One Day Trip di Jakarta setelah Konser ONE OK ROCK

- Setelah konser ONE OK ROCK di Jakarta, penulis memanfaatkan waktu sehari untuk menjelajahi kota menggunakan transportasi umum sebelum kembali ke Yogyakarta.
- Itinerary perjalanan mencakup kunjungan ke Sea World Ancol, menikmati kuliner dan suasana sore di Kota Tua, serta menyaksikan pertunjukan Dancing Fountain di Monas.
- Perjalanan ditutup dengan menuju Stasiun Pasar Senen menggunakan TransJakarta, menunjukkan bahwa wisata sehari di Jakarta bisa efisien dan menyenangkan dengan transportasi publik.
Euforia konser ONE OK ROCK bertajuk DETOX yang digelar pada Sabtu (16/05/2026) di Indonesia Arena, Jakarta, telah berakhir. Setiap penonton mendapatkan kenangan dan kesan personal masing-masing setelah pulang dari venue. Sebagian langsung kembali ke kota asal, ada pula yang masih menikmati suasana kota Jakarta lebih lama, termasuk penulis.
Penulis memilih kembali ke kota asal dengan keberangkatan kereta api (KA) tengah malam dari Stasiun Pasar Senen menuju Stasiun Lempuyangan, Yogyakarta. Alasannya, supaya masih punya jeda cukup panjang dan istirahat cukup setelah menonton konser. Kemudian, menggantinya dengan mengunjungi beberapa tempat di Jakarta menggunakan transportasi umum.
Mau tahu tempat mana saja yang dapat dikunjungi dalam sehari saat di Jakarta? Berikut ini itinerary penulis untuk one day trip di Jakarta setelah konser ONE OK ROCK. Yuk, simak sampai selesai!
1. Sedikit drama penitipan barang di loker padu

Penulis memulai perjalanan pada Minggu (17/05/2026) sekitar pukul 09.00 dari kawasan Kebon Kacang. Awalnya, berniat untuk menitipkan barang di Loker Padu Sarinah, lokasi paling dekat. Jalanan dipadati warga yang sedang berolahraga dan menjajakan dagangannya di car free day (CFD) Jalan MH Thamrin.
Gerai di dalam Mal Sarinah memang belum beroperasi, tetapi pengunjung bisa mengaksesnya. Jika ingin mengakses Lantai 3, di mana loker padu berada, maka perlu naik lift. Sebab, akes menggunakan eskalator masih ditutup dan dibersihkan.
Setelah bolak-balik, akhirnya dapat menemukan lokasi Loker Padu Sarinah yang berada di sudut, dekat lift barang. Proses sewa mengalami kendala, pintu loker tidak terbuka setelah menunggu sekitar 5 menit. Hanya ada menu “Pembatalan Sewa” yang aktif pada aplikasi, mau tidak mau pun harus memilihnya.
Kemudian, bergeser sedikit dengan naik Trans Jakarta (TJ) Koridor 1 dari Halte MH Thamrin ke Bundaran HI Astra. Kemudian, berjalan kaki menuju Pintu Masuk/Exit B Stasiun MRT Bundaran HI Bank DKI. Lokasi loker padu berada di luar, letak pintu masuknya dekat dengan Kedutaan Besar Jepang dan proses sewa pun berlangsung lancar.
2. Perjalanan menuju Sea World Ancol

Saatnya menuju Sea World Ancol sebagai lokasi pertama dalam itinerary kali ini. Penulis naik TJ Koridor 1 dari Halte Bundaran HI Astra menuju Kali Besar. Niat hati ingin naik Jaklingko atau angkot, ternyata cukup lama menunggu dan tidak kunjung lewat. Skenario perjalanan pun diganti dengan naik taksi online.
Tenang saja, kamu tidak akan dikenakan biaya tambahan untuk pengemudi maupun transportasi online-nya. Mereka akan memberikan barcode kepada pengemudi yang digunakan untuk keluar area Ancol. Cara ini bisa jadi alternatif buat kamu yang ingin cepat sampai di depan area tertentu dan jauh dari pintu masuk.
Jika ingin lebih praktis, kamu juga bisa membeli tiket Pintu Masuk Ancol dan area yang ingin dikunjungi secara online. Lebih menguntungkan karena tinggal memindai QR code tanpa antrean panjang. Sesekali bisa mendapatkan harga lebih terjangkau saat ada promo di website resmi maupun online travel agent (OTA).
3. Sea World Ancol

