Potret Labuan Bajo di Manggarai Barat, NTT (IDN Times/Fasrinisyah Suryaningtyas)
Sama seperti wisatawan pada umumnya, kami memulai perjalanan dari Labuan Bajo. Kamu sudah tiba sehari sebelum keberangkatan ke Waerebo, tepatnya pada Senin (12/10/2026). Malam harinya, kami menata barang-barang yang akan dibawa ke Waerebo ke dalam ransel, karena tidak mungkin menggeret koper sembari trekking, kan?
Keesokan harinya, kami berangkat dari hotel tepat pukul 07.30 WITA. Perjalanan dengan mobil Hiace ini mengambil rute Trans Flores ke arah selatan, yakni melintasi Lembor dan Nangalili. Sepanjang perjalanan, terhampar luas hutan, sawah, dan rumah-rumah penduduk. Kondisi jalanannya berkelok dan naik turun. Beberapa rekan perjalanan sudah siap dengan obat anti mabuk dan minyak angin. Saya pun memilih lanjut tidur, agar tidak pusing.
Saya terbangun di sebuah desa bernama Nangalili yang ada di wilayah Lembor Selatan, Manggarai Barat. Pemandangan yang tersaji di wilayah ini adalah tanah dan pepohonan yang mengering, serta sungai panjang yang mengarah ke laut. Waktu sudah menunjukkan pukul 9.36 WITA dan selama dua jam perjalanan, ternyata belum keluar dari wilayah Manggarai Barat. Luas juga, ya...
Potret Wae Wuang di Manggarai, Nusa Tenggara Timur (IDN Times/Fasrinisyah Suryaningtyas)
Setengah jam kemudian, rombongan melintasi Pantai Repi dan berhenti sebentar untuk berfoto. Bagian puncak bukit Nuca Molas atau Pulau Mules mulai terlihat dari sini. Perjalanan berlanjut hingga ke Jembatan Wae Wuang yang menjadi pembatas antara Manggarai Barat dan Manggarai. Dari jembatan ini, Nuca Molas makin terlihat jelas.
Selanjutnya, perjalanan menelusuri jalan raya dengan pemandangan laut ini berlanjut hingga ke Dintor. Dari Dintor, kami belok kiri ke arah Desa Denge hingga tiba di Basecamp Wae Rebo atau Tourist Informaton Center (TIC). Saat itu, waktu sudah menunjukkan pukul 11.30 WITA. Artinya, total perjalanan dari Labuan Bajo ke Basecamp Waerebo sekitar empat jam.
Semua wisatawan yang hendak memasuki Waerebo harus mampir ke basecamp ini. Ketua rombongan wajib menyerahkan bukti reservasi dan melakukan pembayaran tiket masuk, kemudian diverifikasi petugas. Di wilayah ini, sinyal juga sudah hilang. Pengelola pun menyediakan WiFi terbatas di dalam basecamp.
Potret Basecamp Waerebo atau Tourist information Center (IDN Times/Fasrinisyah Suryaningtyas)
Selanjutnya, kami makan siang, salat, hingga mengecek kebutuhan dan barang pribadi. Untuk makan siangnya, panitia memesan di sebuah homestay dengan menu beragam, seperti sayur tumis, ikan bakar, ayam goreng, tempe goreng, sambal, dan kerupuk. Primadonanya tentu saja ikan bakar!
Perut kenyang, saatnya briefing dari pengelola. Sesi ini dipimpin langsung oleh Koordinator Reservasi Tamu Lembaga Pelestari Budaya Waerebo (LPBW), Mikael Tonso. Ia memberikan informasi tentang etika berkunjung ke Waerebo yang harus dipahami wisatawan.
Mikael mengimbau wisatawan mengenakan pakaian yang sopan, tidak mengambil foto dan video setelah Pos 7 (harus ikut upacara adat penyambutan terlebih dahulu), tidak memberi jajan dan uang ke anak-anak secara langsung (harus melalui pengelola atau orangtua mereka), tidak membawa atau mengonsumsi minuman beralkohol, tidak naik ke altar budaya yang ada di tengah halaman desa, dan tidak mengganggu hewan peliharaan warga.