Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

4 Tips Membuat Api Unggun yang Aman saat Pendakian, Gak Boleh Asal!

4 Tips Membuat Api Unggun yang Aman saat Pendakian, Gak Boleh Asal!
ilustrasi api unggun (unsplash.com/Mike Erskine)
  • Pendaki wajib mengecek izin dan aturan setempat sebelum menyalakan api unggun; sejumlah gunung melarangnya demi mencegah kebakaran hutan.
  • Api unggun harus dibuat di lokasi terbuka, jauh dari tenda, pohon, dan rumput kering, menggunakan lubang serta batu pembatas agar api tidak merembet.
  • Gunakan ranting kering tanpa merusak pohon, lalu padamkan bara sepenuhnya sebelum pergi dengan mengaduk, menyiram bila perlu, dan menutup bekas api.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Keberadaan api unggun menjadi hal yang sangat dibutuhkan saat melakukan pendakian. Para pendaki biasanya membuat api unggun untuk keperluan memasak. Sedangkan di malam hari, keberadaan api unggun membantu menerangi area sekitar tenda plus berfungsi sebagai perlindungan dari serangan hewan liar.

Meski begitu, di gunung kamu gak bisa membuat api unggun sembarangan. Jika teledor, api yang kamu buat bisa memicu terjadinya kebakaran besar. Berikut beberapa tips membuat api unggun yang aman saat mendaki gunung. Dicatat baik-baik, ya!

  1. 1. Pastikan memiliki izin untuk menyalakan api

    ilustrasi pendaki menghangatkan diri dekat api unggun
    ilustrasi pendaki menghangatkan diri dekat api unggun (unsplash.com/Nik Shuliahin)

    Setiap gunung dan kawasan konservasi, memiliki aturan yang berbeda. Termasuk aturan soal penggunaan api unggun. Beberapa gunung di Indonesia bahkan sudah menetapkan larangan bagi pendaki untuk menyalakan api. Aturan ini diterapkan bukan tanpa alasan, melainkan untuk menghindari risiko terjadinya kebakaran hutan.

    Umumnya aturan selama pendakian dapat ditemukan di website taman nasional dan website pendakian. Selain itu, para petugas juga akan memberikan penjelasan saat berada di basecamp. Jika ternyata gunung yang kamu datangi melarang pendaki untuk menyalakan api, kamu bisa menggunakan sleeping bag, selimut, dan jaket tebal untuk menghangatkan diri.

  2. 2. Pilih lokasi yang aman

    ilustrasi api unggun
    ilustrasi api unggun (unsplash.com/Vadim Sadovski)

    Hanya karena kamu sudah memiliki izin untuk menyalakan api, bukan berarti kamu bisa menyalakannya di sembarang tempat. Mayoritas pendaki biasanya menyalakan api unggun di titik yang sama dengan pendaki sebelumnya. Jika kamu gak menemukannya, kamu bisa membuat lubang di tanah sedalam 10 sentimeter.

    Jangan lupa pasang batu-batu di sekitar lubang yang berfungsi sebagai tungku agar api gak merembet kemana-mana. Terakhir, pilih lokasi yang berada di tanah lapang dan agak jauh dari tenda maupun pepohonan. Selain itu, kamu juga perlu menghindari area seperti rerumputan kering yang mudah terbakar.

  3. 3. Jangan menebang atau merusak pohon

    ilustrasi pohon
    ilustrasi pohon (unsplash.com/Lucas Van Oort)

    Selain menemukan lokasi yang tepat untuk menyalakan api, pendaki juga harus mengumpulkan kayu yang akan digunakan sebagai bahan bakar. Biasanya kayu dapat ditemukan di area sekitar perkemahan, dan diambil dari batang atau ranting kayu yang kering. Meski begitu, pastikan kamu gak mengambil ranting yang masih menempel di pohon atau bahkan menebang pohon hanya untuk membuat api. Bukan rahasia lagi kalau pohon-pohon yang ada di area taman nasional atau konservasi gak boleh ditebang sembarangan. Siapapun yang melanggarnya akan dikenakan denda atau bahkan kena blacklist selama beberapa tahun.

  4. 4. Matikan api sebelum meninggalkan lokasi 

    ilustrasi api unggun hampir padam
    ilustrasi api unggun hampir padam (unsplash.com/Sebastian Pociecha)

    Salah satu kesalahan banyak pendaki adalah membiarkan api unggun padam dengan sendirinya. Padahal idealnya api unggun harus dimatikan setelah selesai digunakan atau sebelum kamu meninggalkan pos pendakian. Untuk memadamkan api, kamu bisa mengumpulkan bara api dan mengaduknya menggunakan kayu yang tersisa. Dengan cara ini, biasanya api akan padam dalam waktu sekitar 20 menit. Jika api belum padam, kamu bisa menggali semua bara api yang masih menyala dan menyiramnya dengan air. Setelah api benar-benar padam, tutup bekas api unggun dengan tanah, pasir, dan daun.

    Keberadaan api unggun memang sangat penting selama pendakian. Terutama saat malam tiba dan suhu di sekitar lokasi jadi sangat dingin. Namun api yang seharusnya berfungsi menjadi penghangat dan pelindung, juga bisa berubah menjadi bencana jika dinyalakan dan dikelola asal-asalan. 

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More