Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Dilema Pemerintah Jepang dalam Memajukan Sektor Pariwisata

Dilema Pemerintah Jepang dalam Memajukan Sektor Pariwisata
Nara Park, Jepang (pexels.com/Nguyễn Thanh Tùng)
Intinya Sih
  • Pemerintah Jepang menargetkan 60 juta wisatawan asing per tahun pada 2030 dengan berbagai program promosi dan insentif untuk mendorong pertumbuhan ekonomi di seluruh daerah.
  • Kebijakan subsidi transportasi seperti tiket Shinkansen gratis di Kagoshima memicu kritik warga yang menilai penggunaan dana publik untuk turis asing tidak adil.
  • Beberapa daerah seperti Nara dan Shimane mulai menghapus fasilitas khusus bagi turis asing, sementara pemerintah berupaya mencari keseimbangan antara manfaat ekonomi dan dukungan masyarakat lokal.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Jepang sedang berupaya besar-besaran untuk menarik lebih banyak wisatawan mancanegara. Pemerintah pusat bahkan menargetkan puluhan juta turis asing agar berkunjung ke negara tersebut dalam beberapa tahun ke depan.

Pemerintah daerah pun ikut meluncurkan program promosi untuk meningkatkan jumlah wisatawan internasional. Mulai dari subsidi transportasi hingga potongan biaya masuk ke objek wisata, beragam insentif disiapkan untuk membuat Jepang semakin menarik di mata pelancong asing.

Akan tetapi, tidak semua warga Jepang menyambut kebijakan tersebut dengan antusias. Sebagian masyarakat justru mempertanyakan apakah pemberian berbagai keuntungan khusus kepada turis asing merupakan langkah yang adil.

1. Jepang sedang gencar mengejar wisatawan mancanegara

Jepang
Jepang (pexels.com/elder®)

Pariwisata menjadi salah satu sektor yang sangat penting bagi perekonomian Jepang. Setelah pandemik COVID-19 mereda, pemerintah berupaya mengembalikan jumlah wisatawan asing sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi di berbagai daerah. Bukan hanya kota besar seperti Tokyo dan Osaka, wilayah lain juga didorong untuk ikut menikmati manfaat dari sektor pariwisata.

Pemerintah Jepang juga berusaha menyebarkan arus wisatawan ke daerah-daerah yang selama ini kurang dikenal oleh turis internasional. Langkah tersebut dilakukan agar manfaat ekonomi gak hanya terkonsentrasi di destinasi populer. Berbagai program promosi pun dikembangkan oleh pemerintah daerah untuk menarik perhatian wisatawan dari luar negeri.

Upaya tersebut sejalan dengan strategi nasional Jepang yang menargetkan 60 juta wisatawan asing per tahun pada 2030. Untuk mencapai sasaran tersebut, pemerintah pusat mendorong berbagai daerah agar lebih aktif menarik kunjungan wisatawan internasional ke wilayah masing-masing. Karena itu, banyak pemerintah daerah mulai menawarkan berbagai kemudahan yang diharapkan dapat membuat wisatawan tertarik datang dan menghabiskan lebih banyak waktu di wilayah mereka.

2. Kagoshima menawarkan subsidi kereta bagi turis asing

ilustrasi kereta cepat Shinkansen
ilustrasi kereta cepat Shinkansen (pexels.com/Zain Abba)

Salah satu contoh kebijakan yang menarik perhatian datang dari Prefektur Kagoshima. Pemerintah daerah setempat meluncurkan program subsidi penuh tiket Shinkansen bagi wisatawan asing yang melakukan perjalanan dari Stasiun Hakata di Prefektur Fukuoka menuju Kagoshima. Nilai bantuan tersebut mencapai sekitar 10.000 yen Jepang atau kurang lebih Rp1,1 juta untuk perjalanan satu arah.

Program ini dirancang untuk memperkenalkan Kagoshima kepada wisatawan dari negara-negara yang belum memiliki penerbangan langsung ke wilayah tersebut. Pemerintah berharap keberadaan kereta cepat dapat menjadi alternatif transportasi yang mudah dan nyaman bagi para pelancong internasional. Harapannya, jumlah kunjungan wisatawan asing ke Kagoshima bisa kembali meningkat seperti sebelum pandemi.

Menurut pemerintah daerah, tujuan utama kebijakan tersebut adalah memperkuat daya tarik pariwisata dan mendorong pertumbuhan ekonomi lokal. Kehadiran wisatawan asing dianggap mampu membantu sektor perhotelan, restoran, transportasi, serta berbagai usaha kecil yang bergantung pada aktivitas wisata. Selain itu, peningkatan jumlah pengunjung diharapkan dapat menciptakan efek ekonomi berantai yang menguntungkan berbagai sektor pendukung lainnya.

