Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

⁠Sebelum Naik Gunung, Persiapkan Beberapa Hal Ini!

⁠Sebelum Naik Gunung, Persiapkan Beberapa Hal Ini!
Potret pendaki di gunung salju (unsplash.com/Tommaso Zandri)
Intinya Sih
  • Nirmal "Nims Dai" Purja meninggal akibat longsor salju saat memimpin ekspedisi di Broad Peak, Pakistan, mengingatkan bahwa pendakian medan ekstrem berisiko tinggi.
  • Persiapan utama mencakup latihan fisik 2–4 minggu, mempelajari jalur dan cuaca, serta membawa perlengkapan sesuai kebutuhan seperti sepatu hiking, navigasi, P3K, dan logistik.
  • Keselamatan harus diutamakan dengan tidak memaksakan mencapai puncak saat lelah, cedera, hipotermia, atau cuaca memburuk, sambil menjaga etika dan tidak meninggalkan sampah.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Kabar duka menyelimuti komunitas pendaki dunia setelah pendaki legendaris asal Inggris-Nepal, Nirmal "Nims Dai" Purja, dikonfirmasi meninggal dunia akibat longsor salju (avalanche) saat memimpin ekspedisi di Broad Peak, Pakistan. Insiden yang terjadi di ketinggian sekitar 7.000 meter itu kembali mengingatkan bahwa aktivitas mendaki gunung, terutama di medan ekstrem, selalu memiliki risiko yang tidak bisa dianggap remeh.

Meski sebagian besar gunung di Indonesia memiliki karakteristik yang berbeda dengan pegunungan tinggi di Karakoram, persiapan yang matang tetap menjadi kunci utama agar pendakian berlangsung aman dan nyaman. Sebelum memulai perjalanan menuju puncak, ada beberapa hal penting yang sebaiknya tidak boleh kamu lewatkan. Berikut di antaranya.

1. Latih kondisi fisik beberapa minggu sebelum pendakian

Mendaki gunung bukan sekadar berjalan kaki, tetapi juga membutuhkan daya tahan tubuh yang baik. Jalur menanjak, udara yang semakin tipis, hingga membawa carrier dengan bobot belasan kilogram akan menguras tenaga jika tubuh belum terbiasa.

Idealnya, mulai lakukan latihan fisik sekitar dua hingga empat minggu sebelum keberangkatan. Kamu bisa rutin berjalan kaki, jogging, naik turun tangga, bersepeda, atau melakukan latihan kekuatan otot kaki dan punggung. Persiapan fisik yang baik akan membantu mengurangi risiko cedera sekaligus membuat perjalanan terasa lebih nyaman.

2. Pelajari jalur pendakian dan kondisi cuaca

Potret dua pendaki di jalur salju
Potret dua pendaki di jalur salju(unsplash.com/Katie Moum)

Setiap gunung memiliki karakter yang berbeda. Ada yang didominasi hutan lebat, jalur berbatu, padang savana, hingga tanjakan panjang yang cukup menguras tenaga. Karena itu, jangan hanya mengandalkan informasi dari teman.

Cari tahu panjang jalur, estimasi waktu tempuh, sumber air, lokasi pos pendakian, area berkemah, hingga tingkat kesulitan medan. Selain itu, pantau prakiraan cuaca beberapa hari sebelum keberangkatan. Hindari mendaki saat hujan deras atau cuaca ekstrem karena risiko longsor, pohon tumbang, dan jalur licin akan meningkat.

3. Gunakan perlengkapan yang sesuai

Peralatan mendaki bukan sekadar pelengkap, melainkan faktor penting yang berpengaruh pada keselamatan. Gunakan sepatu khusus hiking yang memiliki daya cengkeram baik agar tidak mudah tergelincir di jalur berbatu maupun berlumpur.

Selain itu, pastikan membawa carrier yang nyaman, jas hujan, jaket hangat, sleeping bag, headlamp, trekking pole bila diperlukan, serta pakaian yang cepat kering. Jangan lupa membawa perlengkapan navigasi seperti peta digital atau GPS apabila mendaki gunung dengan jalur yang cukup panjang.

4. Siapkan logistik secukupnya

Potret tas carrier
Potret tas carrier (pexels.com/Avinash Patel)

Tubuh membutuhkan energi lebih besar selama mendaki. Karena itu, bawalah makanan yang praktis, ringan, tetapi tinggi kalori, seperti roti, cokelat, granola, biskuit, kacang-kacangan, atau makanan instan yang mudah dimasak.

Air minum juga menjadi kebutuhan utama. Sesuaikan jumlah air dengan kondisi jalur dan ketersediaan sumber air di gunung. Jika memungkinkan, bawa water filter atau alat penjernih air sebagai cadangan apabila harus mengambil air dari sumber alami.

5. Bawa perlengkapan P3K dan obat pribadi

Sekecil apa pun luka saat mendaki sebaiknya segera ditangani agar tidak semakin parah. Isi kotak P3K dengan perban, plester, kasa steril, antiseptik, obat anti nyeri, obat diare, obat alergi, serta obat pribadi apabila memiliki kondisi kesehatan tertentu.

Jangan lupa membawa peluit darurat (emergency whistle) dan emergency blanket. Perlengkapan sederhana ini bisa sangat membantu apabila terjadi kondisi darurat di gunung.

6. Jangan memaksakan diri mencapai puncak

Potret pendaki di puncak gunung
Potret pendaki di puncak gunung (pexels.com/Christian Buergi)

Banyak pendaki terlalu fokus pada target mencapai puncak hingga mengabaikan kondisi tubuh. Padahal, keselamatan harus selalu menjadi prioritas utama.

Jika mulai mengalami kelelahan berlebihan, hipotermia, cedera, atau cuaca berubah drastis, sebaiknya segera berhenti, beristirahat, atau bahkan turun kembali. Ingat, puncak gunung akan tetap ada dan bisa didaki di lain kesempatan. Memaksakan diri justru dapat membahayakan diri sendiri maupun anggota tim lainnya.

7. Terapkan etika selama berada di gunung

Mendaki bukan hanya soal menikmati alam, tetapi juga menghormati lingkungan dan sesama pendaki. Selalu bawa turun kembali sampah yang kamu hasilkan, jangan merusak vegetasi, serta hindari membuat api unggun di area yang dilarang.

Selain itu, jagalah sikap selama perjalanan. Hindari berbicara atau memutar musik dengan volume terlalu keras agar tidak mengganggu pendaki lain maupun satwa liar. Dengan menerapkan prinsip leave no trace, keindahan gunung akan tetap terjaga untuk dinikmati generasi berikutnya.

Mendaki gunung memang menawarkan pengalaman yang tak terlupakan, mulai dari menikmati matahari terbit hingga menyaksikan pemandangan alam dari ketinggian. Namun, semua itu hanya bisa dinikmati apabila perjalanan dilakukan dengan persiapan yang matang.

Jangan sampai semangat mencapai puncak membuatmu mengabaikan faktor keselamatan. Sebab, pendakian yang sukses bukan hanya soal berhasil sampai di atas, tetapi juga kembali pulang dengan selamat.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More