Destinasi daratan yang pertama adalah Parapuar. Tempat ini dikembangkan oleh Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores (BPOLBF) dan berada di titik tertinggi Labuan Bajo, yakni sekitar 321 meter di atas permukaan laut. Wisatawan yang berkunjung ke sini dapat menyaksikan keindahan pantai, perkotaan, dan pulau-pulau cantik di sekitarnya.
Saat Gelombang Tinggi, 7 Destinasi Daratan Labuan Bajo Ini Jadi Andalan

Saat cuaca laut Labuan Bajo kurang bersahabat, terutama November–Maret, wisatawan dapat memilih destinasi daratan di Labuan Bajo dan Flores Barat sebagai alternatif liburan.
Pilihan wisata mencakup Parapuar, Waerebo, Kampung Todo, Delawa Coffee, dan Lingko Lodok Cancar, yang menawarkan panorama, budaya Manggarai, edukasi kopi, serta sawah berbentuk sarang laba-laba.
Wae Lolos menyajikan trekking air terjun dan kolam alami, sedangkan Warloka Pesisir menawarkan aktivitas pesisir, homestay, kuliner lokal, serta edukasi dan penanaman mangrove.
Labuan Bajo identik sebagai destinasi wisata bahari. Terletak di Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, kawasan ini menawarkan deretan pantai yang indah, pulau-pulau eksotis, dan pemandangan alam bawah air yang memesona. Wisatawan yang datang ke Labuan Bajo umumnya ingin menjelajahi beragam keindahan alam tersebut.
Namun, tak jarang rencana tersebut meleset. Kondisi alam yang kurang bersahabat, cuaca ekstrem, dan tingginya gelombang bisa menjadi penghalang untuk menjelajahi wilayah perairan Labuan Bajo. Hal ini biasanya terjadi pada bulan November hingga Maret setiap tahunnya.
Namun, tak perlu khawatir! Daratan Labuan Bajo dan wilayah Flores bagian barat memiliki deretan destinasi menakjubkan yang bisa menjadi alternatif liburan seru. Kamu bisa mengunjungi desa adat, kawasan perbukitan hijau, air terjun tersembunyi, hingga area persawahan.
IDN Times pun berkesempatan menjelajahi beberapa destinasi wisata daratan Labuan Bajo pada Senin-Jumat, 12-16 Oktober 2026. Acara bertajuk "Perjalanan Wisata Pengenalan (Familiarization Trip)" ini diinisiasi Kementerian Pariwisata Republik Indonesia dan Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores (BPOLBF) dengan tujuan mendorong wisatawan untuk berkunjung ke destinasi daratan di Labuan Bajo dan beberapa wilayah di Flores.
Penasaran di mana saja tempatnya? Yuk, simak rekomendasi destinasi wisata daratan di Labuan Bajo dan Flores berikut yang bisa dikunjungi saat gelombang tinggi!
Table of Content
1. Parapuar

Potret kegiatan yoga di Parapuar, Labuan Bajo, Manggarai Barat, NTT (IDN Times/Fasrinisyah Suryaningtyas) Dalam Bahasa Manggarai, Parapuar berasal dari kata "para" yang berarti pintu atau gerbang dan "puar" yang berarti hutan. Menurut Kepala Divisi Pemasaran Nusantara BPOLBF, Didimus Estanto Turuk, pemilihan nama Parapuar ini sesuai dengan konsep yang sedang dikembangkan oleh BPOLBF.
"Ini gerbang menuju ke hutan. Jadi, konsepnya memang membangun di dalam hutan. Konsep ini mau kita dorong sebagai pembeda dari konsep pembangunan Labuan Bajo secara keseluruhan yang biasanya offshore di pinggir pantai," ujar Didimus kepada IDN Times di Parapuar pada Senin (12/10/2026).
Nantinya, Parapuar akan dikembangkan sebagai destinasi wellness dan holistik yang berkelanjutan, dan harmoni dengan alam. Untuk saat ini, wisatawan bisa melakukan beragam aktivitas seru di Parapuar, mulai dari menikmati matahari terbit (sunrise) dan terbenam (sunset), yoga melalui event Flow and Glow, trekking, bird watching, live music dalam acara PENTAS x Weekend at Parapuar, dan masih banyak lagi yang lainnya.
Lokasi Parapuar ini cukup mudah dijangkau. Dari Bandara Komodo, jaraknya sekitar 4,3 kilometer atau 11 menit. Wisatawan yang baru landing di bandara tersebut bisa langsung ke Parapuar dengan naik taksi atau sewa kendaraan. Sementara itu, dari pusat bisnis (area Kampung Ujung), Parapuar bisa ditempuh dalam waktu 12-15 menit.
2. Desa Waerebo

