Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Kenapa Koper Sering Penyok setelah Penerbangan Jarak Jauh?

ilustrasi koper
ilustrasi koper (unsplash.com/Kit (formerly ConvertKit))
Intinya sih...
  • Sistem pemindahan bagasi bandara berjalan tanpa jeda, membuat koper saling menekan dan tertahan di satu posisi cukup lama.
  • Kondisi udara dan tekanan di ruang kargo pesawat berubah selama penerbangan, memengaruhi bentuk permukaan koper yang keras.
  • Transit membuat koper lebih sering dipindahkan, meningkatkan peluang bentuknya berubah karena tidak selalu ditempatkan dengan posisi ideal.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Koper jadi benda yang sering dicek pertama kali begitu keluar dari conveyor belt bandara. Setelah penerbangan jarak jauh, tidak sedikit penumpang mendapati koper penyok, permukaannya berubah, atau sudutnya tidak lagi rapi. Kondisi ini kerap dianggap wajar, padahal ada proses perjalanan bagasi yang cukup panjang sebelum koper kembali ke tangan pemiliknya.

Penyok pada koper tidak selalu berkaitan dengan harga atau merek, tetapi lebih ke cara koper melewati sistem bagasi selama penerbangan jarak jauh. Berikut beberapa penjelasan yang sering luput diperhatikan penumpang.

1. Sistem pemindahan bagasi bandara berjalan tanpa jeda

ilustrasi conveyor di bandara
ilustrasi conveyor di bandara (unsplash.com/Eric Prouzet)

Begitu koper diserahkan di konter check-in, koper langsung masuk ke alur bagasi bandara yang serbacepat. Koper berjalan di atas ban berjalan panjang, melewati tikungan, turunan, lalu bercampur dengan koper penumpang lain. Dalam kondisi ini, koper tidak pernah benar-benar berhenti atau ditata satu per satu.

Untuk penerbangan jarak jauh, jumlah koper biasanya lebih banyak, karena barang bawaan penumpang juga lebih banyak. Koper bisa saling berdempetan, saling menekan, bahkan tertahan di satu posisi cukup lama. Tekanan seperti ini sudah cukup membuat koper berubah bentuk meski tidak sampai terjatuh atau terbentur keras.

2. Kondisi di ruang kargo berbeda dengan di darat

ilustrasi kargo
ilustrasi kargo (unsplash.com/Anthony Maw)

Ruang kargo pesawat bukan ruang kosong yang tenang seperti bagasi mobil. Selama penerbangan, kondisi udara dan tekanan di ruang ini berubah mengikuti perjalanan pesawat. Koper keras yang tertutup rapat hanya mengikuti kondisi tersebut tanpa bisa menyesuaikan bentuknya.

Pada penerbangan jarak jauh, koper berada di ruang kargo lebih lama dibanding penerbangan pendek. Jika material koper cukup kaku, perubahan kondisi ini bisa berdampak pada bentuk permukaannya. Tidak heran jika penyok baru terlihat saat koper sudah diambil di bandara tujuan.

3. Transit membuat koper lebih sering dipindahkan

ilustrasi koper
ilustrasi koper (unsplash.com/Dimitri Karastelev)

Penerbangan jarak jauh sering kali melibatkan transit, terutama untuk rute lintas negara atau lintas benua. Setiap kali transit, koper harus dikeluarkan dari pesawat dan dimasukkan kembali ke pesawat berikutnya. Artinya, koper tidak hanya sekali dipindahkan.

Dalam proses ini, koper berpindah tangan lebih sering dan tidak selalu ditempatkan dengan posisi ideal. Ada koper yang tertindih sementara, ada yang diselipkan di ruang sempit. Semakin sering koper dipindahkan, semakin besar peluang bentuknya berubah.

4. Desain koper tidak dirancang untuk tumpukan berat

ilustrasi koper
ilustrasi koper (unsplash.com/American Green Travel)

Banyak koper saat ini dibuat dengan bahan yang lebih tipis agar mudah dibawa dan tidak memakan banyak jatah bagasi. Pertimbangan utama desainnya ada pada kenyamanan penumpang saat berpindah tempat, bukan pada kondisi koper ketika berada di ruang kargo pesawat. Dari luar, koper bisa terlihat kokoh, tetapi strukturnya tidak selalu disiapkan untuk menerima tekanan dari atas dalam waktu lama.

Masalah biasanya muncul saat koper dipakai untuk penerbangan jarak jauh dan diisi penuh. Di ruang kargo, koper bisa berada di posisi paling bawah dan menopang beberapa koper lain sekaligus. Tekanan yang terjadi sepanjang penerbangan inilah yang sering membuat permukaan koper berubah atau penyok meski tidak mengalami benturan langsung.

5. Posisi koper ditentukan sejak sebelum pesawat lepas landas

ilustrasi koper
ilustrasi koper (unsplash.com/Alexander Lunyov)

Begitu bagasi masuk ke pesawat, posisi koper sudah diatur sesuai kebutuhan muatan dan keseimbangan pesawat. Ada koper yang ditempatkan di bagian bawah tumpukan, ada yang berada di sisi ruang kargo, tergantung urutan masuk dan rute penerbangan. Penumpang tidak pernah tahu koper miliknya berada di posisi yang mana.

Pada penerbangan jarak jauh, koper yang berada di bagian bawah harus menahan beban sejak awal hingga pesawat mendarat. Getaran selama penerbangan membuat tekanan tersebut bekerja terus-menerus tanpa jeda. Kondisi inilah yang sering membuat koper terlihat penyok meski tidak mengalami benturan saat diambil di bandara.

Koper yang penyok setelah penerbangan jarak jauh umumnya berkaitan dengan proses penanganan bagasi sepanjang perjalanan udara. Memahami kondisi ini membantu penumpang menyesuaikan pilihan koper serta cara mengemas barang agar lebih aman saat terbang jauh. Semoga, penjelasan ini bisa menjawab rasa penasaran kamu mengenai alasan kenapa koper sering penyok, ya!

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Naufal Al Rahman
EditorNaufal Al Rahman
Follow Us

Latest in Travel

See More

4 Mall di Jakarta yang Punya Layanan Pembuatan Paspor

11 Feb 2026, 20:02 WIBTravel