Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
⁠Cegah Karhutla, Guide dan Porter di Gunung Rinjani Dibekali APAR
Potret Gunung Rinjani, Indonesia (unsplash.com/David Wollschlegel)
  • Sejumlah Trekking Organizer di Gunung Rinjani membekali guide dan porter dengan satu APAR 1 kilogram per kelompok untuk menangani awal api kecil saat pendakian.
  • Vegetasi yang mengering pada puncak musim kemarau meningkatkan risiko karhutla; APAR menjadi inisiatif pelaku wisata, di luar SOP pendakian, untuk mempercepat respons darurat.
  • Selain membawa APAR, Trekking Organizer mendirikan posko karhutla dan memasang papan sosialisasi. BTNGR mengapresiasi keterlibatan TO, guide, porter, masyarakat, serta pendaki dalam mitigasi kebakaran.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Memasuki puncak musim kemarau, kondisi vegetasi di kawasan Gunung Rinjani, Nusa Tenggara Barat (NTB), yang semakin kering membuat potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) perlu diwaspadai. Untuk mengantisipasi risiko tersebut, sejumlah penyelenggara jasa pendakian mulai meningkatkan kesiapsiagaan guide dan porter dengan membekalinya Alat Pemadam Api Ringan (APAR).

Langkah ini menjadi bentuk keterlibatan pelaku wisata dalam menjaga kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani. Terlebih lagi, risiko kebakaran bukan hanya menjadi tanggung jawab petugas, tetapi juga membutuhkan kepedulian dari pihak yang beraktivitas langsung di kawasan tersebut.

1. Guide dan porter dibekali APAR untuk antisipasi kebakaran

Sejumlah Trekking Organizer (TO) yang mendampingi wisatawan di Gunung Rinjani membekali guide dan porter dengan APAR selama kegiatan pendakian. Peralatan tersebut disiapkan sebagai langkah antisipasi apabila muncul api dalam skala kecil di sepanjang jalur.

Dalam penerapannya, setiap kelompok pendakian cukup membawa satu APAR berukuran 1 kilogram yang memenuhi standar. Peralatan tersebut nantinya dapat digunakan guide atau porter untuk melakukan penanganan awal, apabila terjadi kebakaran kecil. Inisiatif membawa APAR ini berasal dari para pelaku jasa wisata dan bukan merupakan bagian dari standar operasional prosedur (SOP) pendakian.

Kesiapan tersebut menjadi semakin penting karena kawasan Rinjani tengah menghadapi kondisi kemarau yang membuat vegetasi lebih kering dan mudah terbakar. Sebelumnya, kebakaran juga sempat terjadi di kawasan Resor Sembalun pada Agustus 2026 dan berhasil dikendalikan oleh tim gabungan.

2. APAR menjadi bagian dari mitigasi bersama

Pembekalan APAR menunjukkan upaya mencegah karhutla di Rinjani mulai melibatkan lebih banyak pihak, termasuk penyelenggara jasa pendakian yang berinteraksi langsung dengan pendaki selama perjalanan.

“Upaya mitigasi bukan hanya menjadi tanggung jawab petugas. Kepedulian juga tumbuh dari para Trekking Organizer (TO) yang membawa wisatawan menjelajah kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani,” tulis akun @btn_gn_rinjani pada Selasa (8/9/2026).

Bagi para pelaku jasa pendakian, keberadaan APAR di dalam rombongan dapat menjadi langkah antisipasi jika terjadi kondisi darurat. Peralatan tersebut memungkinkan penanganan awal dilakukan lebih cepat sebelum api berpotensi meluas.

“APAR bukan sekadar perlengkapan tambahan. Ia menjadi bagian dari kesiapsiagaan, kepedulian, dan tanggung jawab bersama untuk mencegah api kecil berkembang menjadi kebakaran yang lebih besar.”

Selain membawa APAR, para Trekking Organizer juga melakukan langkah mitigasi lain, seperti mendirikan posko karhutla dan memasang papan sosialisasi mengenai pencegahan kebakaran di sejumlah titik pendakian.

3. Inisiatif Trekking Organizer mendapat apresiasi BTNGR

Potret Gunung Rinjani, Indonesia (unsplash.com/M. Islahudin)

Keterlibatan penyelenggara jasa pendakian dalam upaya mitigasi karhutla mendapat apresiasi dari Balai Taman Nasional Gunung Rinjani. BTNGR menilai kesiapan para trekking organizer, guide, dan porter menunjukkan kepedulian bersama demi menjaga kawasan Rinjani dari ancaman kebakaran.

Upaya tersebut menjadi bagian dari komitmen bersama untuk menjaga keamanan, sekaligus kelestarian kawasan Rinjani. Apalagi pengelola TNGR sebelumnya juga telah melakukan sosialisasi dan simulasi mitigasi kebakaran dengan melibatkan masyarakat sekitar, termasuk pendaki.

Dengan kondisi musim kemarau yang meningkatkan risiko kebakaran, kesiapsiagaan dari berbagai pihak diharapkan dapat membantu mencegah munculnya titik api, sekaligus mempercepat penanganan apabila terjadi kebakaran di jalur pendakian.

Curated For You

Editorial Team

Related Article