Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Kenapa Mountain Hut Gak Ada di Indonesia? Ini Alasannya!

Kenapa Mountain Hut Gak Ada di Indonesia? Ini Alasannya!
ilustrasi mountain hut (commons.wikimedia.org/FkMohr)
Intinya Sih
  • Gunung di Indonesia mayoritas berapi aktif dengan tanah vulkanik tidak stabil, sehingga bangunan permanen seperti mountain hut berisiko rusak akibat erupsi atau longsor.
  • Jalur pendakian di Indonesia dinamis dan beragam, membuat sistem pondokan permanen sulit diterapkan; pendaki lebih mengandalkan pos dan area camping fleksibel.
  • Iklim tropis, budaya pendakian mandiri, serta fokus pengelolaan gunung untuk konservasi menjadikan mountain hut kurang relevan dan mahal secara operasional di Indonesia.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Mountain hut menjadi tempat andalan untuk istirahat dan berlindung dari cuaca ekstrem saat mendaki di pegunungan. Umumnya dijumpai di Pegunungan Alpen, tinggi puncaknya lebih dari 2.500 meter di atas permukaan laut, medan terjal, dan bersalju di wilayah subtropis. Sementara itu, Indonesia yang beriklim tropis dapat mengandalkan basecamp, pos-pos di sepanjang jalur, dan shelter.

Meski berbeda, keduanya bertujuan untuk memenuhi kebutuhan pendaki, bukan sekadar fasilitas. Lantas, kenapa sistem mountain hut tidak ada di Indonesia? Berikut ini alasannya!

1. Mayoritas gunung di Indonesia berupa gunung berapi aktif

Gunung Sumbing dan Sindoro dari Desa Pulosaren, Wonosobo
Gunung Sumbing dan Sindoro dari Desa Pulosaren, Wonosobo (dok. pribadi/Fatma Roisatin N.)

Karakteristik gunung akan menentukan fasilitas dan kebutuhan pendakian. Indonesia sebagai bagian dari Ring of Fire punya deretan gunung berapi aktif yang menjadi tujuan populer. Meski sebagian berstatus dorman, gunung-gunung ini tetap memiliki karakter material vulkanik seperti pasir dan abu yang sulit untuk fondasi bangunan permanen.

Di sisi lain, lerengnya dapat berubah karena erupsi, tanah longsor, maupun aktivitas geologi. Hal tersebut berisiko merusak atau bahkan menimbun pondokan yang seharusnya menjadi tempat berlindung para pendaki. Sementara itu, mountain hut berupa bangunan permanen yang membutuhkan kondisi tanah lebih stabil, seperti di Pegunungan Alpen.

2. Jalur pendakian lebih dinamis dan beragam

ilustrasi jalur pendakian yang mulai terutup vegetasi
ilustrasi jalur pendakian yang mulai terutup vegetasi (pexels.com/Luis Quintero)

Jalur pendakian gunung di Indonesia umumnya lebih dari satu dan masih berupa jalan setapak. Sebagian gunung pun punya jalur ilegal yang bisa terhubung dengan jalur resmi. Ditambah lagi, rute dapat berubah karena vegetasi maupun erosi, sehingga kondisi jalur dinamis dan beragam membuat pendakian terasa lebih menantang.

Tingkat kesulitannya memang beragam, tetapi akan sering menjumpai medan yang curam, licin, dan tidak konsisten. Sementara itu, untuk membuat jaringan mountain hut perlu jalur tetap, akses logistik yang jelas, serta titik perhentian yang pasti. Maka dari itu, camping di pos tertentu maupun lokasi yang fleksibel dianggap lebih sesuai daripada hut permanen.

3. Budaya pendakian camping mandiri

ilustrasi camp pendaki
ilustrasi camp pendaki (commons.wikimedia.org/Ar09)

Berkaitan dengan kondisi medan dan karakteristik gunung, budaya pendakian juga berbeda. Pendaki di Indonesia terbiasa mandiri dengan membawa carrier, peralatan, dan logistik pribadi. Budaya yang berkembang adalah membawa tenda sendiri untuk istirahat dan berlindung saat darurat.

