Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Berkendara di Tengah Abu Vulkanik, Haruskah Menyalakan Lampu Hazard?
ilustrasi lampu Hazard mobil (pexels.com/Ilja Blakunovas)
  • Abu vulkanik lebat menurunkan jarak pandang dan meningkatkan risiko tabrakan, sehingga penggunaan lampu kendaraan perlu disesuaikan dengan kondisi jalan.
  • Saat kendaraan tetap berjalan, gunakan lampu utama agar lebih terlihat dan sein tetap berfungsi; kurangi kecepatan, perlebar jarak aman, serta hindari lampu jauh.
  • Lampu hazard digunakan ketika kendaraan berhenti di lokasi aman akibat jarak pandang buruk; jangan berhenti sembarangan di tengah jalan atau dekat objek berisiko.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Kalau abu gunung berapi sangat tebal, jalan jadi susah dilihat. Mobil sebaiknya menyalakan lampu utama supaya terlihat. Jangan menyalakan lampu hazard saat mobil masih jalan, karena lampu sein jadi susah dipakai. Jika pandangan sangat buruk, pengemudi harus berhenti di tempat aman dan baru menyalakan hazard.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Abu vulkanik yang turun sangat lebat dapat membuat jarak pandang pengemudi menurun drastis. Kondisi ini membuat kendaraan lebih sulit terlihat dan meningkatkan risiko tabrakan, terutama di jalan yang ramai.

Dalam situasi seperti ini, penggunaan lampu kendaraan harus disesuaikan dengan kondisi. Lampu hazard memang dapat membantu memberi tanda ketika mobil berada dalam keadaan darurat, tetapi bukan berarti harus selalu dinyalakan saat berkendara di tengah abu vulkanik.

1. Hazard bukan untuk berkendara normal

ilustrasi lampu hazard mobil (unsplash.com/Erik Mclean)

Lampu hazard dirancang sebagai tanda peringatan ketika kendaraan sedang berhenti atau mengalami kondisi darurat. Jika dinyalakan saat mobil tetap bergerak, lampu sein menjadi sulit digunakan untuk memberi tanda ketika berpindah jalur atau berbelok.

Karena itu, menyalakan hazard terus-menerus saat berkendara bukan pilihan yang ideal. Pengemudi justru sebaiknya menggunakan lampu utama agar mobil lebih mudah terlihat oleh kendaraan lain. Penggunaan lampu utama juga membantu pengemudi mengenali kondisi jalan di depan meskipun jarak pandang sedang terbatas.

2. Nyalakan hazard ketika harus berhenti

ilustrasi lampu hazard mobil (unsplash.com/Erik Mclean)

Jika abu vulkanik semakin pekat dan jarak pandang sudah terlalu pendek, keputusan paling aman adalah mencari tempat untuk berhenti. Setelah kendaraan berada di lokasi yang aman, lampu hazard dapat dinyalakan sebagai tanda peringatan bagi pengguna jalan lain.

Namun, lokasi berhenti juga harus diperhatikan. Hindari berhenti sembarangan di tengah jalan karena dapat menjadi bahaya bagi kendaraan lain. Jika memungkinkan, arahkan mobil ke tempat yang aman dan berada jauh dari potensi bahaya seperti pohon, tiang, papan reklame, atau bangunan yang bisa terdampak timbunan abu.

3. Utamakan lampu utama saat tetap berjalan

ilustrasi mobil dengan lampu hazard menyala (pexels.com/Gera Cejas)

Jika perjalanan masih harus dilanjutkan dan kondisi jalan memungkinkan, gunakan lampu utama sesuai kebutuhan. Lampu utama membantu meningkatkan visibilitas kendaraan tanpa menghilangkan fungsi lampu sein ketika pengemudi perlu memberi tanda kepada pengguna jalan lain.

Kecepatan juga sebaiknya dikurangi dan jarak dengan kendaraan di depan diperbesar. Hindari penggunaan lampu jauh ketika abu sangat pekat karena cahaya dapat dipantulkan kembali oleh partikel di udara dan membuat pandangan semakin silau. Jika jarak pandang sudah sangat buruk, jangan memaksakan perjalanan. Berhenti di lokasi yang aman dan tunggu sampai kondisi memungkinkan untuk kembali berkendara.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article