Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Destinasi Wastra Manggarai yang Seru untuk Dikunjungi
Potret wastra atau tenun manggarai di Kampung Todo, Manggarai, NTT (IDN Times/Fasrinisyah Suryaningtyas)
  • Wastra Manggarai, terutama songke, merupakan tenun songket berwarna dasar gelap yang sarat simbol keagungan, adat, hubungan dengan alam, sesama, dan Sang Pencipta.

  • Desa Waerebo dan Kampung Todo menghadirkan pengalaman melihat penenun perempuan, mengenakan busana adat, serta membeli songke dan towe kemumu yang diwariskan antargenerasi.

  • Rumah Tenun Baku Peduli di Manggarai Barat memberdayakan perempuan dan melestarikan tenun melalui pewarnaan alami, wisata edukasi proses produksi, serta penjualan beragam produk tenun.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Menjelajahi keindahan alam Flores, Nusa Tenggara Timur, tak lengkap rasanya tanpa menyelami kekayaan budayanya, terutama kain tenun khas Manggarai yang cantik. Kain tradisional atau wastra ini bukan sekadar lembaran kain cantik bertabur motif indah, tetapi jug warisan leluhur yang merekam kisah hidup, kepercayaan, serta keharmonisan masyarakat setempat dengan alam.

Di Manggarai sendiri, ada beberapa destinasi wisata yang bisa dikunjungi untuk para pencinta wastra. Kamu bisa berinteraksi langsung dengan para penenun lokal, belajar memahami simbol di balik motif songke (julukan untuk kain tenun Manggarai), hingga berburu wastra langsung dari tangan pembuatnya.

IDN Times pun berkesempatan mengunjungi beberapa destinasi wisata wastra Manggarai pada Senin-Jumat, 12-16 Oktober 2026. Kunjungan tersebut dilakukan dalam rangka "Perjalanan Wisata Pengenalan (Familiarization Trip)" yang diinisiasi Kementerian Pariwisata Republik Indonesia dan Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores (BPOLBF) dengan tujuan mendorong wisatawan untuk berkunjung ke destinasi daratan di Labuan Bajo dan Manggarai.

Jika kamu sedang merencanakan liburan ke Labuan Bajo atau Manggarai, mengunjungi beberapa destinasi wisata wastra Manggarai di Flores berikut ini bakal memberikanmu pengalaman liburan yang menyenangkan. Simak sampai habis, ya!

1. Sekilas tentang wastra Manggarai

Potret dua perempuan di Desa Waerebo mengenakan tenun todo (IDN Times/Fasrinisyah Suryaningtyas)

Wastra berupa kain tenunan tangan memiliki peran penting bagi kebudayaan masyarakat Flores. Kain-kain tersebut bisa dijumpai dengan mudah di setiap kabupaten, dari barat hingga timur pulau, dengan karakter dan keindahannya masing-masing.

Melansir buku FLORES HANDWOVEN: Heritage Treasure of Textiles (2021) yang diterbitkan Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores, ada dua gaya menenun yang dilakukan masyarakat Flores, yakni ikat dan songket. Teknik ikat lebih populer di Lembata, Sikka, dan Ende, sementara teknik songket lebih banyak ditemukan di Manggarai dan Nagekeo.

Di Manggarai sendiri, kain tenunan disebut sebagai songke. Ada pula yang menyebutnya sebagai lipa dan towe. Keterampilan menenun songke merupakan pengaruh dari Kerajaan Gowa, Sulawesi Selatan. Pada tahun 1613-1640, kerajaan tersebut menguasai di hampir seluruh wilayah Manggarai. Interaksi sosial antarmasyarakat melahirkan banyak hal, salah satunya cara berbusana dan keterampilan menenun.

Secara umum, songke berwarna dasar gelap dan menggunakan motif floral padat pada satu sisi sarung. Warna dasar benang hitam yang dipakai dalam tenun ini melambangkan kebesaran dan keagungan, serta kepasrahan bahwa semua manusia pada suatu saat akan kembali kepada Mori Kraeng (Sang Pencipta). Sementara itu, warna benang untuk sulamannya cenderung mencolok, sepert; merah, putih, oranye, dan kuning.

