Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Menepi ke Waerebo: Tanpa Sinyal, tapi Bikin Lupa Pulang!
Potret Desa Waerebo di Manggarai, Nusa Tenggara Timur (IDN Times/Fasrinisyah Suryaningtyas)
  • Perjalanan dari Labuan Bajo ke Basecamp Waerebo memakan sekitar empat jam, dilanjutkan trekking enam kilometer melalui tujuh pos selama sekitar tiga jam 45 menit.

  • Wisatawan wajib reservasi, mengikuti etika kunjungan, dan menjalani upacara adat di Niang Gendang sebelum diterima sebagai tamu di Desa Waerebo.

  • Masyarakat Waerebo melestarikan Mbaru Niang, sejarah leluhur, serta tradisi tenun songke dan todo yang dikerjakan perempuan sebagai bagian identitas budaya dan ekonomi keluarga.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Nama Waerebo sudah terngiang di benak saya sejak 10 tahunan yang lalu. Sebuah potret seorang rekan kuliah terpampang di beranda Instagram. Ia berpose di depan deretan rumah Mbaru Niang dan menulis tagar "Waerebo." Sontak, rasa penasaran muncul di benak penulis dan mulai mengetik nama tersebut di mesin pencarian. Oh, rupanya ada di Manggarai, Nusa Tenggara Timur. Jauh juga, ya?

Beberapa tahun berlalu. Nama Waerebo terus terngiang di kepala, apalagi saat menulis artikel yang berkaitan tentang pariwisata, mulai dari rekomendasi destinasi liburan di NTT, desa wisata tercantik di Indonesia, hingga destinasi untuk belajar budaya asli Indonesia. Riset mendalam melalui berbagai situs, media sosial, dan orang-orang yang pernah ke sana pun penulis lakukan untuk lebih mengenal Waerebo dan menghasilkan tulisan yang menarik.

Rupanya, hal tersebut menjadi manifestasi yang berharga bagi penulis. Kesempatan itu pun akhirnya datang, berkunjung ke Waerebo untuk pertama kalinya! Tak sendiri, kami pergi bersama influencer dan travel agent yang diinisiasi Kementerian Pariwisata Republik Indonesia dan Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores (BPOLBF) pada Selasa-Rabu, 13-14 Oktober 2026.

Selengkapnya, simak keseruan perjalanan kami berikut ini, yuk!

1. Perjalanan Labuan Bajo ke Basecamp Waerebo

Potret Labuan Bajo di Manggarai Barat, NTT (IDN Times/Fasrinisyah Suryaningtyas)

Sama seperti wisatawan pada umumnya, kami memulai perjalanan dari Labuan Bajo. Kamu sudah tiba sehari sebelum keberangkatan ke Waerebo, tepatnya pada Senin (12/10/2026). Malam harinya, kami menata barang-barang yang akan dibawa ke Waerebo ke dalam ransel, karena tidak mungkin menggeret koper sembari trekking, kan?

Keesokan harinya, kami berangkat dari hotel tepat pukul 07.30 WITA. Perjalanan dengan mobil Hiace ini mengambil rute Trans Flores ke arah selatan, yakni melintasi Lembor dan Nangalili. Sepanjang perjalanan, terhampar luas hutan, sawah, dan rumah-rumah penduduk. Kondisi jalanannya berkelok dan naik turun. Beberapa rekan perjalanan sudah siap dengan obat anti mabuk dan minyak angin. Saya pun memilih lanjut tidur, agar tidak pusing.

Saya terbangun di sebuah desa bernama Nangalili yang ada di wilayah Lembor Selatan, Manggarai Barat. Pemandangan yang tersaji di wilayah ini adalah tanah dan pepohonan yang mengering, serta sungai panjang yang mengarah ke laut. Waktu sudah menunjukkan pukul 9.36 WITA dan selama dua jam perjalanan, ternyata belum keluar dari wilayah Manggarai Barat. Luas juga, ya...

Potret Wae Wuang di Manggarai, Nusa Tenggara Timur (IDN Times/Fasrinisyah Suryaningtyas)

Setengah jam kemudian, rombongan melintasi Pantai Repi dan berhenti sebentar untuk berfoto. Bagian puncak bukit Nuca Molas atau Pulau Mules mulai terlihat dari sini. Perjalanan berlanjut hingga ke Jembatan Wae Wuang yang menjadi pembatas antara Manggarai Barat dan Manggarai. Dari jembatan ini, Nuca Molas makin terlihat jelas.

