Potret tenun di Rumah Tenun Baku Peduli, Labuan Bajo, Manggarai Barat, NTT (IDN Times/Fasrinisyah Suryaningtyas)
Kalau kamu ingin mendapatkan edukasi lengkap tentang tenun Manggarai, maka Rumah Tenun Baku Peduli jawabannya. Berlokasi di Jalan Trans Flores KM 10, Watu Langkas, Nggorang, Komodo, Manggarai Barat, tempat ini dapat ditempuh sekitar 20-25 menit dari Bandara Komodo.
Rumah Tenun Baku Peduli didirikan untuk melakukan gerakan pemberdayaan kelompok perempuan melalui tenun, serta fokus pada upaya pelestarian dan pengembangan tenun songket.
"Motivasi awal kami memulai tempat ini untuk melibatkan kelompok perempuan, terutama ibu-ibu di perkampungan, dengan industri pariwisata di Labuan Bajo," ujar pemandu Rumah Tenun Baku Peduli, Ney Dinan, kepada IDN Times, Jumat (16/10/2026).
Sejak 2018, Rumah Tenun Baku Peduli memulai kembali gerakan pewarnaan alami untuk benang tenun. Hal ini disebabkan tradisi memintal benang dan melakukan pewarnaan alami di Flores mulai berkurang ketika benang-benang dengan pewarnaan tekstil dan sintetik mulai masuk sekitar tahun 1980-an.
"Kita mau merekatkan kembali hubungan antara budaya dengan alam. Ketika kita menggunakan pewarna sintetis, pakai benang malon, menurut saya itu sesuatu hal yang sudah melenceng dari nilai budaya itu sendiri," kata Ney.
Ney kemudian menunjukkan beberapa bahan alami yang digunakan untuk pewarnaan benang tenun. Di antaranya seperti kulit mahoni, kulit dan daun mangga, mengkudu, daun jati, daun jambu, buah pinang, kemiri, kayu secang, loba, dan akar-akar kayu lokal lainnya.
Bahan-bahan tersebut kemudian diolah untuk mengeluarkan warnanya. Ada dua metode yang digunakan, yakni hot process atau proses panas dan cool process atau proses dingin. Hot process digunakan untuk kulit atau akar-akar kayu yang sangat keras dan caranya direbus, sedangkan cool process dilakukan dengan merendam bahan-bahan lunak atau difermentasi selama minimal dua pekan.
Warna yang keluar nantinya tergantung pada kondisi bahan. Meski dari kulit pohon yang sama, hasilnya bisa berbeda. Misalnya pada mahoni, beda pohon, beda usia pohon, beda ketebalan kulit, beda waktu panen itu berpengaruh dengan warnanya.
Setelah warna diekstrak dan dipastikan tidak mengeluarkan warna lagi, kayu-kayu tersebut kemudian dikeringkan atau dijemur dan dijadikan kayu bakar. Abu dari kayu bakar dipakai lagi untuk mencuci benang. "Jadi tidak ada yang tidak ada limbah di sini," tutur Ney.
Selanjutnya, Ney mengajak penulis untuk melihat proses pembuatan tenun yang dilakukan ibu-ibu, serta masuk ke dalam ruang koleksi. Di sana terdapat beberapa kain tenun yang sudah jadi dengan berbagai motif dan saat dipegang teksturnya sangat halus. Di bagian depan juga ada toko yang menjual tenun buatan Rumah Baku Peduli. Ada lembaran kain, selendang, syal, gelang, hingga baju yang sudah jadi.
Untuk mengikuti wisata edukasi ini, kamu wajib melakukan reservasi ke nomor WhatsApp 0812 3797 4485. Harganya mulai dari Rp25 ribu-Rp260 ribu per orang, tergantung paket dan aktivitas yang diikuti.
Menjelajahi destinasi wastra Manggarai bukan sekadar liburan biasa, melainkan momen untuk lebih mengenal keindahan tenun atau songke yang sarat makna. Jadi, tunggu apa lagi? Segera agendakan perjalananmu ke Manggarai dan bawa pulang cerita seru tentang wastra di sana, ya!