Motif yang dipakai untuk songke mengandung harapan dari orang Manggarai dalam hal kesejahteraan hidup, kesehatan, dan hubungan, baik antara manusia dan sesamanya, manusia dengan alam maupun manusia dengan Sang Pencipta. Beberapa motif songke yang bisa ditemukan dengan mudah, antara lain:

  1. Su’i: motif berupa garis-garis yang seolah memberi batas antara satu motif dengan yang lainnya, melambangkan segala sesuatu yang memiliki akhir dan kehidupan masyarakat Manggarai dibatasi garis-garis berupa peraturan adat yang tidak boleh dilanggar,

  2. Mata Manuk: berarti mata ayam dan dikaitkan dengan Tuhan yang maha melihat. Masyarakat Manggarai meyakini kebesaran Tuhan yang mampu melihat hingga ceruk paling gelap sekali pun. Perbuatan manusia tidak ada yang luput dari pengamatan-Nya,

  3. Wela Ngkaweng: wela berarti bunga, sedangkan ngkaweng adalah sejenis tumbuhan yang dimanfaatkan masyarakat Manggarai untuk mengobati luka hewan ternak. Wela Ngkaweng mengandung makna kehidupan manusia sangat bergantung pada alam, serta

  4. Wela Runu: sejenis tumbuhan bunga yang berukuran kecil. Motif ini mengandung arti bahwa setiap peristiwa dalan hidup ini memiliki hikmahnya sendiri.

Dalam hal penggunaan, ada perbedaan cara antara laki-laki dan perempuan. Teknik yang digunakan laki-laki disebut tengge, yakni melipat sisi kiri dan kanan kain songke secara menyilang di depan tubuh, lalu menggulung bagian depan area perut ke arah dalam atau luar hingga kencang dan rapi.

Sementara itu, teknik penggunaan pada perempuan dinamakan deng. Caranya dengan melipat sisi kiri dan kanan kain songke secara menyilang di badan, kemudian ambil salah satu ujung sudut kain dan diselipkan dengan kuat ke bagian dalam ikatan pinggang.

Selain digunakan sebagai busana harian, songke juga dikenakan saat melaksanakan upacara adat, ibadah di gereja, perayaan syukur, kelahiran, pernikahan, penahbisan Imam Katolik baru, bahkan saat kematian songke dipakaikan pada jenazah.

2. Desa Waerebo

Potret perempuan di Desa Waerebo sedang menenun (IDN Times/Fasrinisyah Suryaningtyas)

Desa Waerebo tidak hanya menawarkan pemandangan alam yang memesona, tetapi juga kain tenun atau songke cantik yang diwariskan secara turun-temurun. Saat berkunjung ke sana pada Selasa dan Rabu, 13 dan 14 Oktober 2026, penulis melihat sendiri masyarakat setempat mengenakan songke sebagai busana sehari-hari.

Kegiatan menenun di Desa Waerebo dilakukan kaum perempuan. Umumnya, mereka belajar menenun dari ibu atau nenek mereka secara langsung setelah lulus SD atau berumur sekitar 12 tahun. Selain songke, mereka juga membuat tenun todo. Tenun ini memiliki ciri khas berupa benang dasar berwarna merah dan dikombinasi dengan warna hitam hingga membentuk pola garis-garis sejajar.

Tak hanya dijadikan busana (bawahan), songke buatan perempuan Waerebo ini juga dibuat selendang, hiasan, dan songkok atau peci. Untuk benang sisa tenunan biasanya akan dikepang atau dirangkai menjadi gantungan kunci atau gelang. Harga selembar kain (sarung) songke dibanderol mulai dari Rp800 ribu, selendang mulai dari Rp50 ribu, sedangkan gantungan kunci dan gelang mulai dari Rp10 ribu.

3. Kampung Todo

Potret tenun di Kampung Todo, Manggarai, Nusa Tenggara Timur (IDN Times/Fasrinisyah Suryaningtyas)

Selanjutnya, pencinta wastra juga bisa mengunjungi Kampung Todo yang terletak di Desa Todo, Kecamatan Satar Mese Barat, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur. Kampung ini bisa ditempuh sekitar 4-5 jam dari Labuan Bajo atau 1,5 jam dari Ruteng, ibu kota Manggarai.

Dulunya, Kampung Todo merupakan pusat kerajaan Manggarai dan menjadi tempat kelahiran tenun Todo. Wisatawan yang berkunjung ke sini wajib mengenakan pakaian adat berupa sarung tenun todo berwarna merah-hitam, selendang, dan aksesori kepala. Laki-laki mengenakan penutup kepala atau peci re'a, sedangkan perempuan mengenakan ikat kepala atau retu.

Saat memasuki kampung, deretan kain tenun dibentangkan oleh penduduk setempat di depan rumah Mbaru Niang. Penulis juga menyaksikan beberapa perempuan Todo sedang menenun kain di depan rumah mereka.

Sama seperti di Waerebo, penenun di Kampung Todo ini didominasi perempuan. Mereka juga mendapatkan keterampilan itu secara turun-temurun dari ibu atau nenek mereka. Namun, tak sedikit yang baru belajar menenun setelah menikah dengan laki-laki Todo dan tinggal di kampung tersebut.