Selanjutnya, perjalanan menelusuri jalan raya dengan pemandangan laut ini berlanjut hingga ke Dintor. Dari Dintor, kami belok kiri ke arah Desa Denge hingga tiba di Basecamp Wae Rebo atau Tourist Informaton Center (TIC). Saat itu, waktu sudah menunjukkan pukul 11.30 WITA. Artinya, total perjalanan dari Labuan Bajo ke Basecamp Waerebo sekitar empat jam.

Semua wisatawan yang hendak memasuki Waerebo harus mampir ke basecamp ini. Ketua rombongan wajib menyerahkan bukti reservasi dan melakukan pembayaran tiket masuk, kemudian diverifikasi petugas. Di wilayah ini, sinyal juga sudah hilang. Pengelola pun menyediakan WiFi terbatas di dalam basecamp.

Potret Basecamp Waerebo atau Tourist information Center (IDN Times/Fasrinisyah Suryaningtyas)

Selanjutnya, kami makan siang, salat, hingga mengecek kebutuhan dan barang pribadi. Untuk makan siangnya, panitia memesan di sebuah homestay dengan menu beragam, seperti sayur tumis, ikan bakar, ayam goreng, tempe goreng, sambal, dan kerupuk. Primadonanya tentu saja ikan bakar!

Perut kenyang, saatnya briefing dari pengelola. Sesi ini dipimpin langsung oleh Koordinator Reservasi Tamu Lembaga Pelestari Budaya Waerebo (LPBW), Mikael Tonso. Ia memberikan informasi tentang etika berkunjung ke Waerebo yang harus dipahami wisatawan.

Mikael mengimbau wisatawan mengenakan pakaian yang sopan, tidak mengambil foto dan video setelah Pos 7 (harus ikut upacara adat penyambutan terlebih dahulu), tidak memberi jajan dan uang ke anak-anak secara langsung (harus melalui pengelola atau orangtua mereka), tidak membawa atau mengonsumsi minuman beralkohol, tidak naik ke altar budaya yang ada di tengah halaman desa, dan tidak mengganggu hewan peliharaan warga.

2. Trekking ke Waerebo

Potret trek dari Pos 3 ke Pos 4 Desa Waerebo (IDN Times/Fasrinisyah Suryaningtyas)

Dari basecamp, perjalanan dilanjutkan dengan naik mobil ke tempat parkir. Beberapa tukang ojek yang akan mengantar rombongan ke Pos 1 sudah standby di sana. Jarak tempat parkir ke Pos 1 sekitar tiga kilometer dengan kondisi jalanan yang rusak dan menanjak. Tarif ojeknya sebesar Rp100 ribu per orang untuk perjalanan PP. Total perjalanan dari Basecamp Waerebo ke Pos 1 ini sekitar 15-20 menit.

Untuk menuju ke Waerebo, ada tujuh pos yang harus dilalui semua wisatawan. Setiap pos memiliki nama tersendiri, yakni Pos 1 Wae Lomba, Pos 2 Onto Lui, Pos 3 Wake Haju, Pos 4 Poso Roko, Pos 5 Reho Poso Roko, Pos 6 Nampe Bakok, dan Pos 7 Rumah Kasih Ibu. Sedangkan, total jarak yang ditempuh sekitar enam kilometer.

Kami pun memulai perjalanan dari Pos 1 Wae Lomba pada pukul 13.30 WITA dengan gaya trekking yang cukup santai. Pemimpin rombongan paling depan dan sweeper berada di paling belakang. Bagi wisatawan jarang olahraga atau tidak terbiasa trekking, sebaiknya sudah latihan fisik 4-2 minggu sebelum berangkat ke sini, ya!

Potret Pos 4 Poso Roko menuju Desa Waerebo, Manggarai, NTT (IDN Times/Fasrinisyah Suryaningtyas)

Kondisi trek dari Pos 1 Wae Lomba menuju ke Pos 3 Wake Haju sudah dipaving batu dengan elevasi yang menanjak. Sesekali, kami berhenti untuk minum dan mengatur napas, serta "mendinginkan" kaki. Setelah Pos 3, jalanan paving batu mulai "hilang" dan berganti dengan tanah.

Memasuki Pos 4 Poso Roko, jalanan mulai berbatu, banyak akar pohon, dan makin menanjak hingga ke Pos 5 Reho Poso Roko. Di sinilah kemampuanmu diuji untuk memilih pijakan yang tepat dan mengatur napas dengan baik. Trekking pole akan sangat membantu dalam situasi seperti ini. Setibanya di Pos 5 Reho Poso Roko, rombongan istirahat sejenak di saung yang ada di sana.