Sea World Ancol
Sampai di pintu masuk Sea World Ancol, pengunjung akan melalui beberapa spot seperti loket dan pemeriksaan barang sebelum mendapatkan stempel. Pastikan kamu tidak membawa makanan atau minuman kemasan dari luar. Jika membawa sejumlah barang yang tidak diizinkan, akan diarahkan untuk menitipkannya dan dapat diambil kembali nanti.
Sebelum menjelajah lebih jauh, tiket akan dipindai dan punggung tangan diberi stempel. Pengunjung dapat melihat setiap spot sepuasnya hingga pukul 18.00. Penulis tiba di sana sudah hampir tengah hari, tetapi menjadi keuntungan tersendiri karena tidak perlu menunggu lama jika ingin melihat feeding show.
Baru beberapa menit, feeding show untuk Shark Aquarium dimulai, pukul 11.45. Pengunjung akan dihibur dengan penyelam yang memberi makan ikan hiu dalam akuarium. Selain itu, sambil mendengarkan penjelasan dari edukator yang mendampingi.
Bagi yang ingin melihat feeding show, informasi jadwalnya ditempel di beberapa sudut. Penulis sempat melihat feeding show piranha (pukul 12.45) dan seluruh jenis ikan di akuarium utama (pukul 14.00). Jenis ikan yang berbeda, maka cara pemberian makannya pun tidak sama.
Tunnel pun cukup lengang, sehingga mengeksplorasi setiap sudutnya tidak perlu berdesakan maupun mengantre. Ada banyak zona yang dapat dilihat, antara lain berbagai jenis ikan pari, ikan karang, piranha, hingga penghuni Sungai Amazon seperti arapaima serta ikan aligator gar. Selain ikan, ada penyu, ubur-ubur, dan gurita.
Tidak hanya fauna perairan yang masih hidup, tetapi juga ada area khusus untuk diorama dan spesimen lengkap dengan informasi tertulis. Aktivitas lain yang dapat dilakukan di tempat ini, terutama untuk anak-anak, yakni menjajal wahana VR, memberi makan ikan, dan melukis wajah. Dekat dengan pintu keluar pun dilengkapi dengan toko suvenir dan food court untuk memenuhi kebutuhan pengunjung.
Setelah sekitar 3 jam berada di Sea World, penulis melanjutkan perjalanan ke tempat berikutnya. Kali ini menggunakan Bus Wara-Wiri Ancol secara gratis dari Halte Gondola, dekat Stasiun C Gondola Ancol (gedung biru) ke Halte Transjakarta Ancol. Kemudian, naik TJ Koridor 5 ke Halte Gunung Sahari untuk transit dan pindah ke Koridor 12B menuju Kota Tua.
4. Kota Tua Jakarta

Sore kala itu cukup cerah untuk menyusuri Kota Tua, penulis memilih kulineran sejenak di sini. Meski tempat wisata yang ramai pengunjung, harganya masih wajar. Terlebih untuk street food dan makanan kaki lima.
Penulis mulai menjelajahi Kota Tua Jakarta dari Museum Bank Indonesia ke arah Museum Bank BNI. Deretan penjaja kuliner maupun suvenir dapat dijumpai di sini. Atmosfernya sedikit berbeda, lebih lengang ketika menuju Taman Fatahillah. Jalannya lebar, pengunjung sering menjadikannya tempat berswafoto, duduk santai, dan menyantap hidangan di restoran atau kafe.
Sedangkan di Taman Fatahillah pengunjung dapat menikmati live music sambil menikmati suasana sore. Area terbuka yang ramah pejalan kaki ini memang menjadi salah satu spot favorit para pengunjung. Dikelilingi bangunan bersejarah, luas, dan dekat dengan berbagai penjuru.
Setelah puas menikmati suasana Kota Tua Jakarta, penulis kembali ke Jakarta Pusat dengan tetap mengandalkan TJ Koridor 1 dari Halte Kali Besar ke Bundaran HI Astra. Kemudian, berjalan kaki untuk mengambil barang di PaxelBox Stasiun MRT Bundaran HI Bank DKI. Selanjutnya, ngadem sekaligus istirahat sejenak di Plaza Indonesia hingga Isya tiba.
5. Dancing Fountain Monas

