Kenapa Mobil Bisa Bergetar Saat Berhenti di Lampu Merah?

- Getaran mobil saat berhenti terjadi karena mesin tetap bekerja pada putaran idle, sehingga gangguan pembakaran, pemasukan udara, atau dudukan mesin lebih terasa.
- Putaran idle yang tidak stabil dapat terkait busi, koil, injektor, sistem udara, atau throttle body elektronik yang kotor maupun bermasalah.
- Engine mounting aus dan beban kompresor AC dapat memperkuat getaran; pemeriksaan diperlukan bila disertai idle naik-turun, suara aneh, indikator mesin, atau gejala hampir mati.
Pernah merasakan bodi atau setir mobil bergetar ketika sedang berhenti di lampu merah? Getaran kecil mungkin terasa biasa, tetapi jika muncul terus-menerus atau semakin kuat, kondisi tersebut bisa menjadi tanda ada bagian kendaraan yang perlu diperiksa.
Saat mobil berhenti, mesin tetap bekerja pada putaran rendah atau idle. Pada kondisi ini, gangguan kecil pada pembakaran, sistem pemasukan udara, hingga dudukan mesin dapat terasa lebih jelas karena tidak tertutupi oleh gerakan kendaraan.
1. Putaran mesin tidak stabil

Ilustrasi pria memeriksa mesin mobil yang mogok (pexels.com/MART PRODUCTION) Salah satu penyebab mobil bergetar ketika berhenti adalah putaran mesin yang tidak stabil. Mesin seharusnya mempertahankan putaran idle secara relatif konstan ketika pedal gas tidak diinjak. Jika pembakaran tidak berlangsung dengan sempurna, putaran mesin bisa naik turun dan menimbulkan getaran.
Masalah tersebut dapat berkaitan dengan busi, koil pengapian, injektor, atau sistem pemasukan udara. Pada mobil yang menggunakan throttle body elektronik, bagian tersebut juga dapat memengaruhi kestabilan idle jika kondisinya kotor atau mengalami gangguan. Pemeriksaan perlu dilakukan untuk mengetahui penyebab sebenarnya.
2. Dudukan mesin mulai bermasalah

ilustrasi mesin mobil hybrid (unsplash.com/Raylor Photo) Engine mounting atau dudukan mesin berfungsi menahan mesin sekaligus meredam getaran agar tidak terlalu terasa sampai ke kabin. Komponen ini menggunakan material karet atau sistem peredam tertentu yang dapat mengalami keausan seiring usia dan penggunaan kendaraan.
Jika engine mounting mulai rusak, getaran mesin yang sebenarnya normal dapat terasa lebih kuat ketika mobil berhenti. Gejalanya biasanya semakin terasa ketika posisi transmisi berada di D pada mobil otomatis karena mesin masih memberikan beban tertentu kepada sistem penggerak. Getaran juga dapat berubah ketika posisi transmisi dipindahkan ke N atau P.
3. Beban mesin berubah saat AC menyala

ilustrasi AC mobil (pexels.com/Erik Mclean) Penggunaan AC menambah beban kerja mesin. Ketika kompresor AC aktif, sistem kendaraan perlu menyesuaikan putaran mesin agar tetap stabil. Pada kendaraan yang kondisinya prima, perubahan tersebut biasanya hanya terasa sedikit.
Namun, jika sistem idle atau komponen pendukung mesin sudah tidak bekerja optimal, aktivasi kompresor AC dapat membuat getaran semakin terasa. Karena itu, perhatikan apakah getaran muncul ketika AC dinyalakan atau menjadi lebih kuat dibandingkan saat AC dimatikan.
Getaran ringan saat berhenti belum tentu menunjukkan kerusakan serius. Namun, jika disertai putaran mesin naik turun, suara tidak biasa, lampu indikator mesin menyala, atau mobil terasa seperti hendak mati, pemeriksaan sebaiknya dilakukan. Semakin cepat penyebab ditemukan, semakin mudah mencegah masalah berkembang menjadi kerusakan yang lebih besar.
![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)




