Trek dari Pos 5 sudah mulai landai hingga ke Pos 7 Rumah Kasih Ibu. Terdapat sebuah saung atau pondok dengan kentongan yang harus dipukul sebelum memasuki desa. Sesuai dengan arahan Mikael saat briefing tadi, ponsel dan kamera harus disimpan, karena wisatawan tidak diizinkan memotret dan mengambil video sebelum mengikuti upacara adat penyambutan tamu.

Dari Pos 7, perjalanan berlanjut ke pintu masuk desa selama 10-15 menit dengan kondisi jalanan menurun dan berbatu, serta suasana yang mulai berkabut. Kami masuk ke desa pada pukul 17.15 WITA. Jadi, total waktu perjalanan dari Pos 1 ke Desa Waerebo selama 3 jam 45 menit.

3. Upacara adat untuk menyambut tamu

Potret rumah adat Mbaru Niang di Desa Waerebo, Manggarai, Nusa Tenggara Timur (IDN Times/Fasrinisyah Suryaningtyas)

Begitu memasuki desa, seorang warga Waerebo berseragam hijau (seragam khusus pengelola wisata) menyambut kami dengan sangat ramah. Ia mengantar kami ke rumah utama yang ada di Waerebo. yakni Niang Gendang. Tetua adat bernama Petrus Natul dan seorang pengelola bernama Silvester Jetavan yang berperan sebagai penerjemah sudah hadir di sana. Keduanya mempersilakan kami untuk duduk di atas tikar pandan.

Pak Petrus kemudian melakukan ritual adat dalam Bahasa Manggarai, lalu diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia. Prosesi ini berlangsung dengan sangat sederhana, tetapi sarat makna. Mereka meminta izin kepada leluhur dan keluarga-keluarga leluhur yang sudah meninggal dunia, agar rombongan kami diterima untuk tinggal di sini, tidak ada hambatan, sehat selalu, dan pulang ke tempat masing-masing dengan selamat.

"Dan sekarang sudah menjadi bagian keluarga Labuan Bajo, ya, Kakak!" ujar Silvester.

Silvester menjelaskan tentang situasi di Niang Gendang tersebut. Di dalamnya ada lima tingkat atau lima lantai. Lantai pertama menjadi tempat beraktivitas kita sebagai masyarakat atau tempat tinggalnya.

"Tapi di lantai pertama ini, dibagi dua bagian. Di belakang sini untuk keluarga yang menempati rumah dan bagian depan untuk masyarakat pada umumnya saat melakukan pertemuan, diskusi tentang sesuatu, dan melakukan upacara adat," tutur Silvester.

Lantai kedua, ketiga, dan keempat merupakan tempat untuk menyimpan bahan makanan dan barang-barang yang lain. Lantai kelima adalah tempat khusus untuk persembahan. Untuk pergi ke setiap lantai, penghuni harus menaiki tangga manual terbuat dari sebatang bambu panjang dan ada pijakan kakinya.

Selesai upacara adat, seorang kemudian mengarahkan kami ke kamar. Karena kami datang terakhir, kamar yang tersedia berada di bawah, bukan di dalam Mbaru Niang. Bangunan ini merupakan bangunan tambahan berdinding kayu dan beratap ijuk. Di dalamnya sudah berbaris 10 buah kasur ukuran single. Setiap orang mendapatkan satu tempat tidur, selimut, dan bantal.

Pemandu juga memberi tahu di mana letak kamar mandi, toilet, arah kiblat bagi muslim yang hendak menjalankan salat, jam makan malam dan sarapan, serta ketersediaan listrik. Listrik di Waerebo hanya akan menyala setiap pukul 18.00-22.00 WITA.

Sumber listrik di sini tidak berasal dari jaringan PLN, melainkan mengandalkan generator (genset) atau tenaga surya dalam kapasitas terbatas. Setelah pukul 22.00 WITA, seluruh lampu dan aliran listrik akan dimatikan, sehingga suasana desa menjadi gelap gulita.

4. Story telling dan makan malam bersama

Sesi bercerita bersama Marselus Esby di Desa Waerebo (IDN Times/Fasrinisyah Suryaningtyas)

Sekitar pukul 18.15 WITA, wisatawan berkumpul di salah satu Mbaru Niang untuk menikmati secangkir kopi manggarai atau teh hangat, sembari mengikuti sesi bercerita (story telling). Sesi ini dibagi menjadi dua kelompok, yakni Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris, serta dilangsungkan di dua rumah berbeda. Wisatawan bebas memilih mau ikut sesi yang mana.