Masih ada satu tempat lagi yang dapat dikunjungi sambil menunggu keberangkatan KA Progo pukul 23.20 dari Stasiun Pasar Senen. Penulis melanjutkan perjalanan dengan naik TJ Koridor 1 dari Halte Bundaran HI Astra ke Monas. Bertepatan dengan akhir pekan, sehingga dapat melihat Dancing Fountain di taman sisi barat Tugu Monumen Nasional.
Ketika penulis tiba, sesi pertama baru saja berakhir. Alhasil, menunggu di amfiteater untuk sesi kedua yang dijadwalkan pukul 20.30–21.00. Sejumlah pengunjung turut menikmati malam dengan piknik dan quality time bersama orang terdekat.
Tepat sebelum pertunjukan air mancur dimulai, petugas menginformasikan kepada pengunjung untuk segera berkumpul. Saat lampu dipadamkan, Dancing Fountain pun dimulai. Perpaduan cahaya warna-warni, air mancur, dan diiringi irama musik lagu-lagu daerah menjadi hiburan yang memukau.
Sekitar 15 menit berlangsung, ada jeda beberapa detik sebelum pertunjukan kembali dilanjutkan. Tepuk tangan meriah para penonton menjadi pertanda berakhirnya atraksi tersebut. Satu per satu pengunjung meninggalkan tempat dengan tertib, demikian pula dengan penulis.
6. Perubahan rute menuju Stasiun Pasar Senen

Penulis melanjutkan perjalanan menuju Stasiun Pasar Senen. Berangkat dari Halte Balai Kota ke Senen TOYOTA Rangga dengan naik TJ Koridor 2. Tidak ingin jalan kaki lebih jauh, maka saat tiba di halte, memilih naik Koridor 14 atau 14B untuk turun di Terminal Pasar Senen.
Kala itu, JPO Senen sedang dalam perbaikan, sehingga akses menuju Halte Jaga Jakarta (eks Senen Sentral) ditutup sementara. Kini, beroperasi TJ Koridor 21ST Shuttle Senen yang menghubungkan kedua halte tersebut. Namun waktu tunggunya cukup lama saat malam hari, sehingga bisa menggunakan rute lain sebagai alternatif.
Hanya berjalan beberapa ratus meter dari Halte Terminal Senen, akhirnya sampai juga di stasiun. Hampir tidak ada perbedaan ramainya siang dan malam, para pedagang, ojek online, dan calon penumpang masih berlalu-lalang. Penulis menunggu kedatangan kereta di dalam gedung stasiun yang lebih sejuk.
Satu hari saja dapat mengunjungi beberapa kota di Provinsi Jakarta menggunakan transportasi umum. Wisata gratis berupa taman atau kawasan Kota Tua dapat menjadi tempat hiburan warganya untuk melepas penat. Sampai jumpa di perjalanan berikutnya!



![[QUIZ] Wisata Pantai di Anyer yang Cocok untuk Long Weekend Kamu](https://image.idntimes.com/post/20191229/whatsapp-image-2019-12-29-at-095429-8d4f13cc7ce05c8a1e65db948cb96c9a.jpeg)



![[QUIZ] Dari Lagu No Na, Ini Destinasi Long Weekend yang Cocok untukmu](https://image.idntimes.com/post/20260519/upload_19c2bb2c8c5f82ced8801400effc4b93_f130c67b-d45c-4519-97bf-841a8c90517e.jpg)

![[QUIZ] Dari Pemain Arsenal Favoritmu, Kamu Bakal Long Weekend di Sini!](https://image.idntimes.com/post/20260521/upload_add3d9483e777fb1424ae50c78728797_32fbe7e9-986c-4a9f-80aa-2f201be41c44.jpg)









