ilustrasi isi bensin (unsplash.com/Ali Mkumbwa)
Cara paling masuk akal untuk membedakan bensin boros dengan indikator yang terasa menipu adalah menghitung konsumsi bahan bakar. Isi tangki hingga batas pengisian normal, kemudian catat angka odometer. Saat melakukan pengisian berikutnya, catat jarak tempuh dan jumlah liter yang masuk.
Misalnya kendaraan menempuh 400 kilometer dan membutuhkan 40 liter bensin, berarti konsumsi rata-ratanya 10 km per liter. Perhitungan seperti ini lebih bisa diandalkan daripada memperkirakan konsumsi berdasarkan posisi jarum bensin.
Jika angka km per liter tetap berada di kisaran normal, tetapi jarum terlihat turun cepat di awal, kemungkinan besar karakter indikator memang membuatnya terlihat demikian. Sebaliknya, jika konsumsi benar-benar turun drastis, barulah kondisi seperti tekanan ban, filter udara, busi, sistem injeksi, beban kendaraan, dan gaya berkendara perlu diperiksa.
Jadi, jangan langsung menyalahkan kendaraan hanya karena jarum bensin bergerak cepat. Lihat angka kilometer dan liter terlebih dahulu, karena dua data tersebut yang bisa menunjukkan apakah bensin benar-benar boros atau hanya indikator yang memberikan kesan berbeda.