Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Kenapa Orang Indonesia Cocok Liburan ke Maroko? Ini Alasannya!

Kenapa Orang Indonesia Cocok Liburan ke Maroko? Ini Alasannya!
ilustrasi pasar di Maroko (unsplash.com/Esteban Palacios Blanco)
Intinya Sih
  • Maroko menjadi tuan rumah Piala Dunia 2030 bersama Spanyol dan Portugal, menarik perhatian wisatawan global termasuk dari Indonesia.
  • WNI bebas visa untuk liburan ke Maroko, dengan kemudahan perjalanan serta kesamaan budaya dan mayoritas penduduk muslim yang memudahkan wisata halal.
  • Kuliner kaya rempah, budaya ngeteh, dan keramahan penduduk membuat pengalaman wisata di Maroko terasa akrab bagi orang Indonesia.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

FIFA baru-baru ini resmi mengumumkan Maroko akan menjadi tuan rumah Piala Dunia 2030 dengan Spanyol dan Portugal. Dalam empat tahun tahun ke depan, negara ini akan ramai dikunjungi oleh para suporter dari seluruh dunia. Di Piala Dunia 2026 ini, Maroko juga telah memberikan penampilan yang terbaik, meski akhirnya harus kalah dari Prancis di babak quarter final.

Namun, tahukah kamu jika Maroko adalah destinasi yang ideal bagi orang-orang Indonesia? Tidak hanya menawarkan hamparan gurun pasir yang menakjubkan, ada beberapa hal yang membuat tanah kelahiran Achraf Hakimi ini juga cukup mirip dengan Tanah Air, lho. Bagi yang ingin berkunjung ke sana, berikut ini alasan kenapa orang Indonesia sangat cocok liburan ke Maroko.

1. Bebas visa

ilustrasi Chefchaouen, Maroko
ilustrasi Chefchaouen, Maroko (unsplash.com/Heidi Kaden)

Maroko memberikan keuntungan bagi wisatawan asal Indonesia. Pemegang paspor Warga Negara Indonesia (WNI) tidak memerlukan visa untuk kunjungan wisata ke Negeri Maghribi tersebut, lho. Karena itu, proses perjalanan akan jauh lebih praktis dan hemat biaya in this economy.

Namun, kamu harus memastikan paspor masih berlaku minimal 6 bulan saat kedatangan. Selain itu, setibanya di Maroko, jangan lupa untuk mengisi kartu imigrasi di bandara dan menyiapkan bukti perjalanan seperti tiket pesawat pulang, booking penginapan, hingga itinerary selama di sana.

2. Mayoritas penduduk muslim

ilustrasi Hassan II Mosque di Maroko
ilustrasi Hassan II Mosque di Maroko (unsplash.com/Pramod Kumar Sharma)

Indonesia dan Maroko sama-sama memiliki penduduk yang mayoritas muslim. Saat pelesir ke Maroko, orang-orang Indonesia tidak perlu mengkhawatirkan makanan karena di sana banyak sekali pilihan restoran hingga street food yang halal. Selain itu, kamu bisa dengan mudah menemukan fasilitas beribadah saat akan rehat sejenak untuk salat.

Maroko dikenal memiliki ribuan masjid bersejarah, tetapi yang paling ikonik adalah Hassan II Mosque di Casablanca, masjid terbesar ketiga di dunia yang menjorok ke Samudra Atlantik. Ada juga destinasi populer lainnya, seperti Koutoubia Mosque di Marrakech yang legendaris hingga Al-Qarawiyyin Mosque di Fez yang memiliki universitas tertua di dunia.

3. Makanan yang kaya rempah

ilustrasi makanan di Maroko
ilustrasi makanan di Maroko (unsplash.com/Annie Spratt)

Makanan Maroko secara umum sangat cocok dengan lidah orang Indonesia. Kedua negara sama-sama mengandalkan kekayaan rempah-rempah yang dipadukan dengan daging yang dimasak empuk. Bahkan, perbedaan paling besarnya hanya terletak pada penggunaan santan dan cabai saja.

Misalnya, Maroko memiliki hidangan bernama Tagine, berupa daging, kambing maupun ayam, yang dimasak perlahan di dalam pot tanah liat dengan aneka rempah-rempah. Rasa tagine sebenarnya sangat mirip dengan semur daging atau opor ayam di Indonesia tetapi yang ini versi tanpa santannya.

4. Budaya ngeteh

ilustrasi budaya minum teh di Maroko
ilustrasi budaya minum teh di Maroko (unsplash.com/Mohamed Abira)

Orang Indonesia dan Maroko juga sama-sama suka ngeteh, lho. Tradisi minum teh di Maroko adalah simbol utama keramahan dan persahabatan. Umumnya, penduduk lokal memakai teh hijau yang dicampur daun mint segar dan gula dalam teko logam. Lalu, teh akan disajikan dengan cara dituangkan dalam gelas kecil dari ketinggian tertentu untuk menghasilkan buih.

Sementara itu, di Indonesia, minum teh atau ngeteh berakar sejak masa kolonial dan masih dilanjutkan hingga saat ini, lho. Sama halnya dengan Maroko, budaya minum teh di Tanah Air identik dengan momen kebersamaan dan keramahan juga. Bahkan, di beberapa daerah di Indonesia, teh menjadi minuman wajib untuk menyambut tamu atau saat acara-acara besar.

5. Penduduk yang ramah

ilustrasi penduduk Maroko
ilustrasi penduduk Maroko (unsplash.com/Annie Spratt)

Kamu tidak perlu merasa takut saat akan berinteraksi atau mananyakan arah kepada penduduk lokal. Maroko juga menjunjung tinggi keramahan seperti di Indonesia. Sikap ini berakar kuat pada budaya islam yang mengutamakan penghormatan terhadap tamu.

Bahkan, kamu mungkin akan ditawari teh atau atay saat mengobrol dengan penduduk lokal. Sebelum pelesir ke Maroko, sebaiknya pelajari sedikit sapaan dasar dalam bahasa Arab seperti salam (halo) hingga shukran (terima kasih) untuk mencairkan suasana, ya.

Indonesia dan Maroko juga memiliki hubungan yang sangat erat secara historis, lho. Untuk mendukung kemerdekaan satu sama lain, ibu kota Maroko, Rabat, memiliki Jalan Soekarno atau Rue Soukarno dan Indonesia menamai jalan bernama Jalan Casablanca di Jakarta.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More