Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

6 Tips Manajemen Waktu Pendakian Tektok biar Gak Kemalaman

ilustrasi pendaki gunung
ilustrasi pendaki gunung (pexels.com/Nina Uhlikova)
Intinya sih...
  • Pendakian tektok dimulai pukul 04.00—06.00 pagi untuk buffer waktu
  • Hitung estimasi waktu naik dan turun secara realistis sesuai pace masing-masing pendaki
  • Tetapkan batas waktu (cut off time) untuk menghindari kemalaman dan memprioritaskan keselamatan
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Pendakian tektok memang kelihatan simpel, karena gak perlu menginap. Namun faktanya, banyak pendaki justru turun dalam kondisi gelap karena salah manajemen waktu. Padahal, tujuan utama tektok adalah naik dan turun di hari yang sama dengan aman.

Supaya pendakian tetap nyaman dan gak berujung kemalaman, kamu perlu strategi manajemen waktu yang matang. Berikut ini beberapa langkah manajemen waktu pendakian tektok agar tidak kemalaman yang wajib kamu terapkan.

1. Tentukan jam mulai pendakian sejak awal

ilustrasi pendaki
ilustrasi pendaki (pexels.com/Luna Bas)

Kesalahan paling sering saat pendakian tektok adalah mulai terlalu siang. Idealnya, pendakian tektok dimulai pukul 04.00—06.00 pagi, tergantung estimasi jalur.

Semakin panjang jalur, semakin pagi kamu harus berangkat. Dengan start pagi, kamu punya buffer waktu kalau terjadi kendala, seperti hujan, cedera ringan, atau kelelahan. Ingat, tujuan tektok bukan mengejar puncak secepat mungkin, tapi pulang dengan aman sebelum gelap.

2. Hitung estimasi waktu naik dan turun secara realistis

ilustrasi mendaki bersama guide lokal
ilustrasi mendaki bersama guide lokal (pexels.com/Kamaji Ogino)

Jangan cuma pakai patokan “kata orang”. Setiap pendaki punya pace berbeda. Cara aman adalah:

  • Hitung waktu naik normal (misalnya 4 jam)
  • Tambahkan cadangan 1—2 jam
  • Hitung waktu turun (biasanya 60—70 persen dari waktu naik)

Contohnya: naik 4 jam + cadangan 1 jam + turun 3 jam = total 8 jam. Dari sini kamu bisa tahu jam maksimal harus sudah Summit Attack.

3. Tetapkan batas waktu (cut off time)

ilustrasi pendaki
ilustrasi pendaki (pexels.com/kwnos Iv)

Cut off time adalah aturan wajib dalam manajemen waktu pendakian tektok. Misalnya, kamu sepakat jika pukul 12.00 belum sampai puncak, maka wajib turun.

Ini penting banget buat menghindari ego pendaki. Puncak gak akan ke mana-mana, tapi keselamatan kamu jauh lebih penting. Banyak kasus kemalaman terjadi karena memaksakan diri melewati cut off time.

4. Manajemen istirahat yang efisien

ilustrasi pendaki sedang minum
ilustrasi pendaki sedang minum (pexels.com/Katya Wolf)

Istirahat terlalu lama bisa bikin waktu habis tanpa sadar. Idealnya:

  • Istirahat pendek tapi sering (5—10 menit)
  • Istirahat panjang maksimal 20—30 menit
  • Jangan terlalu lama foto-foto di jalur

Gunakan alarm atau jam tangan biar kamu sadar waktu. Pendakian tektok bukan lomba santai, tapi juga bukan maraton yang bisa berhenti seenaknya.

5. Gunakan navigasi dan waktu catatan jalur

ilustrasi pendaki melakukan navigasi di gunung
ilustrasi pendaki melakukan navigasi di gunung (pexels.com/Kamaji Ogino)

Sekarang sudah banyak aplikasi GPS pendakian yang bisa dipakai offline. Manfaatkan fitur track record dan estimasi waktu untuk memantau progres kamu. Catat juga waktu di setiap pos atau landmark. Kalau dari pos A ke pos B butuh waktu lebih lama dari rencana, itu sinyal buat evaluasi apakah pendakian masih aman dilanjutkan atau tidak.

6. Siapkan plan B jika sudah melewati batas waktu

ilustrasi pendaki trekking
ilustrasi pendaki trekking (pexels.com/Nur Andi Ravsanjani Gusma)

Manajemen waktu yang baik selalu punya rencana cadangan. Misalnya:

  • Turun lewat jalur yang sama meski belum sampai puncak
  • Memutuskan turun lebih awal saat cuaca berubah
  • Membawa headlamp meski target turun sore

Plan B bukan tanda gagal, tapi bukti kamu pendaki yang bertanggung jawab. Pendakian tektok yang sukses adalah yang selesai tanpa insiden, bukan sekadar foto di puncak.

Manajemen waktu pendakian tektok agar tidak kemalaman bukan cuma soal jam berangkat, tapi soal disiplin dan kesadaran diri. Dengan perencanaan matang, cut off time yang jelas, dan evaluasi terus-menerus di jalur, kamu bisa menikmati pendakian dengan aman dan nyaman. Ingat, gunung selalu ada. Keselamatan kamu gak bisa diulang.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Naufal Al Rahman
EditorNaufal Al Rahman
Follow Us

Latest in Travel

See More

Perbedaan Kursi Reserved dan Non-Reserved di Shinkansen

13 Feb 2026, 19:50 WIBTravel