3. Banyak warga mempertanyakan penggunaan dana publik

Kagoshima, Jepang
Kagoshima, Jepang (unsplash.com/Winged Jedi)

Meski memiliki tujuan ekonomi yang jelas, kebijakan di Kagoshima ternyata menuai kritik dari sebagian masyarakat. Sekitar satu bulan setelah program diumumkan, pemerintah daerah menerima ratusan keluhan dari warga. Banyak di antara mereka mempertanyakan alasan penggunaan dana publik untuk memberikan keuntungan khusus kepada wisatawan asing.

Sebagian warga menilai kebijakan tersebut menciptakan perlakuan yang berbeda antara turis asing dan masyarakat lokal. Ada pula yang mengaku gak nyaman jika uang pajak digunakan untuk membiayai perjalanan wisatawan dari luar negeri. Kritik tersebut kemudian berkembang menjadi perdebatan yang cukup ramai di media sosial.

Fenomena ini muncul ketika Jepang juga menghadapi tantangan baru akibat meningkatnya jumlah wisatawan internasional. Di sejumlah wilayah, warga mulai menyuarakan kekhawatiran terkait kepadatan destinasi wisata, perubahan lingkungan sekitar, hingga tekanan terhadap fasilitas publik. Kondisi tersebut membuat sebagian masyarakat semakin sensitif terhadap kebijakan yang dianggap terlalu memprioritaskan wisatawan asing.

4. Sejumlah daerah mulai menghapus fasilitas khusus

Nara, Jepang
Nara, Jepang (unsplash.com/Koon Chakhatrakan)

Kontroversi serupa ternyata tidak hanya terjadi di Kagoshima. Prefektur Nara sebelumnya pernah memberikan akses masuk gratis bagi wisatawan asing ke beberapa fasilitas milik pemerintah daerah, termasuk museum seni prefektur. Program tersebut sudah berlangsung sejak 2008 sebagai bagian dari promosi wisata internasional.

Namun, kebijakan itu dihentikan pada April 2024 setelah muncul kritik dari masyarakat. Banyak warga mempertanyakan alasan pemberian fasilitas gratis yang hanya berlaku bagi wisatawan asing. Pemerintah daerah akhirnya memutuskan untuk mengakhiri program tersebut karena dinilai sulit memperoleh dukungan publik.

Perubahan kebijakan juga terlihat di Prefektur Shimane. Pada tahun fiskal 2019, terdapat 33 fasilitas wisata yang menawarkan diskon khusus bagi wisatawan mancanegara. Akan tetapi, sejak 2023, beberapa fasilitas mulai menghentikan program tersebut setelah muncul kritik mengenai perlakuan istimewa terhadap pengunjung asing.

Meski demikian, sejumlah destinasi populer masih mempertahankan potongan harga karena dianggap efektif untuk mendukung sektor pariwisata. Situasi ini menunjukkan bahwa setiap daerah memiliki pendekatan yang berbeda dalam menyeimbangkan kebutuhan ekonomi dan aspirasi masyarakat setempat. Perdebatan mengenai kebijakan tersebut diperkirakan akan terus berlanjut seiring meningkatnya jumlah wisatawan asing yang datang ke Jepang.

5. Pemerintah berusaha mencari jalan tengah

Shimane, Jepang
Shimane, Jepang (commons.wikimedia.org/663highland)

Di tengah kritik yang muncul, pemerintah daerah tetap berupaya mengembangkan sektor pariwisata. Shimane, misalnya, meluncurkan program yang memangkas tarif bus antarkota antara Osaka dan Shimane menjadi sekitar 2.000 yen Jepang atau setara Rp220.000. Program tersebut dikaitkan dengan momentum Expo Osaka yang diharapkan mendatangkan lebih banyak wisatawan.

Pemerintah berharap wisatawan yang datang ke Osaka juga tertarik mengunjungi daerah-daerah lain di Jepang. Strategi ini menjadi bagian dari upaya untuk mendistribusikan manfaat ekonomi pariwisata secara lebih merata. Daerah-daerah yang selama ini kurang populer diharapkan bisa memperoleh lebih banyak kunjungan wisatawan.

Meski begitu, pemerintah juga menyadari pentingnya mendapatkan dukungan masyarakat lokal. Berbagai kebijakan promosi wisata kemungkinan akan terus dievaluasi untuk memastikan manfaatnya benar-benar dirasakan oleh daerah setempat. Keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan kepentingan warga menjadi tantangan utama yang harus dihadapi.

Perdebatan mengenai keistimewaan bagi turis asing menunjukkan bahwa pengembangan pariwisata gak selalu berjalan tanpa hambatan. Pemerintah Jepang dan berbagai pemerintah daerah memang melihat sektor wisata sebagai mesin pertumbuhan ekonomi yang penting. Akan tetapi, sebagian warga berharap kebijakan yang diterapkan tetap memperhatikan rasa keadilan bagi masyarakat lokal.

Ke depan, keberhasilan program promosi wisata kemungkinan gak hanya ditentukan oleh jumlah turis yang datang, tapi juga oleh kemampuan pemerintah untuk menjaga dukungan publik terhadap kebijakan tersebut. Bagaimana menurutmu?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Naufal Al Rahman
EditorNaufal Al Rahman

Related Articles

See More