Tekanan BYD di China salah satunya berasal dari lemahnya penjualan mobil plug-in hybrid atau PHEV. Pada 2025, penjualan PHEV BYD Group mencapai 2.288.709 unit, turun 7,9 persen dibandingkan 2024. Tren tersebut berlanjut pada Januari hingga Agustus 2026, ketika penjualan PHEV mencapai 1.265.017 unit atau turun 11,2 persen secara tahunan.
Namun, terdapat tanda pemulihan pada awal semester kedua. Sepanjang Juli dan Agustus, BYD menjual 844.456 kendaraan secara global, naik 18,5 persen. Penjualan mobil listrik murni atau BEV meningkat 29,6 persen, sedangkan PHEV naik 6 persen. BYD juga menyebut margin kotor bisnis luar negerinya mencapai 22 persen, meningkat 1,9 poin persentase secara tahunan.
Secara keseluruhan, pendapatan BYD pada semester pertama 2026 turun 7,1 persen menjadi 344,8 miliar yuan. Laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemegang saham juga turun 20,5 persen menjadi 12,3 miliar yuan. Meski demikian, ekspansi internasional menjadi penopang penting ketika persaingan pasar China semakin ketat.
Seperti dikutip dari CarNewsChina.com, pasar domestik BYD kini menjadi “game of survival”, sementara perusahaan semakin mengandalkan pasar global untuk mempertahankan pertumbuhan.