Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

5 Fakta Goa Gajah, Tempat Suci yang Penuh Kisah di Bali

5 Fakta Goa Gajah, Tempat Suci yang Penuh Kisah di Bali
Pemandangan udara bagian dalam Goa Gajah. (commons.wikimedia.org/Jpatokal)
  • Goa Gajah di Ubud adalah situs suci bersejarah yang digunakan untuk berdoa dan meditasi, dengan gua kuno serta area pemandian dari mata air yang dianggap sakral.
  • Situs ini memiliki pintu masuk berukir wajah menyeramkan untuk mengusir roh jahat dan kolam pemandian dengan patung-patung yang menyalurkan air ke kolam tenang di sekitarnya.
  • Pernah masuk Daftar Sementara Warisan Dunia UNESCO pada 1995, Goa Gajah kemudian dihapus pada 2015 agar tetap difokuskan sebagai tempat ibadah utama bagi masyarakat Bali.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Goa Gajah adalah salah satu situs paling suci di Bali. Terletak di dekat Ubud dan berada di pusat kawasan budaya Bali. Pura ini masih digunakan hingga saat ini dan banyak orang datang untuk berdoa di sana. Pengunjung sering datang untuk melihat gua kuno, sejarah, dan suasana tenangnya.

'Goa Gajah juga dikenal sebagai tempat pemandian terkenal dengan area perairan yang luas. Titik pertemuan sungai di dekat pura diyakini berasal dari mata air suci. Banyak orang menganggap air di sana sakral dan menggunakannya untuk membersihkan diri. Yuk, simak fakta unik tentang Goa Gajah berikut ini, guys!

  1. 1. Asal-usul Goa Gajah

    Pepohonan besar dengan akar menjalar di area Goa Gajah, Bali, dikelilingi tanaman hijau dan kain tradisional yang melilit batang pohon.
    potret pepohonan di dalam Goa Gajah (commons.wikimedia.org/Jakub Hałun)

    Dalam cerita rakyat setempat, Kebo Iwa dikatakan telah membuat Goa Gajah dengan tanda kuku jarinya. Namun, banyak orang percaya bahwa gua tersebut dipahat dari batu dan digunakan untuk berdoa dan meditasi. Meskipun "Goa Gajah" berarti "gua gajah", tidak ada gajah di sana. Beberapa orang berpendapat bahwa namanya berasal dari nama lama Sungai Petanu, yang disebut Lwa Gajah.

    FINNS Beach Club menyatakan bahwa Goa Gajah terlupakan selama bertahun-tahun sebelum para arkeolog Belanda menemukannya kembali pada tahun 1923. Awalnya, mereka tidak menemukan semua bagian situs. Air mancur dan kolam pemandian ditemukan kemudian pada tahun 1954. Penemuan ini membantu orang-orang mempelajari lebih lanjut tentang sejarah Goa Gajah.

  2. 2. Memiliki pintu masuk yang menyeramkan

    Pintu masuk Goa Gajah di Bali dengan ukiran batu kuno berbentuk wajah raksasa dan patung penjaga di kedua sisinya.
    potret pintu masuk Goa Gajah (commons.wikimedia.org/DerGenaue Allrounder)

    Bagian depan Goa Gajah memiliki ukiran besar yang menyerupai wajah menakutkan dengan mata lebar di atas pintu gua. Pintu masuknya terlihat seperti mulut terbuka, memberikan desain unik pada gua, lapor Atlas Obscura. Di sekeliling wajah terdapat ukiran yang menyerupai nyala api atau gelombang. Di kedua sisinya, terdapat patung-patung kecil makhluk-makhluk yang perlahan-lahan terkikis seiring berjalannya waktu.

    Banyak orang percaya bahwa wajah di pintu masuk dibuat untuk mengusir roh jahat. Pada tahun 1950-an, sebuah kolam pemandian besar ditemukan di dekatnya dengan patung-patung tinggi yang menuangkan air ke dalam kolam. Area yang tenang ini terlihat sangat berbeda dari pintu masuk gua yang menakutkan.

  3. 3. Sempat dimasukkan ke Daftar Sementara Warisan Dunia UNESCO

    Bangunan beratap tradisional dengan dinding bata merah dan kolam batu berlumut di kompleks Goa Gajah, dikelilingi pepohonan hijau.
    potret salah satu struktur di dalam Goa Gajah (commons.wikimedia.org/Jakub Hałun)

    Goa Gajah adalah salah satu situs warisan budaya penting di Bali. Pada tahun 1995, kuil ini ditambahkan ke Daftar Sementara Warisan Dunia UNESCO. Daftar ini tidak berarti Goa Gajah secara resmi menjadi Situs Warisan Dunia. Sebaliknya, ini adalah langkah sebelum mendapatkan pengakuan penuh UNESCO.

