5 Kesalahan Turis Indonesia di Jepang yang Bisa Berujung Denda

- Turis Indonesia di Jepang sering melakukan kesalahan seperti membuang sampah sembarangan, makan sambil berjalan, dan berbicara keras di transportasi umum yang bisa berujung teguran atau denda.
- Pemerintah Jepang menerapkan aturan ketat demi menjaga kebersihan dan kenyamanan publik, termasuk denda 2.000 yen bagi pelanggar serta kampanye edukasi etika wisatawan.
- Selain itu, turis diimbau mematuhi aturan merokok, budaya antre, serta etika lokal seperti melepas sepatu di area tertentu agar perjalanan tetap nyaman dan menghormati budaya setempat.
Berkunjung ke luar negeri tentu menjadi pengalaman menyenangkan bagi banyak orang, termasuk turis asal Indonesia yang gemar menjelajahi budaya baru. Jepang menjadi salah satu destinasi favorit karena terkenal dengan teknologi maju, transportasi tertib, serta budaya yang kental. Namun, perbedaan kebiasaan dan aturan sosial sering kali membuat wisatawan tanpa sadar melakukan hal-hal yang dianggap tidak sopan atau bahkan melanggar hukum setempat.
Di negara yang menjunjung tinggi keteraturan seperti Jepang, beberapa tindakan yang terlihat sepele bagi turis justru bisa berujung teguran hingga denda. Mulai dari kebiasaan makan sambil berjalan, membuang sampah, hingga menggunakan transportasi umum tanpa mematuhi aturan tertentu. Karena itu, penting bagi turis Indonesia untuk memahami etika dan aturan lokal agar perjalanan tetap nyaman tanpa masalah. Berikut beberapa kesalahan turis Indonesia di Jepang yang harus dihindari.
1. Membuang sampah sembarangan

Jepang terkenal dengan kebersihan yang menjadi bagian penting budaya masyarakatnya. Meskipun tempat sampah umum tidak mudah ditemukan di ruang publik, warga dan turis asing tetap diharapkan membawa kembali sampah mereka sampai menemukan tempat pembuangan sampah. Dilansir laman Tokyo Reporter, aturan denda bagi pelaku pembuang sampah sembarangan sebesar 2.000 yen kepada siapa pun yang tertangkap membuang sampah sembarangan.
Selain itu, kebijakan ini juga muncul karena meningkatnya jumlah wisatawan dan aktivitas masyarakat setelah pandemik. Lonjakan pengunjung di kawasan populer seperti Shibuya dan Harajuku membuat volume sampah ikut meningkat, sehingga pemerintah perlu mengambil langkah konkret untuk mengendalikan masalah tersebut. Aturan ini juga pengingat untuk selalu menghormati norma dan kebijakan setempat.
2. Makan dan minum sambil berjalan

Lonjakan jumlah wisatawan ke Jepang membuat pemerintah semakin serius mengedukasi pengunjung tentang etika dan kebiasaan lokal. Perbedaan budaya sering kali membuat wisatawan tanpa sadar melakukan tindakan yang dianggap tidak sopan, meskipun sebenarnya tidak memiliki niat buruk. Melalui kampanye edukasi untuk tidak makan sambil berjalan. Hal ini sangat penting untuk menjaga kenyaanan lokal. Sebagai aturan umum, turis juga disarankan berhenti sejenak di dekat tempat penjual atau mencari area khusus untuk menikmati makanan sebelum melanjutkan perjalanan.
3. Berisik di transportasi umum

Transportasi umum Jepang seperti kereta dan subway dikenal sangat tertib dan tenang. Penumpang biasanya menjaga suara agar tetap rendah demi kenyamanan bersama. Karena itu, berbicara terlalu keras atau menelepon di dalam kereta sering dianggap tidak sopan dan bisa mengganggu orang lain yang sedang istirahat atau fokus pada perjalanan. Aturan tidak tertulis ini juga berlaku ketat di kota-kota besar seperti Osaka. Jika ada penumpang yang terlalu berisik, mereka bisa saja ditegur oleh sesama penumpang atau bahkan diperingatkan oleh petugas.
4. Salah aturan merokok

Aturan merokok di ruang publik cukup ketat dan tidak bisa dilakukan sembarangan. Perokok biasanya harus menggunakan area khusus yang telah disediakan agar tidak mengganggu kenyamanan orang lain maupun menjaga kebersihan lingkungan. Di beberapa kawasan ramai seperti Shibuya di Tokyo, aktivitas merokok di luar area yang ditentukan bahkan bisa dikenai denda yang cukup besar. Karena itu, turis perlu memperhatikan rambu dan aturan setempat.
5. Tidak mengikuti aturan antre dan etika umum

Disiplin dan budaya antre di ruang publik merupakan hal yang sangat dijunjung tinggi di Jepang. Menyerobot antrean bisa dianggap tindakan tidak sopan dan sering kali mendapat tatapan tidak nyaman dari orang sekitar. Selain itu, turis juga perlu memperhatikan aturan sederhana seperti melepas sepatu area tertentu, terutama saat memasuki rumah tradisional, restoran, atau tempat ibadah. Di kota bersejarah seperti Kyoto, pelanggaran etika di kuil atau area suci bahkan bisa berujung teguran serius karena masyarakat setempat sangat menjaga kesakralan situs bersejarah.
Berlibur ke Jepang menawarkan pengalaman budaya yang unik dan berbeda. Namun, wisatawan juga perlu memahami aturan serta etika yang berlaku agar tidak melakukan kesalahan yang bisa berujung teguran bahkan denda. Sebelum berkunjung ke Jepang, ada baiknya mempelajari budaya setempat agar liburan tetap seru tanpa adanya hambatan.


















