Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Bedah Psikologis: Kenapa Lampu Merah Terasa Lama Saat Terburu-buru?
ilustrasi lampu merah (Pexels.com/Andrea Piacquadio)
  • Lampu merah terasa lebih lama saat terburu-buru karena perhatian pengemudi terfokus pada waktu dan perubahan lampu, meski durasinya tetap sesuai pengaturan.
  • Rasa dikejar jadwal meningkatkan kewaspadaan dan tekanan emosional, sehingga waktu tunggu dipersepsikan sebagai hambatan yang lebih mengganggu.
  • Penghitung waktu membuat setiap detik lebih disadari; pengemudi tetap perlu menunggu lampu benar-benar mengizinkan kendaraan bergerak.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Saat kita buru-buru, lampu merah terasa lama sekali. Lampunya sebenarnya tetap sama waktunya. Otak kita jadi fokus melihat lampu dan menghitung detik. Kita juga takut terlambat, jadi menunggu terasa tidak enak. Walau ingin cepat jalan, pengemudi harus tetap menunggu lampu benar-benar berubah.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Pernah merasa lampu merah seolah tidak kunjung berubah ketika sedang terburu-buru? Padahal, durasi lampu lalu lintas sebenarnya tetap berjalan sesuai pengaturan. Yang berubah justru cara otak merasakan dan memperhatikan waktu.

Kondisi tersebut berkaitan dengan perhatian, emosi, dan persepsi manusia terhadap waktu. Ketika sedang santai, beberapa puluh detik mungkin terasa singkat. Sebaliknya, saat sedang mengejar waktu, detik yang sama dapat terasa jauh lebih panjang.

1. Perhatian membuat waktu terasa lebih lambat

Ilustrasi lampu merah (Pixabay/Kalhh)

Ketika sedang terburu-buru, perhatian pengemudi cenderung tertuju pada waktu dan lampu lalu lintas. Mata mungkin lebih sering melihat angka hitung mundur atau memperhatikan kapan lampu akan berubah. Semakin besar perhatian yang diberikan terhadap berlalunya waktu, semakin kuat pula sensasi bahwa waktu berjalan lambat.

Hal tersebut berbeda ketika seseorang sedang melakukan aktivitas yang menarik perhatian. Fokus terhadap kegiatan dapat membuat seseorang tidak terlalu memperhatikan perjalanan waktu. Inilah sebabnya 30 detik saat menunggu lampu merah bisa terasa berbeda dibandingkan 30 detik ketika sedang menikmati percakapan atau aktivitas yang menyenangkan.

2. Rasa terburu-buru meningkatkan tekanan

ilustrasi klakson pada setir mobil (pexels.com/Norma Mortenson)

Terburu-buru juga membuat tubuh berada dalam kondisi lebih waspada. Pikiran mulai memikirkan jadwal, kemungkinan terlambat, serta berapa banyak waktu yang masih tersisa. Kondisi emosional tersebut membuat pengalaman menunggu menjadi lebih tidak nyaman.

Lampu merah kemudian terasa seperti penghalang terhadap tujuan yang ingin segera dicapai. Bukan karena lampunya benar-benar lebih lama, tetapi karena otak memberikan perhatian lebih besar pada hambatan tersebut. Semakin kuat keinginan untuk segera bergerak, semakin mengganggu pula waktu tunggu yang sebenarnya relatif singkat.

3. Hitung mundur membuat waktu semakin terasa

ilustrasi setir mobil (unsplash.com/Andraz Lazic)

Lampu lalu lintas yang memiliki penghitung waktu dapat memberikan informasi yang berguna bagi pengemudi. Namun, angka yang terus berkurang juga membuat perhatian terhadap waktu menjadi semakin jelas. Pengemudi dapat melihat setiap detik berlalu dan secara tidak sadar terus menunggu angka mencapai nol.

Ketika terburu-buru, perhatian tersebut bisa membuat beberapa detik terakhir terasa sangat panjang. Pengemudi mungkin mulai bersiap sebelum lampu berubah, misalnya dengan memperhatikan kendaraan di depan dan posisi pedal. Karena itu, penting tetap menunggu hingga lampu benar-benar mengizinkan kendaraan bergerak.

Pada akhirnya, lampu merah tidak benar-benar berjalan lebih lambat ketika seseorang sedang terburu-buru. Perasaan tersebut merupakan hasil interaksi antara perhatian, emosi, dan persepsi waktu. Memahami hal ini dapat membantu pengemudi menyadari bahwa rasa tidak sabar bukan alasan untuk mengambil keputusan terburu-buru di persimpangan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article