Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Arti 2 PM Rule yang Harus Ditaati saat Mendaki Gunung Everest

Arti 2 PM Rule yang Harus Ditaati saat Mendaki Gunung Everest
Potret Gunung Everest (unsplash.com/Jean Woloszczyk)
  • 2 PM Rule adalah pedoman batas waktu: pendaki yang belum mencapai puncak Everest pukul 14.00 waktu setempat perlu mempertimbangkan berbalik demi menyisakan waktu turun.
  • Aturan ini mempertimbangkan risiko ketinggian ekstrem, termasuk oksigen rendah, suhu beku, kelelahan, cuaca cepat berubah, jarak pandang menurun, dan perjalanan turun yang tetap berat.
  • Penerapannya bergantung pada cuaca, kondisi fisik, jalur, serta arahan pemandu; pendaki harus turun lebih awal bila kondisi memburuk atau muncul gejala kesehatan mengkhawatirkan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Mendaki Gunung Everest bukan sekadar soal kemampuan fisik untuk mencapai puncak tertinggi di dunia. Berada di ketinggian ekstrem dengan kondisi cuaca yang dapat berubah sewaktu-waktu membuat setiap keputusan selama pendakian harus dipertimbangkan dengan matang. Oleh karena itu, terdapat sejumlah aturan dan prosedur keselamatan yang perlu dipatuhi para pendaki, terutama ketika berada di jalur menuju ke puncak.

Salah satu aturan yang cukup dikenal dalam ekspedisi Everest adalah 2 PM Rule. Aturan ini menjadi bagian penting dalam menentukan langkah pendaki ketika berada di zona ketinggian ekstrem dan berkaitan erat dengan keselamatan selama perjalanan.

Lantas, apa sebenarnya 2 PM Rule dan mengapa aturan ini harus ditaati saat mendaki Gunung Everest? Simak penjelasan lengkapnya di bawah ini!

  1. 1. Apa itu 2 PM Rule?

    Secara sederhana, 2 PM Rule merupakan batas waktu pendakian menuju ke Puncak Everest. Pendaki yang belum mencapai puncak hingga pukul 14.00 waktu setempat harus mempertimbangkan untuk berbalik dan memulai perjalanan turun.

    Mengapa pukul 14.00? Dalam pendakian Everest, perjalanan turun sama pentingnya dengan perjalanan menuju ke puncak. Setelah berhasil mencapai puncak, pendaki masih harus melewati jalur ekstrem untuk kembali ke kamp yang lebih rendah.

    Semakin sore seseorang masih berada di ketinggian, semakin besar pula kemungkinan mereka menghadapi kondisi cuaca yang memburuk dan minimnya cahaya. Dengan adanya batas waktu, pendaki memiliki semacam pengingat, agar ambisi mencapai puncak tidak mengalahkan pertimbangan keselamatan.

  2. 2. Mengapa pendaki harus turun sebelum terlalu sore?

    Potret Gunung Everest
    Potret Gunung Everest (unsplash.com/I Do Nothing But Love)

    Ketinggian Everest membuat kondisi di sekitar puncak jauh berbeda dari gunung pada umumnya. Udaranya sangat tipis, kadar oksigen rendah, suhu dapat berada jauh di bawah titik beku, dan tubuh membutuhkan energi lebih besar untuk melakukan aktivitas sederhana.

    Ketika pendaki terlalu lama berada di zona tinggi, kelelahan dapat semakin parah. Kondisi tersebut dapat memperlambat perjalanan turun dan meningkatkan risiko mengalami masalah kesehatan akibat ketinggian.

    Selain faktor fisik, cuaca juga menjadi alasan penting. Kondisi di pegunungan dapat berubah dengan cepat. Jalur yang sebelumnya masih memungkinkan untuk dilalui dapat menjadi jauh lebih sulit ketika angin menguat, suhu turun, jarak pandang berkurang, atau badai datang. Keberhasilan pendakian tidak hanya diukur dari kemampuan mencapai puncak, tetapi juga kemampuan kembali ke tempat yang lebih aman.

