Perbedaan tersebut tidak terjadi karena kesalahan penamaan, melainkan berkaitan dengan masa lalu. Sebelum berkunjung ke kawasan Everest Base Camp atau mempelajari sejarahnya lebih jauh, kenali alasan di balik dua nama berbeda yang dimiliki gunung legendaris ini, yuk!
Kenapa Gunung Everest Memiliki Dua Nama Berbeda?

- Gunung di perbatasan Nepal-Tibet ini memiliki nama tradisional Chomolungma di Tibet, bermakna “Dewi Ibu Dunia”, serta Sagarmatha di Nepal, yang berarti “Dewi Langit” atau “Dahi Langit”.
- Nama Everest muncul dari survei kolonial Inggris abad ke-19, setelah Andrew Waugh pada 1856 mengusulkan penamaan Peak XV untuk menghormati Sir George Everest.
- Musim semi, sekitar Maret–Mei, dan musim gugur, September–November, menjadi periode populer mengunjungi kawasan Everest karena cuaca serta jarak pandang cenderung lebih baik.
1. Nama Chomolungma dan Sagarmatha sudah ada jauh sebelum nama Everest muncul

Chomolungma (commons.wikimedia.org/Luca Galuzzi) Gunung Everest berada di perbatasan Nepal dan Daerah Otonomi Tibet, Tiongkok, sehingga sejak dahulu kawasan ini dihuni oleh masyarakat dengan bahasa, budaya, dan kepercayaan yang berbeda. Jauh sebelum para penjelajah Eropa datang melakukan survei, penduduk lokal telah mengenal gunung tersebut dengan nama tradisional yang diwariskan turun-temurun.
Di sisi Tibet, gunung ini disebut Chomolungma (cho-mo-lung-ma). Nama tersebut berasal dari bahasa Tibet yang berarti "Dewi Ibu Dunia" atau "Ibu Suci dari Semesta". Ini menunjukkan bahwa gunung ini dipandang sebagai tempat yang memiliki nilai spiritual tinggi. Bagi masyarakat Tibet, Chomolungma bukan sekadar bentang alam, melainkan bagian dari identitas budaya yang dihormati selama berabad-abad. Karena itulah, nama ini tetap digunakan hingga sekarang dalam berbagai peta maupun dokumen di wilayah Tibet.
Sementara itu, masyarakat Nepal mengenal gunung yang sama dengan nama Sagarmatha (sa-gar-ma-tha). Nama ini memiliki makna "Dewi Langit" atau sering pula diartikan sebagai "Dahi Langit", yang menggambarkan puncaknya yang menjulang sangat tinggi hingga seolah menyentuh langit. Pemerintah Nepal kemudian menetapkan Sagarmatha sebagai nama resmi gunung tersebut setelah negara itu semakin terbuka bagi dunia internasional pada abad ke-20. Bahkan, kawasan di sekitar gunung juga diberi nama Taman Nasional Sagarmatha, salah satu Situs Warisan Dunia UNESCO yang menjadi pintu masuk menuju Everest Base Camp. Fakta ini membuat wisatawan yang datang dari Nepal lebih sering mendengar nama Sagarmatha dibandingkan Everest, terutama ketika berbincang dengan pemandu lokal.
2. Nama Everest berasal dari masa survei kolonial Inggris pada abad ke-19

Sagarmatha (commons.wikimedia.org/Zippy Monkey) Nama Everest sebenarnya tidak berasal dari bahasa Nepal maupun Tibet. Nama tersebut baru muncul ketika pemerintah kolonial Inggris melakukan pemetaan besar-besaran di kawasan anak benua India melalui proyek Great Trigonometrical Survey, salah satu survei geografi paling ambisius pada abad ke-19. Melalui pengukuran menggunakan metode triangulasi, para ahli berhasil menghitung ketinggian sejumlah puncak Himalaya yang sebelumnya belum diketahui secara pasti.
Pada 1856, kepala survei India saat itu, Andrew Waugh, mengumumkan bahwa Peak XV merupakan gunung tertinggi yang pernah diukur. Saat itulah ia mengusulkan nama Everest untuk menghormati pendahulunya, Sir George Everest, yang pernah menjabat sebagai Surveyor General of India.
Menariknya, Sir George Everest sendiri dikabarkan tidak terlalu setuju apabila namanya dijadikan nama gunung tersebut. Salah satu alasannya adalah bahwa ia beranggapan bahwa masyarakat lokal sebenarnya telah memiliki nama sendiri untuk gunung itu.
Meski demikian, usulan Andrew Waugh akhirnya diterima oleh Royal Geographical Society di London pada 1865, sehingga nama Gunung Everest resmi digunakan dalam peta internasional. Keputusan tersebut kemudian menyebar luas melalui buku geografi, atlas, hingga berbagai ekspedisi pendakian yang dilakukan pada abad berikutnya. Sampai sekarang, nama Everest tetap menjadi penyebutan paling populer di dunia meskipun nama tradisionalnya masih dipakai oleh masyarakat setempat.
3. Waktu terbaik berkunjung juga memengaruhi pengalaman mengenal Everest

