"(Tujuannya) supaya tidak mengubah mindset atau karakter mereka. Ketika ada teman-teman tamu lagi yang datang, anak-anak tidak akan terbiasa untuk minta ini-minta itu dari tamu," jelas Mikael.
Etika Berkunjung ke Desa Waerebo yang Wajib Dipatuhi Wisatawan

Wisatawan ke Desa Waerebo wajib mengikuti briefing dan menghormati aturan adat karena desa ini merupakan ruang hidup sakral warga, bukan sekadar destinasi komersial.
Pengunjung diminta berpakaian sopan, menyimpan kamera setelah Pos 7 hingga upacara izin adat selesai, serta tidak membawa atau mengonsumsi alkohol.
Wisatawan tidak boleh memberi barang langsung kepada anak-anak, menaiki altar budaya, menginjak makam, atau mengganggu hewan peliharaan warga.
Menyambangi Desa Waerebo di Manggarai, Nusa Tenggara Timur, selalu menjadi impian wisatawan, baik dari dalam maupun luar negeri. Desa ini menawarkan beragam pesona dan kearifan lokal yang membuat siapa pun kagum saat berkunjung ke sana, mulai dari rumah tradisional Mbaru Niang yang berdiri megah, upacara adat yang sakral, hingga keramahan warga setempat.
Namun, di balik pesona tersebut, Waerebo adalah sebuah ruang hidup yang dijaga seperangkat aturan adat secara turun-temurun. Setiap jengkal tanah dan bangunan di desa ini memiliki nilai sakral, sehingga kehadiran wisatawan tidak bisa disamakan dengan kunjungan ke destinasi wisata komersial lainnya.
Sebelum mengemas barang dan melangkah menembus perbukitan, wisatawan wajib memahami aturan atau tata krama yang berlaku di sana. Hal ini biasanya disampaikan dalam sesi briefing di Tourist information Center atau basecamp sebelum berkunjung ke Desa Waerebo.
IDN Times pun berkesempatan untuk menjelajahi desa cantik tersebut pada Selasa (13/10/2026). Sesi briefing dipimpin langsung oleh Koordinator Reservasi Tamu Lembaga Pelestari Budaya Waerebo (LPBW), Mikael Tonso. Ia membagikan sejumlah informasi tentang etika berkunjung ke Waerebo yang wajib dipahami wisatawan.
Apa saja itu? Simak informasinya di bawah ini, yuk!
1. Mengenakan pakaian yang sopan

Potret wisatawan di Desa Waerebo di Manggarai, Nusa Tenggara Timur (IDN Times/Fasrinisyah Suryaningtyas) Etika pertama yang harus dipahami wisatawan yang hendak berlibur ke Desa Waerebo adalah mengenakan pakaian yang sopan. "Pada intinya, tidak boleh mengenakan pakaian yang terbuka selama kunjungan ke Waerebo," ujar Mikael.
Jika mengenakan celana pendek, lanjut Mikael, sebaiknya memiliki panjang minimal selutut dan tidak mengenakan hotpants. Untuk atasan tidak harus panjang, tetapi diusahakan menutupi lengan. Karena udara di Waerebo cukup dingin, akan lebih baik lagi kalau mengenakan pakaian hangat dan panjang (jaket).
2. Tidak mengambil foto dan video setelah Pos 7

Potret Pos 7 Pondok Kasih Ibu di Desa Waerebo, Manggarai, Nusa Tenggara Timur (IDN Times/Fasrinisyah Suryaningtyas) Wisatawan yang pertama kali berkunjung ke Desa Waerebo tidak diperkenankan untuk mengambil foto maupun video setelah Pos 7 Pondok Kasih Ibu. Di pos tersebut, terdapat sebuah kentongan yang wajib dipukul wisatawan sebagai tanda permisi untuk memasuki desa. Ponsel dan kamera wajib disimpan atau dimasukkan ke dalam kantong begitu tersebut kentongan dipukul.
Selanjutnya, wisatawan bisa berjalan kaki menuruni lembah selama 10-15 menit dan langsung menuju ke rumah ketua adat begitu memasuki desa. "Jadi, kita langsung masuk menuju ke rumah utama untuk bertemu dengan ketua dan perwakilan dari ketua. Itu semacam laporan gitulah," kata Mikael.
Di dalam rumah tersebut, ketua adat akan menyambut wisatawan dan melakukan upacara adat. Upacara tersebut bertujuan untuk memohon izin kepada leluhur, agar kedatangan wisatawan tersebut direstui dan diberikan perlindungan selama berada di sana hingga kembali ke tempat asal. Setelah upacara adat, barulah wisatawan boleh memotret atau mengambil video di Desa Waerebo.
3. Jangan memberi jajan dan uang ke anak-anak secara langsung

