Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Dolar Naik Bikin Boncos? Vietnam dan Laos Jadi Opsi Liburan Murah!
ilustrasi liburan atau traveling (unsplash.com/Damaris Isenschmid)
  • Nilai tukar dong Vietnam dan kip Laos yang lemah, membuat keduanya jadi destinasi liburan hemat bagi wisatawan Indonesia di tengah kenaikan dolar AS.

  • Biaya hidup harian di Laos dan Vietnam tergolong sangat rendah, memungkinkan traveler menikmati akomodasi, makanan, dan transportasi dengan harga terjangkau.

  • Kebijakan bebas visa ASEAN hingga 30 hari serta sistem pembayaran digital lintas negara, memudahkan perjalanan dan transaksi wisatawan Indonesia di kedua negara tersebut.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Belakangan ini, melihat grafis nilai tukar dolar AS, bikin para traveler cuma bisa mengelus dada. Melonjaknya dolar bisa bikin rencana liburan ke luar negeri terancam boncos akibat biaya akomodasi dan tiket pesawat yang ikut melambung tinggi. Kalau sudah begini, impian untuk healing ke destinasi impian rasanya harus tertunda dulu demi menyelamatkan isi dompet.

Ada opsi liburan bijak di sekitar ASEAN yang masih punya banyak hidden gem yang super ramah di kantong. Salah satunya, Vietnam dan Laos hadir sebagai opsi liburan paling bijak saat dolar sedang tidak bersahabat. Nilai tukar mata uang kedua negara ini tergolong murah, sehingga liburan tetap hemat dan lebih murah. Ini beberapa alasan, kenapa dua negara ini jadi pilihan.

1. Nilai tukar mata uang yang ramah terhadap rupiah

ilustrasi rupiah Indonesia (unsplash.com/bady abbas)

Berdasarkan data dari Forbes Advisor mengenai mata uang paling lemah di dunia, Laos dan Vietnam menempati posisi lima besar global, tepat di atas rupiah Indonesia yang berada di peringkat kelima. Kondisi makroekonomi di kedua negara tetangga ini membuat nilai tukar mata uang mereka sangat kompetitif dan bersahabat bagi kantong wisatawan Indonesia. Vietnam dengan mata uang dong tercatat sebagai mata uang terlemah ketiga di dunia akibat adanya pembatasan dan perlambatan aktivitas ekspor.

Sementara itu, kip Laos menyusul di peringkat keempat sebagai akibat dari pertumbuhan ekonomi yang lambat, inflasi yang tinggi, serta beban utang luar negeri yang membengkak. Dengan nilai tukar rupiah yang relatif lebih kuat, kedua negara di Asia Tenggara ini menjadi opsi liburan yang sangat ideal dan ramah di kantong.

2. Biaya hidup cost of living yang sangat rendah

ilustrasi cost of living (unsplash.com/Towfiqu barbhuiya)

Laos dan Vietnam dinobatkan sebagai destinasi dengan nilai terbaik di Asia Tenggara karena menawarkan biaya hidup harian yang sangat rendah. Dilansir laman Time Out, Laos menempati posisi puncak sebagai negara paling terjangkau di kawasan ini dengan rata-rata pengeluaran harian hanya sebesar 16,80 dolar per hari, sementara Vietnam menyusul di peringkat kedua dengan biaya sekitar 20,80 dolar per hari. Angka tersebut sudah mampu memenuhi kebutuhan dasar wisatawan dengan standar kenyamanan yang baik, mulai dari akomodasi, konsumsi, hingga transportasi lokal. Rendahnya biaya liburan di kedua negara ini didorong oleh harga komoditas lokal yang luar biasa murah jika dikonversikan ke mata uang asing.

 

 

3. Akses transportasi dan bebas visa ASEAN

ilustrasi bebas visa ASEAN (unsplash.com/Barbara Maier)

Kemudahan perjalanan bagi wisatawan asal Indonesia ke Vietnam dan Laos memiliki keuntungan regulasi berupa kebijakan bebas visa ASEAN yang berlaku hingga 30 hari. Kebijakan ini menjadi hal penting karena mampu mengeliminasi proses birokrasi yang rumit serta memotong biaya administrasi pembuatan visa yang sering kali mahal dan menyita waktu, seperti pada pengurusan visa Schengen atau visa Amerika Serikat. Tanpa beban finansial dan administratif tersebut, para wisatawan khususnya Indonesia, dapat mengalokasikan anggaran sepenuhnya untuk akomodasi dan eksplorasi, sekaligus memberikan fleksibilitas tinggi untuk merencanakan perjalanan lintas negara secara spontan.

4. Destinasi wisata kelas dunia

ilustrasi wisata di Vietnam (unsplash.com/Andy Bridge)

Vietnam secara mutlak membuktikan diri sebagai rumah bagi destinasi wisata kelas dunia melalui pengakuan global yang prestisius dari UNESCO. Salah satu bukti megahnya adalah dinobatkan kawasan lanskap Ha Long Bay, Kepulauan Cat Ba sebagai warisan alam dunia. Pengakuan internasional ini menegaskan bahwa kekayaan alam yang dimiliki Vietnam tidak hanya sekadar indah secara visual, melainkan memiliki nilai universal luar biasa.

Situs Warisan Dunia UNESCO, Luang Prabang merupakan bukti nyata mengukuhkan Laos sebagai salah satu tujuan destinasi wisata tingkat global. Kota bersejarah ini merefleksikan perpaduan luar biasa antara arsitektur tradisional Laos dan tata kota kolonial Prancis dari abad ke-19 dan ke-20. Keunikan lanskap kota yang terjaga dengan sangat baik ini menyajikan atmosfer nostalgia yang autentik, di mana struktur kayu tradisional berpadu harmonis dengan bangunan bata bergaya Eropa di sepanjang Sungai Mekong.

5. Kemudahan transaksi tanpa ketergantungan dolar cash

ilustrasi kemudahan transaksi (unsplash.com/Alexander Mils)

Revolusi pembayaran lintas batas di kawasan ASEAN telah membawa transformasi besar bagi traveler melalui integrasi sistem pembayaran cepat dan interkoneksi sistem QR Code antarnegara, Berdasarkan laporan AMRO, digitalisasi yang masif dan kerja sama regional ini memungkinkan transaksi ritel berjalan secara instan hanya dalam hitungan detik. Bagi wisatawan, inovasi ini mengeliminasi proses konvensional yang merepotkan, seperti mengantre di money changer atau membawa uang tunai dolar AS dalam jumlah besar saat bepergian di kawasan Asia Tenggara.

Melonjaknya nilai tukar dolar bukanlah alasan untuk mengubur impian menjelajahi dunia. Menghadapi situasi ekonomi yang dinamis ini, kunci utamanya adalah adaptasi dan kejelian dalam melihat peluang. Vietnam dan Laos telah membuktikan bahwa liburan ke luar negeri yang berkesan tidak selalu harus dibayar dengan terkurasnya isi dompet. Memilih dua negara Asean ini menjadi salah satu opsi perjalanan yang bisa memperkaya pengalaman dan kenangan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

Related Article

Apakah Itu Red Eye Flight?01 Jun 2026, 21:45 WIBTravel