Gunung Everest (commons.wikimedia.org/Nepal Trek Adventures) Musim semi yang berlangsung sekitar Maret hingga Mei menjadi periode paling ramai di kawasan Gunung Everest karena cuaca cenderung lebih stabil dan suhu mulai menghangat setelah musim dingin. Pada saat inilah banyak ekspedisi pendakian dimulai, sehingga jalur menuju Everest Base Camp dipenuhi pendaki dari berbagai negara. Jika tujuanmu bukan mencapai puncak, melainkan menikmati panorama Himalaya dan mengenal kehidupan masyarakat setempat, musim ini juga menawarkan pemandangan pegunungan yang lebih jelas dibandingkan dengan musim hujan.
Selain itu, desa-desa di kawasan Khumbu mulai ramai oleh aktivitas porter, pemandu, hingga pengelola tea house yang kembali menerima wisatawan. Suasana tersebut membuat perjalanan terasa lebih hidup sekaligus memberikan gambaran tentang bagaimana kawasan Everest menjadi pusat aktivitas pendakian dunia.
Pilihan lain yang tak kalah populer adalah musim gugur, yakni sekitar September hingga November ketika langit kembali cerah setelah musim hujan berakhir. Pada periode ini, wisatawan dapat menikmati panorama Himalaya dengan jarak pandang yang lebih baik sekaligus mengunjungi berbagai situs budaya yang berkaitan dengan Sagarmatha maupun Chomolungma, seperti biara-biara Buddha di kawasan Khumbu dan museum yang menceritakan sejarah masyarakat Sherpa.
Berkunjung pada musim yang tepat membuat pengalaman wisata tidak hanya sebatas melihat gunung tertinggi di dunia, tetapi juga memberi kesempatan untuk memahami budaya yang selama berabad-abad membentuk identitas kawasan tersebut. Karena itu, banyak wisatawan sengaja memilih musim semi atau gugur agar bisa menikmati perpaduan panorama alam dan kekayaan budaya Himalaya dalam satu perjalanan.
Bagi pencinta perjalanan, mengenal sebuah destinasi bukan hanya soal mengetahui lokasinya, tetapi juga memahami cerita yang membuat tempat tersebut dikenal hingga ke seluruh dunia. Itulah mengapa informasi sederhana seperti asal-usul nama sebuah gunung dapat menjadi pengetahuan menarik sebelum merencanakan perjalanan. Setelah mengetahui alasan Gunung Everest memiliki dua nama berbeda, apakah kamu jadi semakin tertarik mengunjungi kawasan Himalaya?








![[QUIZ] Cari Tahu Destinasi Sejarah Kemerdekaan untuk Liburanmu](https://image.idntimes.com/post/20250812/upload_d4064d70e65027456af2946005d8bbf1_07dc90ec-0b4b-4e48-98b2-9dbe521174d9.png)

![[QUIZ] Dari Kegiatan 17 Agustusan Favoritmu, Kamu Bakal Liburan ke Sini!](https://image.idntimes.com/post/20260726/whatsapp-image-2026-07-26-at-19_f24f98b0-eee0-4278-bdaf-5552ce8485ec_watermarked_idntimes-1.jpeg)

![[QUIZ] Cari Tahu Destinasi Kemerdekaan di Surabaya untukmu!](https://image.idntimes.com/post/20250528/kota-lama-surabaya-ede7f88f47b194ddbad605f674c56773.jpg)









