Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Perbedaan Cas AC dan DC pada Mobil Listrik, Mana Lebih Efisien?
ilustrasi charging mobil listrik (pexels.com/Ed Harvey)
  • Pengisian AC mengonversi listrik di dalam mobil melalui on-board charger, sedangkan DC mengonversinya di perangkat eksternal sehingga dapat menyalurkan daya lebih besar.
  • AC lebih cocok untuk pengisian harian di rumah karena pemasangan dan biayanya relatif terjangkau, sementara DC digunakan di stasiun umum untuk kebutuhan cepat perjalanan jauh.
  • Efisiensi dan kesehatan baterai dipengaruhi perangkat, suhu, daya, serta kondisi baterai; AC menawarkan beban termal lebih terkendali, sedangkan DC berdaya tinggi menghasilkan panas lebih besar.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Mobil listrik bisa diisi pakai AC atau DC. AC lebih pelan dan cocok di rumah saat mobil diam lama. DC lebih cepat dan biasa ada di tempat umum untuk jalan jauh. DC bisa lebih mahal dan membuat baterai lebih panas. Mana yang paling hemat tergantung alat, suhu, dan baterainya.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Mobil listrik menawarkan cara berkendara yang lebih praktis tanpa ketergantungan pada bahan bakar konvensional. Namun, pengalaman menggunakan kendaraan ini gak hanya bergantung pada kapasitas baterai dan jarak tempuh, tetapi juga pada metode pengisian daya yang dipilih. Dua metode yang umum digunakan adalah pengisian arus bolak-balik (alternating current atau AC) dan arus searah (direct current atau DC), yang memiliki karakteristik teknis berbeda.

Perbedaan keduanya sering menjadi pertimbangan penting bagi pemilik mobil listrik, terutama saat memilih pengisi daya untuk rumah atau perjalanan jarak jauh. Pengisian AC umumnya cocok untuk penggunaan harian, sedangkan pengisian DC banyak dimanfaatkan saat membutuhkan tambahan daya dalam waktu relatif singkat. Supaya gak salah memilih metode pengisian daya, yuk pahami lima perbedaan cas AC dan DC pada mobil listrik berikut ini!

1. Proses konversi arus listrik

ilustrasi charging mobil listrik (unsplash.com/Zaptec)

Perbedaan mendasar antara pengisian AC dan DC terletak pada proses konversi arus listrik sebelum masuk ke baterai. Pada pengisian AC, listrik dari jaringan dialirkan menuju mobil, lalu diubah menjadi arus searah oleh perangkat on-board charger (OBC) yang terpasang di dalam kendaraan. Kapasitas OBC menjadi salah satu faktor yang menentukan seberapa besar daya AC dapat diterima oleh mobil listrik.

Sebaliknya, pengisian DC menggunakan perangkat pengisi daya yang melakukan konversi arus bolak-balik menjadi arus searah di luar kendaraan. Setelah melalui proses tersebut, listrik DC dialirkan menuju baterai melalui sistem pengisian yang dikendalikan oleh kendaraan. Perbedaan lokasi konversi ini memungkinkan pengisi daya DC menyediakan daya lebih besar tanpa terlalu bergantung pada kapasitas OBC mobil.

2. Kecepatan pengisian daya

ilustrasi charging mobil listrik (pexels.com/Gustavo Fring)

Kecepatan pengisian menjadi salah satu pembeda paling terasa antara metode AC dan DC. Pengisian AC umumnya memiliki daya lebih rendah sehingga membutuhkan waktu lebih lama untuk menambah kapasitas baterai, terutama jika kapasitasnya besar. Metode ini cocok untuk pengisian semalam di rumah atau saat mobil terparkir selama beberapa jam.

Sementara itu, pengisian DC berdaya tinggi dapat menambah kapasitas baterai dalam waktu yang jauh lebih singkat. Meski demikian, kecepatan aktual gak hanya bergantung pada kemampuan stasiun pengisian, tetapi juga batas daya yang didukung kendaraan, suhu baterai, dan tingkat keterisian baterai atau state of charge (SoC). Ketika kapasitas baterai mendekati penuh, daya pengisian biasanya menurun untuk menjaga keamanan dan memperpanjang usia baterai.