Sementara itu, pegunungan yang dilengkapi mountain hut memudahkan pendaki untuk istirahat dan mengurus logistik. Pendaki pun bisa lebih tenang tanpa perlu membawa beban berat untuk perjalanan berhari-hari, termasuk tenda maupun peralatan memasak. Budaya pendakian yang berbeda, tantangan maupun pengalaman yang  diperoleh pun tidak akan sama.

4. Iklim tropis tidak mengharuskan adanya hut

ilustrasi pendaki di daerah tropis
ilustrasi pendaki di daerah tropis (pexels.com/quang-nguyen-vinh)

Tidak hanya karakteristik gunung, tetapi iklim juga menjadi pertimbangan dibangunnya hut. Iklim tropis dianggap lebih bersahabat terkait suhu karena relatif hangat dan pendaki masih memungkinkan untuk bertahan dengan tenda biasa. Meski tetap ada perubahan cuaca yang cepat dan menyebabkan hipotermia, risikonya lebih rendah dibandingkan dengan daerah Pegunungan Alpen.

Lain halnya dengan pegunungan subtropis yang punya perubahan cuaca dan suhu ekstrem. Umumnya berupa Pegunungan Alpen di daerah bersalju yang sering mencapai suhu di bawah 0 derajat Celsius. Risiko hipotermia dan badai salju lebih tinggi, sehingga hut merupakan kebutuhan untuk tujuan keselamatan pendaki.

Iklim juga memengaruhi periode pendakian di Indonesia yang bisa dilakukan hampir sepanjang tahun, termasuk musim hujan. Sedangkan pendakian di pegunungan yang dilengkapi pondokan umumnya hanya dibuka pada periode tertentu, karena jalurnya tertutup salju atau cuaca ekstrem. Musim semi hingga musim gugur menjadi waktu yang tepat untuk mendaki di daerah subtropis.

5. Sistem pengelolaan gunung berbeda

ilustrasi mountain hut
ilustrasi mountain hut (commons.wikimedia.org/Mselle 1)

Alasan lainnya, sistem pengelolaan gunung yang berbeda. Gunung di Indonesia umumnya menjadi bagian dari taman nasional atau taman hutan rakyat yang dikelola oleh pemerintah. Fokus utamanya adalah sebagai tempat konservasi, bukan fasilitas komersial. 

Sementara pembuatan mountain hut yang berupa bangunan permanen berpotensi tidak sejalan dengan prinsip pelestarian alam. Terlebih jika mountain hut tidak dikelola dengan benar dan sembarangan dalam pemilihan lokasinya. Perlu kamu tahu bahwa mountain hut biasanya telah terorganisir.

Meski pegunungan yang dilengkapi fasilitas hut termasuk taman nasional, tetapi pondokan tersebut dikelola oleh organisasi seperti Alpine Club (Eropa) dan Trekking Association. Mereka bertanggung jawab membangun hut, mengelola operasional, dan menyediakan logistik. 

6. Kendala logistik dan tingginya biaya operasional

ilustrasi fasilitas mountain hut
ilustrasi fasilitas mountain hut (commons.wikimedia.org/Rafał M. Socha (Azymut))

Akses ke gunung di Indonesia sebagian besar masih sulit. Bukan tanpa alasan, karena alasan kelestarian alam, vegetasi tropis yang rapat dan mudah tumbuh saat musim hujan, serta karakteristik gunung. Hal tersebut membuat biaya operasional bisa sangat tinggi untuk fasilitas mountain hut.

Pondokan di gunung bukan sekadar bangunan permanen, tetapi juga perlu fasilitas pendukung lainnya untuk operasional. Sebuah mountain hut memerlukan suplai makanan, air bersih, energi, dan perawatan untuk membuatnya tetap berfungsi sebagaimana mestinya. Oleh sebab itu, diperlukan infrastruktur pendukung yang kuat, suplai tetap setiap musim pendakian, hingga kebutuhan transportasi untuk distribusi seperti helikopter logistik. 

Tidak adanya mountain hut di Indonesia bukan berarti tanda ketertinggalan, melainkan cerminan karakter alam, iklim, dan budaya pendakiannya berbeda. Meski pondokan bisa dibangun di daerah vulkanik seperti Gunung Etna, tetapi lebih sederhana asalkan dapat digunakan untuk berlindung saat situasi darurat atau cuaca ekstrem. Bagaimana menurutmu?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Naufal Al Rahman
EditorNaufal Al Rahman
Follow Us

Latest in Travel

See More