Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Bagaimana Airbag Tahu Kapan Harus Mengembang?
ilustrasi airbag (pexels.com/Dietmar Janssen)
  • Airbag bekerja dengan jaringan sensor yang mendeteksi perlambatan, arah benturan, dan keberadaan penumpang sebelum mengirim data ke Airbag Control Unit untuk menentukan aktivasi.
  • Sistem komputer membandingkan data sensor dengan ambang batas tertentu; hanya benturan serius yang memicu pengembangan airbag, sementara tabrakan ringan tidak akan mengaktifkannya.
  • Proses pengembangan airbag terjadi dalam 25–40 milidetik melalui reaksi kimia di inflator, dan sistem ini dirancang bekerja bersama sabuk pengaman untuk perlindungan maksimal.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Airbag menjadi salah satu fitur keselamatan paling penting pada mobil modern. Banyak orang mungkin menganggap kantung udara ini bekerja secara otomatis setiap kali terjadi tabrakan. Padahal, kenyataannya tidak sesederhana itu.

Kalau airbag mengembang setiap kali mobil menghantam lubang, menabrak trotoar, atau melakukan pengereman mendadak, tentu justru akan berbahaya bagi pengemudi dan penumpang. Karena itulah mobil dibekali sistem yang mampu membedakan benturan ringan dan kecelakaan serius hanya dalam waktu sepersekian detik.

Lantas, bagaimana sebenarnya airbag tahu kapan waktunya mengembang? Ini penjelasannya!

1. Airbag mengandalkan sensor, bukan tebakan

ilustrasi mobil (unsplash.com/Erik Mclean)

Airbag tidak memiliki kemampuan untuk menebak apakah sebuah kecelakaan cukup berbahaya atau tidak. Sistem ini bekerja menggunakan jaringan sensor yang tersebar di beberapa bagian kendaraan. Sensor tersebut bertugas mengukur berbagai hal, seperti:

  • Seberapa cepat mobil melambat secara tiba-tiba

  • Seberapa besar gaya benturan yang diterima kendaraan

  • Dari arah mana tabrakan terjadi

  • Apakah kursi sedang ditempati penumpang atau tidak

Seluruh informasi ini kemudian dikirim ke komputer kecil yang disebut Airbag Control Unit atau ACU. Komputer inilah yang bertugas mengambil keputusan apakah airbag perlu diaktifkan atau tidak.

2. Komputer mobil membandingkan data dengan batas tertentu

ilustrasi mobil (pexels.com/HamZa NOUASRIA)

Setiap mobil memiliki ambang batas atau threshold yang sudah diprogram oleh pabrikan. Jika sensor mendeteksi perlambatan yang sangat drastis dalam waktu singkat, sistem akan menganggap kendaraan sedang mengalami kecelakaan serius. Namun, jika perlambatan masih berada di bawah batas tersebut, airbag tidak akan mengembang.

Karena itulah airbag biasanya tidak aktif saat mobil menabrak benda kecil dengan kecepatan rendah atau saat melewati jalan berlubang. Menariknya, ambang batas ini bisa berbeda pada setiap model kendaraan. Pengaturan untuk airbag depan juga tidak selalu sama dengan airbag samping atau curtain airbag yang melindungi area jendela.

3. Keputusan dibuat dalam hitungan milidetik

ilustrasi mobil (unsplash.com/Samuele Errico Piccarini)

Begitu sistem memutuskan bahwa tabrakan cukup parah, proses berikutnya berlangsung sangat cepat. Komputer akan mengirimkan sinyal listrik ke inflator, yaitu perangkat yang bertugas menghasilkan gas untuk mengisi airbag. Reaksi kimia di dalam inflator kemudian menghasilkan gas nitrogen atau gas lainnya yang langsung memenuhi kantung udara.

Seluruh proses ini berlangsung hanya sekitar 25—40 milidetik. Sebagai perbandingan, manusia biasanya membutuhkan sekitar 200—250 milidetik untuk berkedip. Artinya, airbag sudah selesai mengembang jauh sebelum otak manusia sempat menyadari apa yang terjadi.

4. Mengapa airbag tidak selalu mengembang saat terjadi kecelakaan?

ilustrasi kecelakaan mobil (pexels.com/Dominika Kwiatkowska)

Banyak pengemudi yang heran ketika melihat airbag tidak mengembang setelah kecelakaan tertentu. Padahal, hal tersebut belum tentu menandakan adanya kerusakan pada sistem. Keputusan airbag dipengaruhi oleh beberapa faktor sekaligus, seperti:

  • Kecepatan kendaraan saat tabrakan terjadi

  • Besarnya perlambatan yang dialami mobil

  • Sudah seberapa parah kerusakan akibat benturan

  • Posisi atau arah tabrakan

  • Jenis airbag yang tersedia pada kendaraan.

Karena itu, dua kecelakaan yang terlihat mirip dari luar belum tentu menghasilkan respons airbag yang sama.

5. Airbag dan sabuk pengaman dirancang untuk bekerja bersama

ilustrasi airbag (pexels.com/Dietmar Janssen)

Banyak orang menganggap airbag bisa menggantikan fungsi sabuk pengaman. Padahal, keduanya justru dirancang untuk saling melengkapi.

Sabuk pengaman bertugas menahan tubuh agar tidak terlempar ke depan terlalu jauh, sedangkan airbag berfungsi sebagai bantalan tambahan yang menyerap energi benturan. Tanpa sabuk pengaman, tubuh bisa berada terlalu dekat dengan airbag saat kantung udara mengembang, sehingga justru meningkatkan risiko cedera.

Sebagian besar pengemudi mungkin tidak pernah memikirkan bagaimana airbag bekerja sampai mereka benar-benar membutuhkannya. Padahal, di balik kantung udara yang tampak sederhana itu, terdapat sistem sensor dan komputer yang mampu menganalisis situasi serta mengambil keputusan dalam waktu yang lebih cepat daripada kedipan mata. Berkat teknologi inilah airbag bisa memberikan perlindungan tambahan tepat pada saat yang paling dibutuhkan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article