Penulis bersama rombongan mengikuti sesi Bahasa Indonesia bersama salah satu pengelola wisata Waerebo, Marselus Esby. Kami duduk di atas tikar yang terbuat dari anyaman pandan dan di dalamnya terdapat kapuk.

Marselus memulai sesi ini dengan menceritakan sejarah Waerebo. Melalui cerita yang dituturkan secara turun-temurun, leluhur orang Waerebo yang bernama Empu Maro sudah mendiami lembah ini sejak 1.200 tahun yang lalu. Ia tidak berasal Flores, melainkan orang Minangkabau dari Sumatera. Jadi, masyarakat Waerebo meyakini bahwa leluhur mereka adalah orang Minangkabau.

"Sebelum mereka menemukan lembah ini, mereka sempat berlayar sampai daerah Sulawesi sana dulu, nama tempatnya Gowa. Dari Gowa berlayar lagi turun di Bajo atau daratan Flores," ujar Marselus.

Setelah menjelajahi beberapa tempat di Flores, terjadi konflik yang membuat Empu Maro dan pengikutnya memutuskan untuk mencari tempat baru. Mereka akhirnya menemukan Waerebo dengan penuh perjuangan. Berbagai ritual dilakukan untuk memohon keselamatan dan perlindungan. Tempat ini juga tidak jauh dari mata air yang menjadi sumber kehidupan.

Dalam tatanan sosial dan filosofi hidup masyarakat Manggarai, Waerebo dianggap memenuhi lima konsep dasar ruang hidup dan pilar budaya sebagai perkampungan budaya. Lima konsep tersebut adalah Beo Bate Elor atau pemukiman, Natas Bate Labar atau halaman terbuka, Mbaru Gendang atau rumah adat, Compang Bate Takung atau altar pemujaan, dan Lingko atau sawah.

Suasana makan malam di Waerebo (IDN Times/Fasrinisyah Suryaningtyas)

Setelah sesi bercerita, Marselus bersama timnya mengajak wisatawan menikmati makan malam. Mereka mengeluarkan satu set alat makan dan gelas, kemudian menunya. Wisatawan diarahkan untuk mengambil makanan sendiri dengan bijak. Ada pun menu makan malamnya terdiri dari nasi putih, sayur daun ubi dan labu siam, gorengan, telur rebus berbumbu, kerupuk singkong, dan sambal.

Rasanya tergolong baru di lidah kami, terutama sayur daun ubi dan juga sambalnya. Menurut penuturan warga, bumbu masakan tersebut cukup sederhana, tetapi rasanya memang nikmat.

Suasana makan malam itu pun begitu hangat meski sebagian besar wisatawan tidak saling mengenal. Mereka bahkan saling bantu untuk menggeser atau mengambil menunya. Di sela-sela momen tersebut, tak sedikit yang saling bertukar cerita dan ngobrol seru. Tak lama kemudian, sesi makan malam diakhiri karena harus bergantian dengan tamu lain yang belum makan.

4. Matahari yang "terlambat" muncul

Potret Desa Waerebo di Manggarai, Nusa Tenggara Timur (IDN Times/Fasrinisyah Suryaningtyas)

Setelah tidur selama beberapa jam dalam kondisi gelap gulita, kami siap memulai hari sejak pukul 5.00 WITA. Begitu pula dengan tamu lainnya. Mereka terlihat mulai melakukan beragam aktivitas. Ada yang mengantre di depan toilet dan kamar mandi, jalan-jalan santai di halaman desa, hingga naik ke bukit untuk menikmati udara pagi yang cukup dingin.

Suasana saat itu sudah mulai terang, tetapi matahari rupanya masih malu untuk muncul. Menurut masyarakat setempat, matahari baru akan "menyapa" Waerebo sekitar pukul tujuh pagi, bisa kurang dan lebih tergantung musim. Hal ini dikarenakan posisi Waerebo berada di lembah yang diapit perbukitan tinggi.

Beberapa anggota rombongan penulis sudah terlebih dahulu naik ke bukit yang ada di seberang halaman desa. Di bagian lereng bukit juga sudah terlihat banyak orang yang hendak mengabadikan momen dengan latar Mbaru Niang. Untuk mencapai bukit tersebut, penulis harus melintasi jalan setapak di area makam. Tak lupa penulis ucapkan kata "permisi" saat berjalan di sana, sembari berhati-hati, agar tidak menginjak bagian makam.

Di puncak bukit, terdapat sebuah bangunan panggung tradisional dengan dinding kayu dan atap ijuk kerucut seperti Mbaru Niang. Bangunan ini berfungsi sebagai perpustakaan.