  3. 3. Bukan berarti semua pendaki wajib turun tepat pukul 14.00

    Meski dikenal sebagai aturan pukul 14.00, penerapannya tidak selalu sesederhana menunggu jarum jam menunjukkan pukul 14.00, kemudian semua pendaki harus langsung berbalik atau turun. Batas tersebut merupakan pedoman keselamatan yang digunakan untuk membantu menentukan kapan pendaki harus menghentikan upaya menuju puncak.

    Keputusan di lapangan tetap dapat dipengaruhi oleh kondisi cuaca, kondisi fisik pendaki, kondisi jalur, waktu keberangkatan, serta pertimbangan dari pemimpin ekspedisi dan pemandu. Meski aturan ini penting, keselamatan pendakian Everest tentu tidak hanya bergantung pada satu batas waktu.

    Pendaki tetap harus mempersiapkan kondisi fisik, perlengkapan, aklimatisasi, makanan, hidrasi, serta memahami risiko kesehatan akibat berada di ketinggian. Pemantauan cuaca juga menjadi bagian penting dari persiapan. Jika kondisi tidak memungkinkan, pendaki harus siap mengubah rencana, meskipun belum mencapai batas waktu yang ditentukan.

    Begitu pula dengan kondisi tubuh. Jika mulai mengalami gejala yang mengkhawatirkan, jangan menunggu hingga pukul 14.00 untuk mengambil keputusan. Pendaki harus segera berkomunikasi dengan pemandu atau tim ekspedisi dan mempertimbangkan untuk turun.

  4. 4. Apa risikonya jika 2 PM Rule diabaikan?

    Potret Gunung Everest
    Potret Gunung Everest (unsplash.com/Weichao Deng)

    Mengabaikan batas waktu dapat membuat perjalanan menjadi semakin berisiko. Salah satu persoalan terbesar adalah pendaki harus turun dalam kondisi yang lebih gelap dan cuaca yang berpotensi memburuk.

    Di ketinggian ekstrem, kelelahan juga bukan persoalan sepele. Pendaki dapat mengalami penurunan konsentrasi, koordinasi tubuh yang buruk, hingga kesulitan mengambil keputusan. Jika kondisi tersebut terjadi saat perjalanan turun, risiko terpeleset, tersesat, atau mengalami kecelakaan dapat meningkat.

    Selain itu, semakin lama seseorang berada di zona ketinggian ekstrem, semakin besar pula paparan terhadap suhu rendah dan kadar oksigen yang minim. Kondisi ini dapat memperburuk masalah kesehatan akibat ketinggian.

    Perjalanan turun dari Puncak Everest pun membutuhkan energi. Oleh karena itu, pendaki tidak seharusnya menganggap bahwa mencapai puncak merupakan akhir dari pendakian.

  5. 5. Kenapa aturan ini penting bagi pendaki Everest?

    Kondisi Gunung Everest tidak bisa dibandingkan begitu saja dengan gunung-gunung yang lebih rendah. Bahkan, pendaki berpengalaman sekalipun tetap dapat menghadapi situasi tidak terduga ketika berada di ketinggian ekstrem.

    Oleh karena itu, setiap pendaki perlu memahami bahwa keberhasilan ekspedisi bukan hanya tentang berdiri di Puncak Everest. Pendakian baru benar-benar dapat dianggap berhasil ketika pendaki dapat kembali dengan selamat.

    Pada akhirnya, 2 PM Rule membantu membangun batas yang jelas, agar pendaki tidak terus memaksakan diri hanya karena sudah menghabiskan banyak waktu, tenaga, dan biaya untuk mencapai puncak. Jika kondisi tidak memungkinkan, sebaiknya kembali daripada mempertaruhkan keselamatan demi mencapai puncak.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More