Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Bukan Hanya Mesin, Ini yang Membuat Mobil Irit BBM

4 min read
Bukan Hanya Mesin, Ini yang Membuat Mobil Irit BBM
ilustrasi mobil (pexels.com/Thang Nguyen)
  • Efisiensi BBM dipengaruhi teknologi mesin, bobot, aerodinamika, dan ban.

  • Gaya berkendara yang halus dan stabil dapat membantu menghemat BBM.

  • Perawatan rutin dan kebiasaan berkendara yang tepat membantu menjaga mobil tetap irit.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Pernah bertanya-tanya kenapa ada mobil yang bisa menempuh jarak jauh dengan sedikit bahan bakar. Sementara, mobil lain lebih sering mampir ke SPBU? Padahal, kapasitas mesin dan ukuran kedua mobil tersebut bisa saja tidak jauh berbeda. Lantas, apa sebenarnya yang membuat sebuah mobil bisa lebih irit BBM dibandingkan yang lain?

Ternyata efisiensi bahan bakar tidak hanya ditentukan oleh ukuran mesin. Ada banyak faktor yang bekerja secara bersamaan, mulai dari teknologi mesin, bobot kendaraan, bentuk bodi, jenis ban, hingga cara mobil dikendarai. Mari, kita bahas lebih dalam apa saja yang membuat sebuah mobil disebut irit BBM?

  1. 1. Teknologi mesin dan sistem penggerak

    ilustrasi mobil
    ilustrasi mobil (pexels.com/Marco Antonio)

    Salah satu faktor utama tentu saja berasal dari mesin. Mesin modern dirancang agar bisa menghasilkan tenaga dengan penggunaan bahan bakar yang lebih efisien, salah satunya melalui teknologi direct fuel injection. Teknologi ini menyemprotkan bahan bakar langsung ke ruang pembakaran dengan tekanan tinggi. Cara ini memungkinkan jumlah bahan bakar yang digunakan dalam setiap proses pembakaran dikontrol dengan lebih presisi.

    Ada pula teknologi turbocharger. Dengan bantuan turbo, mesin berkapasitas lebih kecil bisa menghasilkan tenaga yang cukup besar tanpa harus menggunakan mesin berkapasitas lebih besar. Pada mobil hibrida (hybrid), efisiensi bisa ditingkatkan lagi. Sistem regenerative braking memungkinkan sebagian energi yang biasanya terbuang ketika mobil mengerem bisa diubah menjadi energi listrik dan disimpan di baterai. Energi tersebut kemudian dapat digunakan kembali untuk membantu menggerakkan mobil. Hal ini sangat berguna ketika berkendara di dalam kota yang sering mengalami kondisi stop-and-go.

  2. 2. Bobot mobil juga berpengaruh

    ilustrasi mobil LCGC
    ilustrasi mobil (vecteezy.com/Amien Rahmat Noprianto Yusuf)

    Semakin berat sebuah mobil, semakin besar energi yang dibutuhkan untuk membuatnya bergerak, terutama saat berakselerasi dari posisi berhenti atau ketika melewati tanjakan. Karena itu, produsen mobil berusaha menggunakan material yang lebih ringan tanpa mengorbankan aspek keselamatan dan kekuatan kendaraan. Beban tambahan juga bisa memengaruhi konsumsi bahan bakar. Barang-barang berat yang terus dibiarkan berada di bagasi membuat mesin harus bekerja lebih keras setiap kali mobil berakselerasi. Hal yang sama berlaku untuk aksesori tertentu seperti roof rack. Jika tidak sedang digunakan, melepasnya bisa membantu mengurangi bobot sekaligus hambatan udara.

  3. 3. Bentuk bodi dan aerodinamika

    ilustrasi sirip mobil
    ilustrasi sirip mobil (unsplash.com/Benjamin Child)

    Ketika mobil melaju pelan, hambatan udara mungkin belum terlalu terasa. Namun, pengaruhnya menjadi jauh lebih besar ketika kecepatan meningkat, terutama saat berkendara di jalan tol atau jalan bebas hambatan. Mobil dengan desain yang lebih aerodinamis dapat membelah udara dengan lebih mudah. Sebaliknya, bodi yang kurang aerodinamis menghasilkan hambatan lebih besar sehingga mesin membutuhkan lebih banyak tenaga untuk mempertahankan kecepatan. Itulah sebabnya, produsen tidak hanya memikirkan desain mobil dari sisi tampilan. Bentuk bodi, bagian bawah mobil, hingga detail kecil yang mengatur aliran udara juga dirancang agar hambatan udara bisa ditekan.

  4. 4. Ban dengan hambatan gulir rendah

    ilustrasi ban mobil
    ilustrasi ban mobil (pexels.com/Vitali Adutskevich)

    Ban ternyata juga memiliki peran dalam menentukan seberapa irit sebuah mobil. Salah satu istilah yang berkaitan dengan hal ini adalah rolling resistance, hambatan yang muncul ketika ban bersentuhan dan bergulir di permukaan jalan. Ban dengan rolling resistance rendah dirancang agar membutuhkan energi lebih sedikit untuk terus bergerak.

    Namun, bukan hanya jenis ban yang perlu diperhatikan. Tekanan angin juga sangat penting. Ban yang kekurangan tekanan angin memiliki hambatan gulir lebih besar. Akibatnya, mesin perlu bekerja lebih keras untuk menggerakkan kendaraan.

  5. 5. Gaya berkendara pengemudi

    ilustrasi mengemudi mobil
    ilustrasi mengemudi mobil (unsplash.com/Dan Gold)

    Mobil dengan teknologi paling canggih sekalipun bisa menjadi lebih boros jika dikendarai dengan agresif. Kebiasaan menginjak pedal gas terlalu dalam, melakukan akselerasi mendadak, kemudian mengerem keras membuat energi yang sudah digunakan untuk mempercepat mobil terbuang begitu saja. Kebiasaan membiarkan mesin menyala saat mobil berhenti dalam waktu lama juga menggunakan bahan bakar tanpa menghasilkan jarak tempuh. Sebaliknya, berkendara dengan kecepatan yang stabil, melakukan akselerasi secara bertahap, dan mengantisipasi kondisi lalu lintas dapat membantu mengurangi konsumsi bahan bakar. Pada perjalanan di jalan yang lancar, penggunaan cruise control juga dapat membantu mempertahankan kecepatan secara konsisten sehingga pengemudi tidak terlalu sering menginjak pedal gas.

    Pada akhirnya, mobil irit BBM merupakan hasil dari perpaduan banyak hal. Ada teknologi mesin, bobot, aerodinamika, ban, dan gaya berkendara. Perawatan rutin dan kebiasaan mengemudi yang tepat juga dapat membantu menjaga konsumsi bahan bakar tetap efisien.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team
Yudha ‎
EditorYudha ‎

Related Articles

See More