Di dalamnya terdapat buku bacaan anak-anak dan pengetahuan umum, serta koleksi foto renovasi Waerebo. Setelah puas berkeliling perpustakaan, penulis dan rombongan bergantian mengambil foto dengan latar Waerebo dari atas, sembari melihat mentari mulai menyinari desa ini.

5. Tentang perempuan Waerebo dan kain tenun

Potret masyarakat Waerebo (IDN Times/Fasrinisyah Suryaningtyas)

Puas mengambil foto dari atas bukit, saatnya turun ke halaman desa. Suasana makin ramai dan terlihat beberapa warga berinteraksi dengan tamu. Tak lama kemudian, pemandu wisata memanggil tamu untuk sarapan di salah satu rumah. Menu pagi itu adalah nasi goreng dengan telur dadar. Sederhana, tapi rasanya begitu nikmat, karena disantap di salah satu desa tercantik di dunia.

Selepas sarapan, kami keluar dari rumah dan menghampiri seorang anak yang menggelar dua buah nampan di depan rumah. Rupanya, nampan tersebut berisi gelang yang dibuat oleh masyarakat setempat dan dijual sebagai cendera mata atau suvenir. Harganya Rp10 ribu per buah.

Tak jauh dari situ, ada pula seorang perempuan dan laki-laki sedang melakukan hal sama, yakni menggelar dagangannya yang lebih bervariasi. Ada gelang, peci, gantungan kunci, selendang kecil, hingga buah markisa. Salah satu perempuan terlihat sedang membantu tamu untuk memakaikan gelang di tangannya.

Potret perempuan di Desa Waerebo sedang menenun (IDN Times/Fasrinisyah Suryaningtyas)

Beberapa saat kemudian, seorang perempuan bernama Mama Bertha keluar dari rumah dan berjalan menuju ke bagian bawah rumah. Di sana sudah terdapat satu set alat tenun tradisional lengkap dengan benang.

Di kalangan suku Manggarai, perempuan dan tenun adalah dua hal yang tak bisa dipisahkan. Setiap helai benang tenun terdapat denyut nadi kehidupan yang merajut identitas budaya, menjaga warisan leluhur, dan pilar penggerak roda ekonomi yang menopang masa depan keluarga. Mama Bertha mengatakan bahwa ia sudah belajar menenun sejak lulus sekolah dasar.

"Saya sudah tamat dari SD. Sudah 2 tahun di kampung, mama saya melatih menenun," ujar Mama Bertha.

Untuk satu buah sarung tenun, Mama Bertha membutuhkan waktu 2-3 bulan. Harganya mulai dari Rp800 ribu. Penulis kemudian memegang kain tersebut dan langsung terasa cukup berat atau tebal. Tak heran kalau masyarakat Waerebo kerap mengenakannya sebagai penghalau udara dingin.

Sebagai informasi tambahan, masyarakat Manggarai menyebut kain hasil tenunan sebagai songke. Umumnya, songke berwarna dasar gelap dan menggunakan motif floral padat pada satu sisi sarung. Warna dasar benang hitam yang dipakai dalam tenun ini melambangkan kebesaran dan keagungan, serta kepasrahan bahwa semua manusia pada suatu saat akan kembali kepada Sang Pencipta. Sementara itu, warna benang untuk sulamannya cenderung mencolok, seperti merah, putih, oranye, dan kuning.

Selain itu, mereka juga membuat tenun todo. Tenun ini memiliki ciri khas berupa benang dasar berwarna merah dan dikombinasi dengan warna hitam, serta memiliki pola garis sejajar tanpa motif. Saat momen menenun tersebut, Mama Bertha terlihat mengenakan tenun Todo berwarna merah.

Menyepi sejenak di Waerebo mengajarkan kami sejauh mana pun kita bertualang, kedamaian justru hadir saat kita berani melepaskan diri untuk sementara waktu dari hiruk-pikuk dunia. Di antara kabut yang putih, kehangatan senyum warga lokal, dan megahnya Mbaru Niang, hilangnya sinyal bukanlah sebuah keterbatasan, melainkan momentum untuk kembali menyapa alam dan meresapi setiap detik kehidupan secara utuh.

Saat kabut perlahan pamit dan langkah kaki harus kembali ke realita, kenangan manis tentang hangatnya rumah di atas awan ini akan selalu memanggil untuk kembali. Sekali seumur hidup, pastikan kamu menginjakkan kaki di sini, ya!

Curated For You

Editorial Team

Related Article