Potret Desa Waerebo di Manggarai, Nusa Tenggara Timur (IDN Times/Fasrinisyah Suryaningtyas) Siapa, sih, yang gak kenal dengan Desa Waerebo? Desa adat yang terletak wilayah Satar Lenda, Kecamatan Satar Mese Barat, Kabupaten Manggarai ini sudah mendunia. Selain menikmati keindahan dan suasana desanya yang asri, wisatawan lokal dan mancanegara berbondong-bondong datang ke sini juga bisa belajar tentang budaya dan kearifan lokal yang dijaga secara turun-temurun selama ratusan tahun.
Untuk menuju ke Desa Waerebo, wisatawan harus menempuh perjalanan dari Labuan Bajo menuju basecamp atau Tourist Information Center (TIC) di Satar Lenda selama kurang lebih empat jam. Di basecamp inilah petugas akan mengecek reservasi dan pembayaran. Ada pun biaya kunjungan ke Waerebo sebesar Rp325 ribu per orang jika menginap dan Rp200 ribu jika tidak menginap.
Perjalanan dilanjutkan menuju ke tempat parkir dan Pos 1 Wae Lomba. Ada tujuh pos yang harus dilalui wisatawan dengan kondisi trek beragam, mulai dari menanjak, berbatu, tanah, landai, hingga menurun. Sementara itu, durasi trekking-nya sekitar 3-4 jam, tergantung kondisi fisik masing-masing. Sepanjang perjalanan, wisatawan akan disuguhi pemandangan hijau dan suara aliran air sungai, serta berjumpa dengan monyet dan beberapa spesies burung.
Setibanya di Waerebo, wisatawan wajib mengikuti upacara adat untuk meminta izin kepada leluhur, agar diberi kelancaran dan keselamatan. Selanjutnya, suguhan kopi dan teh siap menghangatkan badan di tengah cuaca yang dingin. Pada malam harinya, pengelola mengadakan acara story telling tentang sejarah dan perjalanan Desa Waerebo, kemudian ditutup dengan makan malam bersama.
Wisatawan yang menginap akan tidur bersama wisatawan lain di dalam rumah-rumah tradisional. Sudah tersedia kasur, bantal, dan selimut hangat untuk masing-masing orang. Tersedia pula beberapa kamar mandi dan toilet yang bersih.
Keesokan harinya, matahari muncul agak "terlambat," karena posisi desa yang berada di lembah dan dikelilingi perbukitan. Wisatawan bisa stand by di area pemakaman desa atau di dekat perpustakaan yang posisinya di atas bukit untuk mengambil foto dan menanti matahari terbit.
3. Kampung Adat Todo

Kampung Adat Todo di Manggarai, Nusa Tenggara Timur (IDN Times/Fasrinisyah Suryaningtyas) Selain Desa Waerebo, ada desa lainnya adat di Manggarai yang wajib masuk bucket list liburanmu, namanya Kampung Adat Todo. Berlokasi sekitar 42 kilometer dari Ruteng, ibu kota Manggarai, kampung ini dulunya merupakan pusat kerajaan Manggarai. Untuk mencapai tempat ini, kamu tidak perlu trekking seperti di Waerebo, karena lokasinya berada di tengah perkampungan warga.
Sebelum memasuki Kampung Todo, wisatawan wajib mengenakan pakaian adat setempat berupa sarung tenun berwarna merah, selendang, dan aksesori kepala. Laki-laki mengenakan penutup kepala atau peci re'a, sedangkan perempuan mengenakan ikat kepala atau retu. Harga sewa satu set pakaian ini sebesar Rp80 ribu.
Selanjutnya, wisatawan akan diajak menelusuri jalan kampung dan naik ke tangga batu menuju ke rumah utama atau Niang Mbowang yang terbuat dari ijuk dan kayu. Di sana, tetua adat sudah duduk bersila di atas tikar pandan untuk menyambut tamu yang datang dan memimpin upacara adat untuk menyambut wisatawan. Upacara tersebut diucapkan dalam Bahasa Manggarai, kemudian diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh pemandu wisata.
Setelah upacara selesai, wisatawan akan disuguhi segelas kopi manggarai atau teh panas sebagai tanda penyambutan dan penerimaan di Kampung Todo. Di dalam rumah Niang Mbowang tersebut, terdapat dapur yang digunakan untuk memasak, gendang, dan satu set alat caci. Caci sendiri merupakan permainan adu ketangkasan dengan menggunakan koret (cambuk yang terbuat dari rotan) dan nggiling (perisai bundar dari kulit kerbau).
Keluar dari Niang Mbowang, wisatawan diajak untuk melihat kompleks tersebut. Di sana terdapat sembilan rumah Mbaru Niang yang berdiri kokoh, tetapi sebagian besar tidak dihuni masyarakat dan hanya berfungsi untuk kegiatan adat. Di bagian tengah halaman, terdapat compang atau semacam altar untuk berbagai ritual, beberapa makam tokoh adat, dan sebuah menhir.
Tepat di samping Niang Mbowang terdapat lapak yang menjual berbagai tenun buatan tangan kreatif perempuan Todo. Tenun tersebut berupa sarung, selendang, hiasan kepala, hingga gelang. Wisatawan bisa membelinya dengan harga mulai dari Rp10 ribu untuk gelang dan Rp50 ribu-Rp100 ribu untuk selendangnya.
4. Delawa Coffee

