Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Cara Cek Hotspot sebelum Mendaki Gunung saat Musim Kemarau

Cara Cek Hotspot sebelum Mendaki Gunung saat Musim Kemarau
ilustrasi pendaki mengecek titik panas (pexels.com/Kampus Production)
  • Kekeringan Agustus–September 2026 dan potensi musim hujan pertengahan Oktober meningkatkan risiko karhutla bagi pendaki, meski jalur cenderung lebih cerah dan mudah dilalui.
  • Pendaki dapat memantau hotspot sebelum berangkat melalui SiPongi+ Kementerian Kehutanan, Citra Polar Hotspot BMKG, FIRMS NASA, serta lapisan Wildfires di Google Maps.
  • Setiap platform menyediakan detail titik panas berbeda, termasuk lokasi, waktu, satelit, dan tingkat kepercayaan; data satelit perlu dikonfirmasi kembali kepada pengelola taman nasional atau basecamp.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Beberapa waktu belakangan banyak terjadi kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Bahkan, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan kekeringan pada periode Agustus–September 2026 lebih berdampak. Terlebih, karena adanya fenomena El Niño, diperkirakan wilayah Indonesia baru memasuki musim hujan pada pertengahan Oktober 2026. Pernyataan tersebut bisa menjadi kabar baik atau kabar buruk bagi para pendaki.

Kabar baiknya, jalur biasanya cenderung lebih mudah dilalui, cuaca relatif cerah, potensi tinggi untuk menikmati panorama dengan jarak pandang yang jauh, dan mayoritas gunung dibuka untuk aktivitas pendakian. Kabar buruknya, kamu harus bersiap dengan risiko karhutla yang menjadi ancaman nyata, karena memengaruhi jalur hingga keselamatan diri. Kamu bisa melakukan beberapa tindakan pencegahan, salah satunya dengan mengecek hotspot atau titik panas.

Sebelum berangkat mendaki gunung saat musim kemarau, sebaiknya luangkan waktu beberapa menit untuk mengunjungi platform berikut ini. Semuanya dapat diakses lewat browser, sehingga cocok digunakan oleh siapa saja. Berikut cara cek hotspot di setiap platform.

  1. 1. SiPongi+ Kementerian Kehutanan

    ilustrasi tampilan dan keterangan SiPongi+ Kementerian Kehutanan
    ilustrasi tampilan dan keterangan SiPongi+ Kementerian Kehutanan (facebook.com/KementerianKehutanan)
    1. Buka laman SiPongi+ di https://sipongi.gakkum.kehutanan.go.id/.
    2. Pilih menu “PETA HOTSPOT” untuk melihat peta persebaran titik panas. 
    3. Perbesar peta pada wilayah yang ingin dipantau.
    4. Kamu juga bisa klik ikon lapisan di pojok kanan bawah untuk pencarian lebih cepat dan spesifik. Pilih jenis satelit, confidence level, provinsi, dan periode yang diinginkan.
    5. Perhatikan titik panas yang muncul.
    6. Klik pada simbol titik yang menunjukkan adanya hotspot untuk mendapatkan informasi lebih rinci seperti tanggal, sumber, koordinat, tingkat kepercayaan, nama provinsi, hingga desa di mana titik tersebut berada.

  2. 2. Citra Polar Hotspot BMKG

    tangkapan layar Peta Sebaran Titik Panas dari laman BMKG
    tangkapan layar Peta Sebaran Titik Panas dari laman BMKG (dok. BMKG)
    1. Buka laman https://www.bmkg.go.id/cuaca/satelit/polar-hotspot.
    2. Halaman akan menampilkan Citra Sebaran Titik Panas (Hotspot) di Indonesia secara berkala.
    3. Jika ingin informasi lebih rinci, buka laman https://cews.bmkg.go.id/tempatirk/HOTSPOT/index.html.
    4. Pada bagian kanan terdapat informasi total titik panas di Indonesia, daftar provinsi dan kabupaten/kota dengan jumlah hotspot terbanyak.
    5. Pilih nama provinsi, kabupaten/kota, tingkat kepercayaan, dan hari untuk mendapatkan informasi sebaran titik panas yang lebih spesifik.
    6. Klik pada simbol titik yang menunjukkan adanya hotspot, maka akan muncul informasi nama provinsi dan kabupaten/kota, tingkat kepercayaan, koordinat, satelit, waktu, dan tanggal perekaman data.

  3. 3. FIRMS NASA

    tangkapan layar FIRMS NASA
    tangkapan layar FIRMS NASA (dok. NASA)
    1. Buka laman https://firms.modaps.eosdis.nasa.gov/.
    2. Klik menu “FIRE MAP”, pilih “Global”. Kamu akan diarahkan ke halaman peta sebaran hotspot seluruh dunia.
    3. Klik ikon lokasi di sisi kiri atas untuk menentukan lokasi yang ingin kamu pantau titik panasnya. Kamu juga bisa memperbesar, memperkecil, dan menggeser secara manual.
    4. Klik pada simbol titik merah yang ingin kamu ketahui lebih rinci. Kamu akan mendapatkan data koordinat, tingkat kecerahan, tanggal dan waktu perekaman, nama satelit, sensor yang digunakan, dan confidence level

    Kamu juga bisa mengatur periode waktu yang diinginkan, menambah atau mengurangi tampilan lapisan peta seperti sebaran gunung berapi hingga area yang dilindungi. Selain itu, ada pilihan tampilan peta dasar berupa peta topografi yang cukup membantu untuk perencanaan pendakian. Seluruh fitur tersebut berada di sisi kanan tampilan peta.

    Kamu perlu tahu bahwa tampilan Fire Information for Resource Management System (FIRMS) berbeda dengan SiPongi+ dan Citra Polar Hotspot BMKG yang langsung menampilkan confidence level lewat warna pada simbol titik. Warna titik pada FIRMS justru menandakan jenis satelit dan sensor yang merekamnya. Jika kamu ingin mengetahui confidence level-nya, perlu mengklik dulu titiknya satu per satu.

    FIRMS menggunakan data dari dua jenis sensor berbeda, yakni VIIRS dan MODIS, dengan tampilan confidence level yang juga tidak sama. Sensor VIIRS dari satelit S-NPP dan NOAA-20 menggunakan huruf: l (low), n (nominal), h (high). Sedangkan sensor MODIS digunakan oleh satelit Terra dan Aqua, menampilkan confidence level dalam bentuk angka 0–100 persen.

  4. 4. Google Maps

    ilustrasi tampilan Google Maps
    ilustrasi tampilan Google Maps (pexels.com/Nathan J Hilton)
    1. Buka Google Maps melalui aplikasi atau browser. 
    2. Klik ikon Layers atau Lapisan. Jika menggunakan aplikasi mobile, ikon tersebut berada di sisi kanan atas. Sedangkan untuk tampilan desktop berada di pojok kanan bawah. 
    3. Pilih lapisan Wildfires atau Kebakaran hutan, maka akan muncul sebaran titik panas atau titik api. 
    4. Klik pada lokasi yang kamu inginkan, lalu akan muncul informasi kecamatan, kota/kabupaten, provinsi, negara, waktu terakhir diperbarui, dan estimasi area yang terbakar.

    Keempat platform di atas punya kelebihan masing-masing. Kamu bisa menggunakan lebih dari satu untuk saling melengkapi sesuai dengan kebutuhan dan rencana pendakianmu. Meski begitu, data dari satelit tetap punya keterbatasan, jadi sebaiknya kamu tetap mengonfirmasi ulang ke pengelola taman nasional atau basecamp setempat sebelum berangkat mendaki.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More