Potret anak-anak di Desa Waerebo, Manggarai, Nusa Tenggara Timur (IDN Times/Fasrinisyah Suryaningtyas) Saat berlibur ke Desa Waerebo, kamu akan berjumpa dengan anak-anak kecil. Mereka biasanya melakukan beragam aktivitas di sekitar Mbaru Niang (rumah adat suku Manggarai yang berbentuk kerucut), seperti bermain mobil-mobilan, memberi makan hewan peliharaan, duduk santai bersama orang tua mereka, hingga menjual gelang handmade.
Wisatawan tidak dilarang untuk berinteraksi dengan mereka. Namun, ada satu hal yang perlu diperhatikan, yakni tidak boleh memberi oleh-oleh, makanan atau camilan, dan mainan kepada mereka secara langsung.
Apabila wisatawan memang hendak memberikan makanan atau mainan kepada anak-anak, sebaiknya melalui perantara, yakni pengelola yang ada di Desa Waerebo. Kalau bepergian bersama rombongan, barang-barang tersebut bisa dikumpulkan terlebih dahulu kepada ketua rombongan atau tour leader, lalu diserahkan kepada pengelola. Nantinya, pengelola yang akan membagikannya langsung kepada anak-anak yang ada di sana.
4. Tidak mengonsumsi minuman beralkohol

Potret kopi manggarai yang disajikan di Desa Waerebo, Manggarai, Nusa Tenggara Timur (IDN Times/Fasrinisyah Suryaningtyas) Etika yang harus dipatuhi selanjutnya adalah tidak boleh membawa minuman beralkohol ke Desa Waerebo, apalagi mengonsumsinya selama berada di sana. "Mohon untuk jangan membawa atau mengonsumsi minuman beralkohol selama kunjungan ke Waerebo karena itu sangat dilarang keras oleh tradisi Waerebo," tutur Mikael.
5. Tidak naik ke altar budaya yang ada di tengah halaman desa

Potret rumah adat Mbaru Niang di Desa Waerebo, Manggarai, Nusa Tenggara Timur (IDN Times/Fasrinisyah Suryaningtyas) Di bagian tengah halaman Desa Waerebo atau tepatnya di depan rumah utama, terdapat sebuah susunan batu yang melingkar dan permukaannya lebih tinggi dari tanah di sekitarnya. Menurut Mikael, batu tersebut merupakan altar budaya yang disakralkan warga setempat. Mereka menggunakannya untuk berdoa kepada Tuhan dan leluhur pada saat upacara tertentu.
"Jadi, Kakak, Abang, nanti kalau mau jalan di samping boleh, untuk foto (juga) boleh. Tapi mohon untuk tidak naik di atas," kata Mikael.
Selain tidak boleh naik ke atas altar tersebut, wisatawan juga sebaiknya berhati-hati saat melintasi area makam. Area ini berada tepat di seberang rumah Mbaru Niang dan biasanya jadi spot foto favorit wisatawan untuk memotret rumah atau pemandangan desa.
"Jadi, ada banyak perkuburan. Nanti kita jalan di alur yang sudah jelas gitu (jalan setapak). Intinya tidak boleh nginjak kuburan aja seperti itu," imbuh Mikael.
6. Tidak menggaggu hewan peliharaan warga
Layaknya perkampungan pada umumnya, di Desa Waerebo juga terdapat beberapa hewan peliharaan warga setempat yang berkeliaran di halaman atau sekitar rumah. Seperti anjing, kucing, dan ayam.
Saat melihatnya, tak sedikit wisatawan dan pencinta hewan yang merasa gemas, kemudian mendekati dan menyentuhnya. Sayangnya, tidak semua hewan bisa "akrab" dengan orang asing. Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, seperti digigit, wisatawan diimbau untuk tidak berinteraksi dengan mereka.
Nah, itu dia etika berkunjung ke Desa Waerebo yang wajib dipahami wisatawan. Menghormati etika dan aturan adat tersebut bukan sekadar bentuk sopan santun, melainkan wujud penghargaan terhadap kelestarian budaya dan masyarakat lokal yang telah menjaga harmoni Waerebo selama berabad-abad. Gimana, kamu sudah siap menjelajahi desa cantik ini?











![[QUIZ] Dari Grup A20 Entertainment Favoritmu, Destinasi Korea Ini Asyik untuk Liburan](https://image.idntimes.com/post/20261027/1000348061_41b89d38-2ccc-4434-9d54-311b76a32ff1.jpg)


![[QUIZ] Intip Event Wisata yang Akan Kamu Datangi pada November 2026!](https://image.idntimes.com/post/20260625/hobby-1881_72440924-2cff-4e8f-877e-68922485c68d.jpg)
![[QUIZ] Scorpio Cocoknya Liburan ke Mana Saja selama November Ini?](https://image.idntimes.com/post/20260410/upload_a373d8b19f413be4615349eb9603efea_40b0cc95-d472-4cd0-9289-929593f20a0c_watermarked_idntimes-2.jpg)



