Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
9 Lumbung Padi Tradisional Indonesia, Oase Pangan yang Bertahan
bangunan Leuit, lumbung padi ala Sunda di Simarasa, Sukabumi (commons.wikimedia.org/Wibowo Djatmiko)
  • Sembilan lumbung padi tradisional di berbagai daerah Indonesia menjadi sistem penyimpanan hasil panen sekaligus cadangan pangan, jauh sebelum ketahanan pangan masuk kebijakan modern.
  • Setiap lumbung memiliki bentuk dan fungsi khas, dari jineng Bali hingga uma lengge Bima, dengan penyimpanan yang mendukung kebutuhan harian, musim paceklik, dan panen berikutnya.
  • Selain menjaga pangan, lumbung tradisional merepresentasikan arsitektur, ritual, pengetahuan lokal, serta identitas budaya; sebagian masih bertahan meski fungsi beberapa bangunan mulai bergeser.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jauh sebelum istilah ketahanan pangan menjadi bagian dari kebijakan, berbagai masyarakat adat di Indonesia telah memiliki cara sendiri untuk menjaga persediaan makanan. Salah satunya melalui lumbung padi. Lumbung padi bukan cuma tempat untuk menyimpan hasil panen, tetapi juga menjadi bagian dari arsitektur, tradisi, hingga kehidupan sosial masyarakat.

Di sejumlah daerah, tradisi ini masih bertahan dan menunjukkan bagaimana pangan dijaga untuk menghadapi kebutuhan di masa mendatang. Bentuk lumbung padi pun tidak seragam. Ada yang menyerupai rumah panggung, berdiri di halaman rumah adat, hingga dibangun di dekat ladang agar hasil panen lebih mudah disimpan. Berikut sejumlah lumbung padi tradisional Indonesia yang memperlihatkan bagaimana masyarakat di berbagai daerah menjaga persediaan pangan.

1. Jineng

Bale Jineng (commons.wikimedia.org/Chainwit)

Masyarakat Bali mengenal jineng sebagai bangunan untuk menyimpan padi. Mengutip situs Institut Seni Indonesia Bali, bangunan ini memiliki dua tingkat. Bagian atas dipakai untuk menyimpan padi, sedangkan bagian bawah berupa bale-bale yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan. Bentuknya khas, terutama pada bagian atap yang melengkung ke bawah.

Keberadaan jineng juga berkaitan erat dengan kehidupan agraris masyarakat Bali. Bahkan, terdapat upacara Mantenin Padi yang dilakukan oleh para petani setelah panen di lumbung padi milik keluarga masing-masing. Namun, perkembangan zaman membuat fungsi jineng di sejumlah tempat ikut bergeser.

2. Leuit

Leuit (commons.wikimedia.org/Wibowo Djatmiko)

Di masyarakat Baduy, lumbung padi dikenal sebagai leuit. Penelitian dalam Jurnal Biodjati menunjukkan bahwa masyarakat Baduy masih mempertahankan sistem leuit sebagai bagian dari kearifan ekologis dan ketahanan pangan. Keberadaannya tidak terlepas dari falsafah hidup yang mereka pegang, yakni lojor teu beunang dipotong, pondok teu meunang disambung (bila panjang tidak boleh dipotong, pendek tidak boleh disambung). Pikukuh tersebut menjadi landasan masyarakat Baduy dalam berperilaku terhadap alam, termasuk memuliakan padi yang dipandang sebagai anugerah Dewi Sri atas hasil bumi yang mereka usahakan.

Leuit bukan hanya tempat penyimpanan gabah, tetapi juga menjadi cadangan pangan masyarakat Baduy. Penelitian tim mahasiswa UGM mencatat bahwa leuit berbentuk rumah panggung dan memiliki pintu kecil di bagian atas untuk memasukkan serta mengeluarkan padi. Kemampuannya menyimpan padi hingga 50–100 tahun disebut merepresentasikan leuit sebagai bangunan yang mendukung keberlanjutan pangan masyarakat Baduy

3. Jurung

Rumah adat Dayak Betang Manggatang (commons.wikimedia.org/Martini Rahman)

Beralih ke Kalimantan, masyarakat Dayak di Kabupaten Lamandau, Kalimantan Tengah mengenal jurung sebagai bangunan tradisional untuk menyimpan hasil panen. Pemerintah Kabupaten Lamandau menyebut jurung masih digunakan masyarakat di sejumlah desa, termasuk Desa Kina dan Desa Bintang Mangalih. Beras yang disimpan di dalamnya digunakan untuk memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari dan tidak sekadar untuk dijual.

Menariknya, jurung juga menunjukkan bagaimana tradisi lama dapat menjadi bagian dari ketahanan pangan masa kini. Di Desa Bintang Mangalih, jurung disebut mampu menyimpan hasil panen hingga dua tahun. Artinya, bangunan sederhana tersebut berfungsi sebagai cadangan ketika masyarakat membutuhkan persediaan pangan dari hasil pertanian sendiri.

4. Talukung

Talukung (kanaldesa.com)

Di Luwu Utara, tepatnya pada masyarakat hukum adat Katubaraang Turong, terdapat talukung atau talukun yang berfungsi sebagai lumbung. Dokumen Pemerintah Kabupaten Luwu Utara menjelaskan bahwa talukung digunakan untuk menyimpan padi hasil panen yang sudah dikeringkan dan diikat dalam ukuran tertentu yang disebut nitangko.

