Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

BYD Pertimbangkan Racco untuk Masuk Pasar Indonesia

BYD Pertimbangkan Racco untuk Masuk Pasar Indonesia
BYD Racco di JMS 2025 (BYD)
  • PT BYD Motor Indonesia mengkaji peluang memasarkan BYD Racco, namun belum menetapkan waktu maupun kepastian peluncurannya di Indonesia.
  • Respons masyarakat terhadap Racco melalui komunikasi dengan pemilik dan media sosial dinilai sangat positif, tetapi belum menjadi dasar keputusan peluncuran.
  • BYD akan menggabungkan riset engineering, pasar, kondisi lapangan, serta perhitungan harga dan strategi promosi sebelum memutuskan penjualan atau perkenalan Racco.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - PT BYD Motor Indonesia tengah mengkaji peluang memasarkan BYD Racco di Indonesia. Meski mendapat respons positif dari masyarakat, perusahaan belum mengambil keputusan mengenai waktu maupun kepastian peluncuran model tersebut.

Head of Public & Government Relations PT BYD Motor Indonesia Luther Panjaitan mengatakan BYD masih menggabungkan hasil riset engineering dan pasar sebelum menentukan langkah komersial.

  1. 1. BYD masih mempelajari potensi pasar Racco

    BYD Press Conference at Japan Mobility Show 2025.jpeg
    BYD Racco dan BYD Sealion 6 DM-i (BYD)

    Luther mengatakan Racco masih berada dalam tahap kajian internal. BYD perlu memahami terlebih dahulu karakteristik pasar Indonesia sebelum memutuskan apakah model tersebut akan dijual secara resmi.

    “Kita masih tahap mencoba mengidentifikasi, mempelajari market-nya,” kata Luther di Subang, Kamis (3/9/2026).

    Menurutnya, BYD juga memanfaatkan komunikasi melalui media sosial untuk mendapatkan gambaran mengenai respons konsumen terhadap Racco.

    “Melalui komunikasi langsung dengan pemilik, melalui sosial media, kita mau tahu feedback dari market bagaimana. Surprisingly sangat positif,” ujarnya.

    Respons tersebut menjadi salah satu indikator awal yang positif bagi BYD. Namun, perusahaan belum menjadikannya sebagai dasar untuk langsung memutuskan peluncuran.

  2. 2. Harga dan strategi pemasaran ikut dikalkulasi

    Area konstruksi pabrik BYD di Subang dengan struktur bangunan industri dan alat berat di tengah lahan terbuka.
    Pabrik BYD di Subang punya kapasitas produksi hingga 150 ribu unit per tahun (Dok. BYD)

    Selain melihat minat konsumen, BYD juga perlu menentukan posisi Racco jika kendaraan tersebut benar-benar masuk ke pasar Indonesia.

    Luther mengatakan perusahaan masih mengevaluasi sejumlah aspek, termasuk harga serta strategi komunikasi dan promosi.

    “Tapi kita mau lihat dulu di sisi mana yang mungkin nanti bisa jadi strong point-nya khususnya komunikasi, produknya ini secara pricing, secara promosinya. Nah itu kita harus kalkulasi lagi,” tuturnya.

    Artinya, respons positif dari calon konsumen belum otomatis membuat BYD memastikan Racco masuk Indonesia. Perusahaan masih harus menghitung aspek bisnis dan strategi produk sebelum mengambil keputusan.

  3. 3. Keputusan menunggu hasil riset engineering dan pasar

    Proses produksi mobil BYD berlangsung di jalur perakitan Pabrik Subang dengan dukungan fasilitas manufaktur.
    Proses produksi mobil BYD di Pabrik Subang (Dok. BYD)

    BYD juga tidak hanya mengandalkan survei konsumen. Luther mengatakan hasil riset engineering akan digabungkan dengan riset pasar dan kondisi aktual di lapangan.

    “Kita coba mengkombinasikan hasil riset secara engineering dan riset market sama real situation di lapangan,” katanya.

    Dari seluruh hasil kajian tersebut, BYD kemudian akan menentukan apakah Racco akan dijual atau diperkenalkan di Indonesia.

    “Kita lagi kalkulasi, kita gabungkan sampai kita putuskan untuk jual atau segera perkenalkan,” ujar Luther.

    Ia menambahkan, respons masyarakat di negara tempat Racco pertama kali diperkenalkan juga menjadi salah satu pertimbangan positif.

    “Yang jelas memang di negara awal dia diperkenalkan, itu tanggapan respon masyarakat cukup baik ya. Nah itu satu hal positif yang buat kita makin confidence,” katanya.

    Meski demikian, Luther menegaskan keputusan akhir tetap bergantung pada hasil riset internal. “Bisa saja. Semua tergantung nanti hasil riset internal kita,” ucapnya.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More