Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Mengenal 5 Gunung 'Purba' di Indonesia, Terasa Seperti Lorong Waktu!

Mengenal 5 Gunung 'Purba' di Indonesia, Terasa Seperti Lorong Waktu!
ilustrasi Gunung Nglanggeran (wikimedia.org/JV06Nofi Andari)
Intinya Sih
  • Artikel mengenalkan lima gunung purba di Indonesia yang terbentuk sejak jutaan tahun lalu, menawarkan keindahan alam, ketenangan, dan ekosistem hutan tropis yang masih alami.
  • Gunung-gunung seperti Latimojong, Arfak, Nglanggeran, Binaiya, dan Rajabasa memiliki karakteristik unik mulai dari hutan lumut lebat hingga formasi batu karst dan panorama laut.
  • Penulis menekankan pentingnya menjaga kelestarian lingkungan serta menghormati kearifan lokal karena banyak gunung purba dianggap sakral oleh masyarakat sekitar.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Indonesia tidak hanya dikenal dengan deretan gunung berapi aktifnya yang megah, tetapi juga menyimpan kekayaan geologi berupa gunung-gunung purba yang telah terbentuk sejak jutaan tahun silam. Berbeda dengan gunung berapi muda yang puncaknya didominasi oleh pasir dan kawah terbuka, gunung purba biasanya memiliki karakteristik berupa hutan hujan tropis yang sangat lebat dengan vegetasi yang tampak sangat tua.

Pepohonan besar yang diselimuti lumut tebal, suara fauna endemik yang langka, serta kabut yang senantiasa menyelimuti jalur pendakian menciptakan atmosfer yang sangat magis. Keberadaannya yang terisolasi membuat ekosistem di dalamnya tetap terjaga kemurniannya dari campur tangan manusia selama berabad-abad. Yuk, siapkan perlengkapanmu dan mari kita jelajahi lima gunung purba di Indonesia yang menawarkan pengalaman pendakian paling berkesan!

1. Gunung Latimojong (Sulawesi Selatan)

Gunung Latimojong
ilustrasi Gunung Latimojong (wikimedia.org/Hamka Rasufit)

Melansir Kementerian Pariwisata, Gunung Latimojong merupakan titik tertinggi di Pulau Sulawesi dengan puncak tertingginya, Rante Mario, yang berada di ketinggian 3.478 mdpl. Gunung ini dikategorikan sebagai gunung purba karena merupakan bagian dari formasi geologi non-vulkanik yang sudah ada jauh sebelum gunung-gunung api di Jawa terbentuk.

Latimojong memiliki hutan jenis montane bawah yang sangat luas, di mana kamu akan menemukan pohon-pohon yang cabangnya saling melilit membentuk kanopi alami yang rapat. Pendakian di sini sangat eksotis karena kamu akan melewati jalur yang penuh dengan akar-akar besar dan bebatuan tua yang permukaannya sudah tertutup lumut hijau tebal. Ketenangannya sangat terasa karena jalurnya yang relatif sepi, memberikan ruang bagi pendaki untuk benar-benar mendengarkan suara alam dari hutan purba yang legendaris ini.

2. Gunung Arfak (Papua Barat)

Gunung Arfak
ilustrasi Gunung Arfak (wikimedia.org/David Worabay)

Berada di ujung timur Indonesia, Pegunungan Arfak adalah rumah bagi biodiversitas yang sangat tua dan unik, dengan puncak tertinggi mencapai 2.940 mdpl. Melansir laman Papua Expedition, gunung ini dikenal sebagai laboratorium alam bagi para peneliti dunia karena menyimpan spesies burung cendrawasih dan tanaman yang tidak ditemukan di tempat lain di muka Bumi.

Gunung Arfak terletak pada hutannya yang lembap dan gelap, menciptakan suasana misterius seolah-olah kamu sedang berada di dunia film fantasi. Pendakian di Arfak bukan sekadar menaklukkan ketinggian, melainkan sebuah ekspedisi melewati hutan lumut purba yang vegetasinya masih sangat padat dan belum banyak terjamah. Ketenangan di sini sangat absolut, di mana satu-satunya suara yang akan kamu dengar adalah kicauan burung pintar pembuat sarang, yakni Burung Namdur (Bowerbird), yang menghuni lerengnya.