3. Kebutuhan infrastruktur dan biaya

ilustrasi charging mobil listrik (pexels.com/DaeYeoung Ahn)

Pengisian AC relatif mudah diterapkan di rumah karena dapat menggunakan perangkat pengisi daya khusus yang disesuaikan dengan kapasitas instalasi listrik. Biaya pemasangan umumnya lebih terjangkau dibandingkan infrastruktur DC berdaya tinggi, meskipun kebutuhan peningkatan daya listrik dan instalasi tambahan tetap perlu diperhitungkan. Karena itu, metode AC sering menjadi pilihan bagi pemilik mobil listrik yang memiliki tempat parkir pribadi.

Berbeda dengan AC, pengisi daya DC membutuhkan perangkat konversi berdaya tinggi, sistem pendinginan, dan instalasi kelistrikan yang lebih kompleks. Investasi awal serta biaya operasionalnya cenderung lebih besar, sehingga fasilitas DC banyak ditemukan di stasiun pengisian umum dan lokasi strategis untuk perjalanan jarak jauh. Dari sisi pengguna, tarif pengisian DC juga dapat lebih mahal daripada AC, bergantung pada penyedia layanan dan kebijakan tarif yang berlaku.

4. Efisiensi energi saat pengisian

ilustrasi charging mobil listrik (unsplash.com/Marek Studzinski)

Efisiensi pengisian AC dipengaruhi oleh kinerja OBC dalam mengubah arus bolak-balik menjadi arus searah, termasuk energi yang hilang sebagai panas selama proses tersebut. Konsumsi daya tambahan dari sistem elektronik kendaraan juga dapat memengaruhi jumlah energi yang benar-benar tersimpan di baterai. Pada pengisian berdaya rendah, sebagian konsumsi tetap dapat berlangsung selama proses pengisian sehingga efisiensi keseluruhan bergantung pada kondisi penggunaan.

Pada pengisian DC, konversi listrik dilakukan oleh perangkat eksternal sehingga rugi-rugi energi pada OBC kendaraan dapat dihindari. Namun, perangkat DC juga memiliki rugi-rugi konversi dan membutuhkan energi untuk menjalankan sistem pendinginan serta komponen pendukung lainnya. Oleh sebab itu, gak tepat jika menganggap DC selalu lebih efisien daripada AC, sebab hasil akhirnya dipengaruhi oleh kualitas perangkat, tingkat daya, suhu, dan kondisi baterai.

5. Dampak terhadap kesehatan baterai

ilustrasi baterai mobil listrik (vecteezy.com/Pattarawooth Junnual)

Pengisian AC berdaya relatif rendah umumnya menghasilkan beban termal yang lebih terkendali ketika kondisi pengisian dan sistem baterai berada dalam rentang normal. Metode ini cocok untuk pengisian rutin, terutama ketika mobil terparkir cukup lama dan gak membutuhkan tambahan daya secara mendesak. Meski begitu, kesehatan baterai tetap dipengaruhi oleh suhu, kebiasaan mempertahankan kapasitas baterai terlalu tinggi atau rendah, serta sistem pengelolaan baterai kendaraan.

Pengisian DC berdaya tinggi dapat menghasilkan panas lebih besar, terutama ketika baterai menerima daya tinggi dalam waktu tertentu. Sistem pengelolaan baterai (battery management system atau BMS) akan mengatur daya berdasarkan suhu, kondisi sel, dan tingkat keterisian untuk menjaga keamanan selama pengisian. Penggunaan DC sesekali bukan berarti otomatis merusak baterai, tetapi kebiasaan pengisian, pengendalian suhu, dan rekomendasi produsen tetap perlu diperhatikan agar kapasitas baterai terjaga dalam jangka panjang.

Pada akhirnya, pengisian AC dan DC memiliki keunggulan yang berbeda sesuai kebutuhan pengguna mobil listrik. AC cocok untuk pengisian harian yang terencana, sedangkan DC menawarkan kemudahan saat membutuhkan tambahan daya dengan cepat di perjalanan. Jadi, metode yang paling efisien bukan sekadar yang paling cepat, melainkan yang mampu menyeimbangkan waktu pengisian, biaya, konsumsi energi, dan kebutuhan mobilitas.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article