Serambi Soekarno di kompleks Biara St. Yosef, Ende, NUsa Tenggara Timur, menjadi saksi bisu perjuangan Bung Karno selama masa pengasingan tahun 1934–1938. Di tempat ini, Bung Karno rutin membaca buku, merancang pementasan tonil, dan bersahabat erat dengan para misionaris Katolik Belanda seperti Pater Huijtink dan Pater Bouma.
[FOTO] Ruang Diskusi dan Pemikiran Kebangsaan di Ende NTT
2 min read
![[FOTO] Ruang Diskusi dan Pemikiran Kebangsaan di Ende NTT](https://image.idntimes.com/post/20261030/serambi-soekarno-6_581b0c09-cbea-48fa-abdd-f387aefab2d4_watermarked_idntimes-1.jpg)
Intinya Sih
Serambi Soekarno di Biara St. Yosef, Ende, menjadi tempat Bung Karno menjalani masa pengasingan pada 1934–1938.
Selama di Ende, Bung Karno membaca buku, merancang pementasan tonil, serta menjalin persahabatan dengan misionaris Katolik Belanda, termasuk Pater Huijtink dan Pater Bouma.
Di lokasi ini, gagasan dasar Pancasila dan nilai persatuan direnungkan; ruangan tetap terawat dengan perabot asli seperti kursi dan lantai era pengasingan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Di ruang inilah gagasan dasar Pancasila serta nilai-nilai persatuan mulai direnungkan dan dirumuskan. Hingga kini, lokasi ini masih terawat rapi dengan mempertahankan perabot asli seperti kursi dan lantai dari zaman pengasingan. Selengkapnya, simak potretnya di bawah ini, yuk!
1. Biara Santo Yosef menjadi tempat Soekarno banyak membaca buku dan juga berdiskusi dengan para misionaris Katolik asal Belanda. Hasilnya lahirlah inspirasi untuk merumuskan nilai-nilai pancasila.

Serambi Soekarno merupakan situs sejarah yang terletak di kompleks Biara Santo Yosef Katedral Ende, Jalan Katedral No. 5, Kelurahan Potulando, Kecamatan Ende Tengah, Kabupaten Ende, NTT (IDN Times/Aditya Mustaqim) 2. Selama diasingkan di Ende pada 14 Januari 1934 hingga 18 Oktober 1938, Bung Karno rutin mengunjungi biara ini untuk membaca buku hingga merencanakan pementasan tonil

Potret selama diasingkan di Ende, Bung Karno rutin mengunjungi biara ini untuk membaca buku, berdiskusi dengan para pastor Belanda, dan merencanakan pementasan tonil (IDN Times/Aditya Mustaqim) 3. Bung Karno bersahabat erat dengan para misionaris Katolik, yaitu Pater Geradus Huijtink dan Pater Dr. Johannes Bouma. Bahkan, mereka kerap menyapa Bung Karno dengan sebutan "Tuan Presiden"

Potret selama di Biara St. Yosef, Bung Karno sering membaca buku, berdiskusi, serta menjalin persahabatan erat dengan para misionaris Katolik asal Belanda, khususnya Pater Geradus Huijtink, SVD dan Pater Dr. Johannes Bouma, SVD. (IDN Times/Aditya Mustaqim) 4. Serambi Soekarno berada dalam komplek Biara Santo Yosef dan Gereja Katedral Kristus Raja Ende. Ini menunjukkan bahwa kemanusiaan menjadi segalanya diantara agama dan juga penjajahan pada masa itu

Potret di tengah keterbatasan masa pengasingan di Ende inilah, Bung Karno merenungkan dan merumuskan nilai-nilai persatuan, kemanusiaan, serta keadilan yang kemudian melahirkan gagasan Pancasila (IDN Times/Aditya Mustaqim) 5. Bung Karno kerap kali duduk sambil membaca buku dan merenung menghadap ke pantai

Potret beberapa perabot seperti kursi dan lantai asli dari zaman tersebut masih dirawat dengan baik di lokasi ini (IDN Times/Aditya Mustaqim) 6. Patung perunggu Bung Karno itu hasil karya pematung lokal Benny Laka dengan replika buku-buku bacaannya.

Potret Bung Karno menghabiskan waktu pengasingannya di tempat ini sejak 14 Januari 1934 hingga 18 Oktober 1938. (IDN Times/Aditya Mustaqim)






![[QUIZ] Dari Karakter Favoritmu dalam Drakor Doctor X, Destinasi Korea Ini Cocok untukmu](https://image.idntimes.com/post/20261029/19435_242df424-215a-4892-865d-ab73fc3f9171.jpg)











![[QUIZ] Dari Grup A20 Entertainment Favoritmu, Destinasi Korea Ini Asyik untuk Liburan](https://image.idntimes.com/post/20261027/1000348061_41b89d38-2ccc-4434-9d54-311b76a32ff1.jpg)