Tenun Todo yang dibuat di sini memiliki pola garis tanpa motif. Benang dasarnya berwarna merah yang dikombinasi dengan warna hitam hingga membentuk pola garis-garis sejajar. Kendati kerap disebut tenun Todo, di kalangan penenun dan orang-orang Todo, tenun ini khusus dinamai towe kemumu.

Selain busana, tenun Todo juga dibuat selendang, hiasan kepala, hiasaan meja, dan songkok atau peci. Untuk benang sisa tenunan akan dirangkai menjadi gelang. Harga selembar tenun Todo dibanderol mulai dari Rp300 ribu, selendang mulai dari Rp50 ribu, dan gelang mulai dari Rp10 ribu.

4. Rumah Tenun Baku Peduli

Potret tenun di Rumah Tenun Baku Peduli, Labuan Bajo, Manggarai Barat, NTT (IDN Times/Fasrinisyah Suryaningtyas)

Kalau kamu ingin mendapatkan edukasi lengkap tentang tenun Manggarai, maka Rumah Tenun Baku Peduli jawabannya. Berlokasi di Jalan Trans Flores KM 10, Watu Langkas, Nggorang, Komodo, Manggarai Barat, tempat ini dapat ditempuh sekitar 20-25 menit dari Bandara Komodo.

Rumah Tenun Baku Peduli didirikan untuk melakukan gerakan pemberdayaan kelompok perempuan melalui tenun, serta fokus pada upaya pelestarian dan pengembangan tenun songket.

"Motivasi awal kami memulai tempat ini untuk melibatkan kelompok perempuan, terutama ibu-ibu di perkampungan, dengan industri pariwisata di Labuan Bajo," ujar pemandu Rumah Tenun Baku Peduli, Ney Dinan, kepada IDN Times, Jumat (16/10/2026).

Sejak 2018, Rumah Tenun Baku Peduli memulai kembali gerakan pewarnaan alami untuk benang tenun. Hal ini disebabkan tradisi memintal benang dan melakukan pewarnaan alami di Flores mulai berkurang ketika benang-benang dengan pewarnaan tekstil dan sintetik mulai masuk sekitar tahun 1980-an.

"Kita mau merekatkan kembali hubungan antara budaya dengan alam. Ketika kita menggunakan pewarna sintetis, pakai benang malon, menurut saya itu sesuatu hal yang sudah melenceng dari nilai budaya itu sendiri," kata Ney.

Ney kemudian menunjukkan beberapa bahan alami yang digunakan untuk pewarnaan benang tenun. Di antaranya seperti kulit mahoni, kulit dan daun mangga, mengkudu, daun jati, daun jambu, buah pinang, kemiri, kayu secang, loba, dan akar-akar kayu lokal lainnya.

Bahan-bahan tersebut kemudian diolah untuk mengeluarkan warnanya. Ada dua metode yang digunakan, yakni hot process atau proses panas dan cool process atau proses dingin. Hot process digunakan untuk kulit atau akar-akar kayu yang sangat keras dan caranya direbus, sedangkan cool process dilakukan dengan merendam bahan-bahan lunak atau difermentasi selama minimal dua pekan.

Warna yang keluar nantinya tergantung pada kondisi bahan. Meski dari kulit pohon yang sama, hasilnya bisa berbeda. Misalnya pada mahoni, beda pohon, beda usia pohon, beda ketebalan kulit, beda waktu panen itu berpengaruh dengan warnanya.

Setelah warna diekstrak dan dipastikan tidak mengeluarkan warna lagi, kayu-kayu tersebut kemudian dikeringkan atau dijemur dan dijadikan kayu bakar. Abu dari kayu bakar dipakai lagi untuk mencuci benang. "Jadi tidak ada yang tidak ada limbah di sini," tutur Ney.

Selanjutnya, Ney mengajak penulis untuk melihat proses pembuatan tenun yang dilakukan ibu-ibu, serta masuk ke dalam ruang koleksi. Di sana terdapat beberapa kain tenun yang sudah jadi dengan berbagai motif dan saat dipegang teksturnya sangat halus. Di bagian depan juga ada toko yang menjual tenun buatan Rumah Baku Peduli. Ada lembaran kain, selendang, syal, gelang, hingga baju yang sudah jadi.

Untuk mengikuti wisata edukasi ini, kamu wajib melakukan reservasi ke nomor WhatsApp 0812 3797 4485. Harganya mulai dari Rp25 ribu-Rp260 ribu per orang, tergantung paket dan aktivitas yang diikuti.

Menjelajahi destinasi wastra Manggarai bukan sekadar liburan biasa, melainkan momen untuk lebih mengenal keindahan tenun atau songke yang sarat makna. Jadi, tunggu apa lagi? Segera agendakan perjalananmu ke Manggarai dan bawa pulang cerita seru tentang wastra di sana, ya!

Curated For You

Editorial Team

Related Article