Lumbung ini pada dasarnya merupakan tempat penyimpanan padi milik individu. Kapasitasnya disebut dapat mencapai sekitar 100 tangko atau kurang lebih 100 liter padi, serta dapat dipindahkan mengikuti lokasi rumah. Meski bentuknya mengikuti perkembangan zaman, fungsi talukung sebagai tempat menyimpan cadangan hasil panen tetap dipertahankan

5. Jompa

Uma lengge (djkn.kemenkeu.go.id)

Masyarakat Bima mengenal jompa sebagai bangunan yang berfungsi menyimpan hasil panen. Sumber dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menjelaskan bahwa jompa merupakan bentuk yang lebih sederhana dari uma lengge dan memiliki fungsi yang tetap sama sebagai tempat penyimpanan hasil pertanian.

Jompa juga memiliki fungsi penting untuk menghadapi musim kering atau paceklik. Dalam sejumlah kajian, bangunan ini digunakan untuk menyimpan padi, jagung, dan bahan makanan lain agar persediaan tetap tersedia ketika hasil panen belum datang.

6. Bale alang

Berugaq desa adat Sade Lombok (commons.wikimedia.org/RaiyaniM)

Desa Adat Sade di Lombok juga memiliki tradisi lumbung padi yang menjadi bagian dari arsitektur masyarakat Sasak. Namun, lumbung di Sade lebih tepat disebut bale-alang. Kajian mengenai arsitektur tradisional Sasak mencatat bahwa bale-alang merupakan nama lumbung yang ditemukan di rumah adat Sade.

Secara umum, lumbung Sasak digunakan untuk menyimpan padi hasil panen sebelum diproses menjadi beras. Padi yang telah dipanen, diikat, dan dikeringkan kemudian dimasukkan melalui pintu yang berada di bagian atas lumbung. Sistem ini memungkinkan persediaan padi digunakan secara bertahap sampai musim panen berikutnya.

7. Lepubung

Lepubung (commons.wikimedia.org/Ezagren)

Masyarakat Dayak Kenyah di Kalimantan Timur memiliki lepubung, yaitu bangunan panggung yang dahulu digunakan untuk menyimpan padi dan sejumlah benda berharga. Data Pencatatan Kekayaan Budaya Takbenda Indonesia tahun 2015 menyebut lepubung sebagai bangunan tradisional yang dibangun cukup tinggi dari tanah dan biasanya berada di antara sungai dan ladang agar hasil panen lebih mudah disimpan.

Bangunan ini menunjukkan hubungan erat antara lumbung dan sistem perladangan masyarakat Kenyah. Namun, keberadaannya kini semakin jarang karena perkembangan transportasi membuat hasil pertanian lebih mudah dibawa dari ladang menuju rumah. Meski begitu, lepubung masih tercatat sebagai bagian dari warisan arsitektur dan pengetahuan tradisional masyarakat Kenyah.

8. Rangkiang

Rangkiang (commons.wikimedia.org/Christiaan Benjamin Nieuwenhuis)

Di Sumatera Barat, rangkiang menjadi salah satu simbol yang paling mudah dikenali dari lingkungan rumah gadang. Bangunan kecil beratap gonjong ini berfungsi menyimpan padi hasil panen dan biasanya ditempatkan di halaman rumah gadang. Bentuknya tidak hanya mencerminkan arsitektur Minangkabau, tetapi juga menggambarkan hubungan antara pangan, ekonomi, dan kehidupan sosial masyarakat.

Rangkiang bahkan memiliki beberapa jenis berdasarkan fungsi penyimpanan padinya. Ada yang digunakan untuk kebutuhan sehari-hari, ada pula yang berfungsi sebagai cadangan ketika terjadi paceklik atau kondisi sulit. Konsep tersebut memperlihatkan bahwa masyarakat Minangkabau sejak dahulu telah mengenal pembagian persediaan pangan berdasarkan kebutuhan dan keadaan.

9. Uma lengge

Uma lengge (djkn.kemenkeu.go.id)

Selain Jompa dari Bima, uma lengge menjadi salah satu bangunan tradisional yang erat kaitannya dengan tradisi penyimpanan pangan masyarakat Mbojo. Di Kecamatan Wawo, Kabupaten Bima, uma lengge menjadi bagian dari tradisi Ampa Fare, yakni menyimpan padi di lumbung untuk memenuhi kebutuhan pangan selama satu tahun. Tradisi tersebut telah berlangsung selama ratusan tahun dan masih dilestarikan.

Uma lengge memiliki bentuk yang khas, ditopang empat tiang, dan memiliki bagian atas yang digunakan untuk menyimpan padi serta hasil ladang. Ketinggian bangunan juga memiliki fungsi praktis karena membantu melindungi bahan pangan dari gangguan hama. Museum Nasional mencatat bahwa bagian atas uma lengge digunakan sebagai tempat penyimpanan padi dan hasil ladang.

Menariknya, uma lengge bukan sekadar bangunan penyimpanan. Penelitian yang diterbitkan dalam Basastra Universitas Sebelas Maret Surakarta pada 2025 menunjukkan bahwa arsitektur uma lengge memiliki makna simbolik sekaligus berkaitan dengan upaya mempertahankan pangan masyarakat Bima. Struktur yang tinggi dan papan penahan tikus menjadi bagian dari pengetahuan lokal untuk menjaga bahan pangan tetap aman.

Di tengah perubahan pola hidup dan teknologi pertanian, sebagian lumbung padi tradisional Indonesia memang mulai kehilangan fungsi aslinya. Meski begitu, sebagian lainnya masih bertahan sebagai cadangan pangan sekaligus penanda identitas budaya. Karena itu, lumbung tradisional layak dilihat bukan hanya sebagai bangunan masa lalu, melainkan sebagai oase pangan yang menyimpan pengetahuan tentang cara masyarakat Indonesia menjaga hasil bumi dan memastikan persediaan tetap ada untuk hari esok.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article