3. Gunung Nglanggeran (D.I. Yogyakarta)

Gunung Nglanggeran
ilustrasi Gunung Nglanggeran (wikimedia.org/Pulungadi)

Jika kamu mencari gunung purba yang lebih ramah untuk durasi pendakian singkat, Gunung Nglanggeran di Gunungkidul adalah pilihan yang paling tepat. Melansir Dinas Pariwisata Gunung Kidul, gunung ini merupakan gunung api purba yang aktif sekitar 60–70 juta tahun yang lalu, tapi kini sudah mati dan menyisakan jajaran bongkahan batu raksasa yang sangat ikonik.

Puncak Nglanggeran dulunya berada di dasar laut sebelum akhirnya terangkat ke permukaan akibat aktivitas tektonik jutaan tahun silam. Mendaki di sini memberikan vibe petualangan di tengah labirin batu raksasa yang tersusun secara alami dengan lorong-lorong sempit yang menantang. Meskipun tidak terlalu tinggi, ketenangan yang ditawarkan di area puncaknya sangat syahdu, terutama saat matahari terbenam menyinari hamparan perbukitan hijau di sekelilingnya.

4. Gunung Binaiya (Maluku)

Gunung Binaiya
ilustrasi Gunung Binaiya (wikimedia.org/Gekko Studio)

Gunung Binaiya yang terletak di Pulau Seram merupakan gunung purba non-vulkanik yang memiliki keragaman ekosistem mulai dari pesisir hingga hutan pegunungan yang ekstrem. Dengan ketinggian 3.027 mdpl, Binaiya menawarkan jalur pendakian yang melintasi hutan hujan tropis tertua di kawasan Wallacea yang sangat kaya akan flora dan fauna endemik.

Melansir laman Explore Desa, karakteristik unik gunung ini adalah jalur pendakiannya yang didominasi oleh batuan karst tajam yang terbentuk dari proses geologi selama jutaan tahun. Pendakiannya terasa sangat menantang dan liar, di mana kamu harus melewati hutan-hutan yang jarang dilalui manusia dengan pohon-pohon berukuran raksasa. Ketenangan di Binaiya memberikan kesan isolasi yang mendalam, membuat pendaki merasa benar-benar terputus dari dunia luar dan bersatu dengan kemurnian alam Maluku yang sangat terjaga.

5. Gunung Rajabasa (Lampung)

Gunung Rajabasa
ilustrasi Gunung Rajabasa (wikimedia.org/Adri45an)

Terletak di ujung selatan Pulau Sumatra, Gunung Rajabasa adalah gunung api purba yang memiliki struktur geologi yang sangat stabil dengan hutan lindung yang masih sangat asri. Dilansir laman Gunung Bagging, gunung setinggi 1.281 mdpl ini menawarkan jalur pendakian yang menantang dengan vegetasi yang didominasi oleh tanaman rotan dan pohon-pohon tropis besar yang usianya sudah sangat tua.

Keunikan dari Rajabasa adalah lokasinya yang berhadapan langsung dengan Selat Sunda, sehingga dari puncaknya kamu bisa melihat pemandangan laut yang luas sekaligus jajaran gunung berapi muda di sekitarnya. Lorong waktunya sangat terasa saat kamu memasuki area hutan lumut di dekat puncak, di mana suasana seketika menjadi sangat dingin dan lembap. Ketenangannya sangat cocok bagi pendaki yang ingin mencari privasi, karena gunung ini belum sepopuler gunung-gunung lain di Sumatra.

Keberadaan gunung-gunung ini merupakan solusi bagi para petualang yang ingin merasakan sisi liar dan autentik dari alam nusantara tanpa gangguan keramaian berlebih. Penting bagi setiap pendaki untuk menjaga etika lingkungan dan menghormati kearifan lokal, mengingat deretan gunung Indonesia ini dianggap sakral oleh masyarakat setempat.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Hella Pristiwa
EditorHella Pristiwa

Related Articles

See More