kambas, Lampung Timur (IDN Times/Dina Fadillah Salma) Taman Nasional Way Kambas, juga tak luput dari bencana kebakaran. Api menghanguskan lahan seluas 673,4 hektare di tempat "sekolah" gajah tersebut atau tepatnya di Kelurahan Kuala Penet, wilayah Resort Kuala Penet, Lampung Timur, Jumat (21/8/2026) sekitar pukul 14.00 WIB.
Seluruh titik api berhasil dipadamkan pada Sabtu (22/8/2026) sekitar pukul 19.12 WIB. Titik panas (hotspot) di lokasi juga sudah tidak ditemukan lagi di titik kejadian. Selain itu, gajah-gajah yang ada di kawasan ini dipastikan aman dan terpantau sehat.
8. Desa Adat Sade

Kondisi Desa Adat Sade yang rata dengan tanah, Minggu (23/8/2026) (IDN Times/Muhammad Nasir) Kabar terbaru dan membuat banyak orang shock adalah kebakaran hebat yang melanda Desa Adat Sade, Dusun Sade, Desa Rembitan, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat. Rumah-rumah adat di sana ludes terbakar pada Sabtu malam (22/8/2026).
Kepala Bidang Kelembagaan Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Disparekraf) NTB, Mawardi, mengatakan penyebab kebakaran belum diketahui. Kobaran api cepat menjalar, karena atap rumah warga terbuat dari material yang mudah terbakar.
"Bahkan di seberang jalan dekat Alfamart hampir terbakar juga. Karena disebabkan ada angin, dan mudahnya terbakar atap ilalang dan menggunakan pagar sebagai dindingnya. Ini yang menyebabkan cepat menjalarnya api," ujar Mawardi, dikutip dari IDN Times, Senin (23/8/2026). Mawardi juga memastikan tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut.
Musibah ini tidak hanya menjadi duka bagi Suku Sasak dan masyarakat Lombok, tetapi juga Indonesia. Desa ini merupakan destinasi wisata yang banyak dikunjungi wisatawan domestik dan mancanegara. Warisan leluhur berupa rumah adat, kerajinan tangan, dan kearifan lokal dijaga dengan baik selama lebih dari lima abad.
Tidak ada yang menginginkan sebuah bencana terjadi. Terlepas dari faktor alam, ada banyak hal yang dapat kita lakukan untuk mencegahnya terjadi, mulai dari menjaga kelestarian alam hingga belajar tentang mitigasi bencana. Lekas sembuh, Indonesiaku!















![[QUIZ] Gunung di Indonesia yang Cocok Didaki sesuai Tingginya](https://image.idntimes.com/post/20250812/upload_eaa2e2c40b879bafd94a97695485483b_267d49c7-d5a9-4f85-9396-ec20de0d0700.jpg)
![[QUIZ] Spot Sunrise Favoritmu Bisa Ungkap Kepribadianmu saat Traveling!](https://image.idntimes.com/post/20250830/upload_cb4f5214b27dbb5e8d354cfcf8f212ca_cbea0e49-292d-4108-9f06-a22d315dcd74.jpg)
![[QUIZ] Kamu Bakal Liburan ke Pantai Cantik Ini dalam Waktu Dekat!](https://image.idntimes.com/post/20250812/upload_cbfc6b9ef3c16855b49bea221c38ac02_6d2f3f91-c63e-4eba-bfa6-aae5b0e2db5d_watermarked_idntimes-2.jpeg)