Potret Delawa Coffee di Ruteng, Manggarai, Nusa Tenggara Timur (IDN Times/Fasrinisyah Suryaningtyas) Kamu pencinta kopi dan ingin menikmati beragam kopi khas Manggarai? Cobalah berkunjung ke Delawa Coffee! Berlokasi di Kelurahan Waso, Kecamatan Langke Rembong, Manggarai, tempat ini merupakan rumah produksi dan UMKM specialty coffee yang sangat populer dan menghasilkan kopi terbaik.
Delawa Coffee ini lahir dari keresahan pemuda asal Waso, Ireneus Gratia Sandur. Pada tahun 2022, ia menemukan fakta bahwa nilai atau harga kopi di wilayah Waso ini sangat rendah dibanding kopi dari daerah lain di Flores.
"Berangkat dari situasi seperti itu, saya sebagai anak muda orang Waso jadi berinisiatif untuk bagaimana caranya keluar dari situasi ini dan meningkatkan nilai kopi. Pergerakannya mulai dari kita edukasi petani. Jadi tetap berjalan sampai sekarang step by step," ujar Irene (sapaan akrabnya) kepada IDN Times di rumah produksi Delawa Coffee, Manggarai, pada Kamis (15/10/2026).
Proses tersebut dimulai dari dari hulu (kebun kopi) hingga ke proses pascapanen. Irene memanfaatkan relasi yang ia miliki dan kapasitasnya masih sangat kecil. Awalnya, ia dan tim Delawa Coffee mendampingi dari 15 Kepala Keluarga (KK), kemudian berkembang lagi menjadi 20 KK dan sekarang ada 45 KK atau sekitar 3,5 hektare dengan lokasi yang menyebar.
"Kita berpikir bagaimana cara makanya kopi ini bisa terjual, sehingga kita berinovasi lagi untuk membuat produk kemasan (kopi) seperti ini," tuturnya.
Melihat potensi kopi yang ada di Waso, wisatawan asing mulai berdatangan ke kebun dan hal ini rupanya memotivasi para petani untuk lebih giat memproduksi kopi. Irena dan tim Delawa Coffee pun mulai mencoba untuk wisata edukasi kopi secara percuma kepada wisatawan yang datang ke sana (memberikan sirih pinang atau sumbangan seikhlasnya kepada petani).
Wisatawan akan diajak untuk melihat kebun kopi, berinteraksi dengan petani, belajar tentang beragam jenis kopi unggulan Waso dan Flores, melihat proses penjemuran dan penggilingan kopi yang dilakukan secara manual, hingga penyeduhan kopi.
Jika kamu ingin membawa pulang sebagai oleh-oleh, Delawa Coffee menyediakan beragam jenis biji dan bubuk kopi siap olah. Mulai dari arabika, robusta, dan arabusta (gabungan keduanya). Khusus untuk arabika, ada dua produk unggulan yang tak boleh dilewatkan, yakni yellow caturra dan juria.
5. Lingko Lodok Cancar

Potret Lingko Lodok Cancar di Manggarai, Nusa Tenggara Timur (IDN Times/Fasrinisyah Suryaningtyas) Selain kampung adat dengan rumah Mbaru Niang dan kopi yang autentik, ada satu lagi ikon pariwisata Manggarai yang wajib dikunjungi, namanya Lingko Lodok Cancar. Sekilas, tempat ini seperti area persawahan biasa. Namun, kalau dilihat lebih dekat, sawah ini memiliki bentuk unik seperti sarang laba-laba.
Dalam sistem bermasyarakat di Manggarai, lingko merupakan tanah dari suatu kampung yang dimiliki satu garis keturunan atau keluarga. Sementara itu, lodok adalah titik awal pada saat membagi tanah dan terletak di tengah area tanah. Tanah tersebut dibagi dari satu titik pusat, kemudian ditarik garis lurus sehingga membentuk segitiga yang memanjang seperti jaring laba-laba.
Lingko Lodok Cancar merupakan salah satu area persawahan yang mendunia dan terletak di wilayah Cancar, Kelurahan Wae Belang, Kecamatan Ruteng, Manggarai, sekitar 17 kilometer dari pusat Kota Ruteng. Untuk dapat menikmati pemandangan sawah ini, wisatawan harus membayar tiket sebesar Rp10 ribu per orang dan trekking ke atas bukit selama 5-10 menit. Di bagian puncaknya terdapat titik pengamatan atau viewpoint untuk melihat keindahannya.
6. Desa Wisata Wae Lolos

