Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

5 Tips Bertahan saat Persediaan Air Menipis di Pendakian Gunung

5 Tips Bertahan saat Persediaan Air Menipis di Pendakian Gunung
ilustrasi tumbler (unsplash.com/Bluewater Sweden)
Share Article

Air merupakan kebutuhan paling penting saat mendaki gunung. Namun, ada kalanya pendaki menghadapi situasi tak terduga seperti sumber air yang mengering, perjalanan lebih lama dari perkiraan, atau persediaan air yang menipis sebelum mencapai titik pengisian berikutnya.

Dalam kondisi seperti ini, keputusan yang diambil sangat menentukan keselamatan. Pendaki sebaiknya tidak panik dan menghindari tindakan yang justru mempercepat dehidrasi. Berikut lima tips yang dapat dilakukan saat persediaan air mulai menipis di jalur pendakian.

1. Tenangkan diri dan hitung sisa persediaan air

ilustrasi air mineral
ilustrasi air mineral (pexels.com/Mereka Arance)

Hal pertama yang perlu dilakukan adalah tetap tenang. Kepanikan sering membuat seseorang minum secara berlebihan atau mengambil keputusan yang kurang tepat.

Periksa jumlah air yang masih tersedia, lalu perkirakan jarak menuju sumber air berikutnya atau lokasi turun gunung. Dengan mengetahui kondisi secara jelas, kita dapat mengatur konsumsi air secara lebih bijak. Hindari menghabiskan sisa air sekaligus hanya karena merasa haus.

2. Kurangi aktivitas yang menguras energi

ilustrasi berselisih paham saat mendaki
ilustrasi berselisih paham saat mendaki (pexels.com/Kamaji Ogino)

Mendaki gunung termasuk salah satu kegiatan yang menguras stamina. Semakin berat aktivitas fisik, semakin banyak cairan yang hilang melalui keringat. Jika persediaan air terbatas, usahakan mengurangi intensitas perjalanan.

Berjalanlah dengan ritme yang lebih santai dan hindari berlari atau bergerak terlalu cepat. Saat cuaca sangat terik, manfaatkan area yang teduh untuk beristirahat sejenak. Mengurangi pengeluaran energi membantu tubuh menghemat cairan sehingga risiko dehidrasi dapat ditekan.

3. Jangan makan makanan yang terlalu asin

ilustrasi snack
ilustrasi snack (pexels.com/Makrufin Muhammad)

Perbekalan memang menjadi salah satu hal yang patut diperhatikan karena setiap yang dikonsumsi akan mempengaruhi kondisi tubuh. Makanan tinggi garam dapat meningkatkan rasa haus karena tubuh membutuhkan lebih banyak cairan untuk menjaga keseimbangan elektrolit.

Jika bekal yang tersedia beragam, pilih makanan yang tidak terlalu asin dan mudah dicerna. Sebaiknya tunda mengonsumsi camilan dengan kadar garam tinggi sampai persediaan air kembali mencukupi. Langkah sederhana ini dapat membantu mengurangi kebutuhan minum dalam kondisi darurat.

4. Segera cari sumber air yang aman

ilustrasi mata air gunung
ilustrasi mata air gunung (pexels.com/Thai Truong Giang)

Apabila persediaan hampir habis, mulailah mencari sumber air alami yang memang dikenal aman di jalur pendakian. Sebelum mendaki, sebaiknya setiap pendaki sudah mengetahui letak mata air berdasarkan informasi terbaru dari pengelola atau pendaki lain.

Apabila menemukan air dari mata air, aliran sungai kecil, atau rembesan yang terlihat jernih, usahakan tetap menyaring dan memurnikannya terlebih dahulu. Baik menggunakan filter air, tablet penjernih, atau dengan merebusnya jika memungkinkan. Hindari meminum air yang keruh atau berasal dari genangan karena berisiko mengandung bakteri maupun parasit.

5. Jangan ragu mengubah rencana perjalanan

ilustrasi open trip
ilustrasi open trip (pexels.com/Ivan Samkov)

Keselamatan harus selalu menjadi prioritas utama. Jika persediaan air sudah sangat sedikit sementara sumber air berikutnya masih jauh, pertimbangkan untuk membatalkan pendakian. Atau kembali ke titik terakhir yang memiliki pasokan air.

Memaksakan diri mencapai puncak dalam kondisi dehidrasi dapat meningkatkan risiko. Seperti kelelahan berat, pusing, hingga kehilangan kesadaran. Berdiskusilah dengan anggota tim agar keputusan diambil bersama berdasarkan kondisi seluruh pendaki, bukan hanya keinginan mencapai target.

Persediaan air yang menipis memang menjadi salah satu tantangan terbesar saat mendaki gunung. Namun, dengan tetap tenang, menghemat tenaga, mengatur konsumsi makanan, mencari sumber air secara aman, dan berani mengubah rencana bila diperlukan, risiko dehidrasi dapat diminimalkan. Pendaki yang siap bukan hanya mampu mencapai puncak, tetapi juga pulang dengan selamat.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More