    Pada tahun 2015, Pemerintah Provinsi Bali menghapus Goa Gajah dari Daftar Sementara Warisan Dunia. Keputusan ini dibuat untuk melindungi peran utama situs sebagai tempat ibadah. Banyak warga Bali percaya bahwa kuil Hindu dan Buddha seharusnya terlebih dahulu melayani kebutuhan ibadah lokal. Mereka juga merasa bahwa Goa Gajah tidak seharusnya hanya menjadi tempat wisata bagi pengunjung dari seluruh dunia.

  4. 4. Bagian dalam Goa Gajah

    Tiga patung batu berlumut memancurkan air ke kolam di dalam kompleks Goa Gajah, dikelilingi dinding batu tua berlumut.
    potret kolam dan tiga patung di dalam Goa Gajah (commons.wikimedia.org/Aleksandr Zykov)

    Goa Gajah juga memiliki reruntuhan kuno di tenggara, dikenal sebagai kompleks Tukad Pangkung. Untuk membantu pengunjung, tangga dan jembatan dibangun melintasi Tukad Pangkung, sebut Bali Golden Tour. Dari jembatan, orang dapat menaiki anak tangga untuk melihat bagian dari patung Buddha kuno di tebing yang lebih tinggi. Sebelum menyeberangi jembatan, pengunjung juga dapat menemukan potongan batu berukir.

    Desain Goa Gajah berbeda dari kebanyakan pura di Bali. Banyak yang memiliki tiga area utama, tetapi Goa Gajah memiliki tata letak yang unik. Suasana sejuknya memberikan pengalaman damai bagi pengunjung. Orang-orang juga dapat melihat peninggalan kuno dari kepercayaan Hindu Siwa dan Buddha di satu tempat.

  5. 5. Buka selama 24 jam

    Taman hijau di dalam Goa Gajah dengan kolam berisi daun teratai, dikelilingi pepohonan tropis dan tebing berlumut di Bali.
    potret taman di dalam Goa Gajah (commons.wikimedia.org/Jakub Hałun)

    Goa Gajah buka sepanjang hari dan malam, seperti banyak pura di Bali. Namun, pengunjung yang bukan beragama Hindu disarankan untuk datang antara pukul 08.00—17.00. Jam-jam ini lebih baik untuk berwisata dan mengunjungi pura. Di luar itu, pengunjung masih boleh masuk, tetapi mereka juga bisa diminta untuk pergi.

    Biaya masuk Goa Gajah adalah Rp50.000 per orang. Terjangkau bagi sebagian besar pengunjung. Pembayaran ini juga berfungsi sebagai donasi untuk membantu perawatan situs. Adapun biaya tersebut sudah termasuk biaya parkir.

    Goa Gajah bukan hanya tempat bersejarah, tetapi juga situs suci dengan makna budaya kuat di Bali. Sejarah yang panjang dan peninggalan kuno menjadikannya cocok untuk mempelajari budaya dan warisan Bali.

    FAQ Seputar Fakta Goa Gajah

    Bagaimana bentuk arsitektur lorong di bagian dalam Goa Gajah?

    Bagian dalam gua sebenarnya berbentuk huruf T dengan ukuran yang cukup sempit, yaitu tinggi sekitar 2 meter dan lebar 2 meter. Di sepanjang dinding lorong terdapat ceruk-ceruk atau lekukan batu yang dulunya digunakan sebagai tempat bertapa atau meditasi.

    Patung atau arca apa saja yang bisa ditemukan langsung di ujung lorong dalam gua?

    Di ujung lorong sebelah barat, Anda akan menemukan Arca Ganesha (dewa berkepala gajah dalam mitologi Hindu). Sementara itu, di ujung lorong sebelah timur terdapat tiga buah Lingga (simbol Dewa Siwa) yang dikelilingi oleh beberapa lingga berukuran lebih kecil.

    Apa makna simbolis dari patung-patung pancuran air di area kolam pemandian?

    Kolam petirtaan tersebut memiliki patung widyadara dan widyadari (bidadari) yang memegang kendi air. Secara total, awalnya terdapat tujuh patung pancuran yang melambangkan tujuh sungai suci di India (seperti Sungai Gangga, Yamuna, Saraswati, dll.), meskipun salah satu patungnya sempat hancur akibat gempa bumi.

    Apakah ada aturan berpakaian khusus bagi wisatawan yang berkunjung?

    Ya. Karena Goa Gajah merupakan tempat suci yang aktif digunakan, setiap pengunjung wajib mengenakan kain sarung (sarong) dan selendang untuk menutupi bagian pinggang hingga kaki. Jika Anda tidak membawanya, pihak pengelola pura sudah menyediakan kain tersebut di dekat loket masuk.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More