Potret Air Terjun Cunca Plias di Desa Wisata Wae Lolos, Manggarai, Nusa Tenggara Timur (IDN Times/Fasrinisyah Suryaningtyas) Berbeda dengan Waerebo dan Todo yang menonjolkan kebudayaan, Desa Wisata Wae Lolos ini lebih dikenal karena memiliki banyak air terjun hingga dijuluki sebagai Village of a Thousand Waterfalls (Desa Seribu Air Terjun). Berlokasi di Kecamatan Sano Nggoang, Manggarai Barat, desa ini dapat ditempuh dalam waktu satu jam saja dari Labuan Bajo.
Sebelum bermain di air terjun, wisatawan yang datang dengan rombongan akan diajak untuk mengikuti upacara penyambutan khas masyarakat Manggarai, seperti yang dilakukan di Waerebo dan Todo. Para tetua adat akan hadir dan menyambut tamu, serta menyajikan kopi manggarai.
Selanjutnya, wisatawan akan diajak trekking menuruni lembah dan melihat satu per satu air terjun. Ada Cunca Plias 1, Cunca Plias 2, Cunca Ri'i, Tiwu Galong, Cunca Liang Langgo, Cunca Wongka, Cunca Lolos, dan Kolam Atas Awan.
Salah satu spot yang menjadi favorit wisatawan adalah Kolam Atas Awan atau infinity pool alami yang berada di ketinggian 70 meter. Di kolam tersebut, wisatawan dapat berenang sembari menyaksikan pemandangan hutan tropis yang rimbun dan menikmati suasana yang sejuk.
Untuk dapat menikmati semua keindahan alam yang ditawarkan di Desa Wisata Wae Lolos ini, wisatawan lokal (NTT) hanya perlu merogoh kocek sebesar Rp5.000. Sedangkan, wisatawan domestik dan mancanegara sebesar Rp10 ribu. Murah meriah, bukan?
7. Desa Warloka Pesisir

Potret kegiatan menanam mangrove di Desa Warloka Pesisir, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (Dok. Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores) Belum lengkap rasanya kalau ke Labuan Bajo, tetapi tidak meninggalkan "jejak" yang bermanfaat untuk lingkungan. Untuk itu, wisatawan bisa mengunjungi Desa Warloka Pesisir di Teluk Warloka, Kecamatan Komodo, Manggarai Barat. Desa ini dihuni oleh masyarakat Bima, Bajo, dan Manggarai. Aktivitas mereka selalu berkaitan erat dengan laut dan perikanan.
Selain menikmati bentang alam pesisir, wisatawan yang berkunjung ke sini dapat mengikuti berbagai aktivitas rekreasi, edukasi, dan interaksi bersama masyarakat. Di antaranya seperti trekking ke situs Batu Meja, Bukit Anjungan yang menyuguhkan panorama permukiman Warloka Pesisir, menginap di homestay, menikmati kuliner lokal, hingga menyaksikan aktivitas pasar tradisional yang berlangsung setiap Selasa pagi.
Satu lagi kegiatan seru yang akan memberikan pengalaman berharga, yakni pengenalan ekosistem mangrove dan penanaman bibit bersama komunitas setempat. Kegiatan tersebut memberikan kesempatan kepada wisatawan untuk memahami fungsi ekologis mangrove, termasuk perannya dalam menjaga ekosistem pesisir.
Untuk bisa mengikuti beragam kegiatan di sini, wisatawan akan dikenakan biaya Rp600 ribu (3-4 jam) dan Rp800 ribu (6-7 jam) ribu, serta Rp1,5 juta jika menginap di homestay. Harga tersebut sudah termasuk makan, snack, minuman, tiket masuk destinasi wisata, pemandu wisata berlisensi, dan bibit mangrove.
Nah, sekarang kamu sudah gak bingung lagi kalau kamu sudah terlanjur tiba di Labuan Bajo, tetapi gelombang laut sedang tinggi, sehingga tidak bisa berlayar ke laut. Kamu bisa mengunjungi beberapa alternatif destinasi wisata daratan seru di sekitarnya. Selamat bertualang di Labuan Bajo!























