Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Efek Mencampur Pertamax dan Pertalite: Mesin Ngelitik, Karbon Menumpuk

Efek Mencampur Pertamax dan Pertalite: Mesin Ngelitik, Karbon Menumpuk
ilustrasi isi bensin (pexels.com/Erik Mclean)
Intinya Sih
Gini Kak
  • Mencampur pertalite dan pertamax membuat nilai oktan tidak stabil, menyebabkan pembakaran tidak seimbang dan menurunkan performa mesin.
  • Campuran bahan bakar berbeda aditif memicu penumpukan kerak karbon yang mengotori busi serta menyumbat injektor, membuat tarikan berat dan boros bahan bakar.
  • Ketukan terus-menerus akibat campuran ini dapat merusak piston dan silinder secara permanen hingga perlu turun mesin dengan biaya tinggi.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Kebiasaan mencampur bahan bakar jenis pertalite dan pertamax masih sering dilakukan oleh sebagian pemilik kendaraan dengan harapan mendapatkan performa yang lebih baik tanpa biaya yang terlalu mahal. Pertalite yang memiliki angka oktan 90 dicampur dengan pertamax yang memiliki angka oktan 92 di dalam tangki yang sama. Namun, di balik anggapan efisiensi tersebut, ada dampak teknis nyata yang terjadi pada ruang bakar kendaraan ketika dua jenis bahan bakar dengan karakteristik berbeda ini dipaksa menyatu.

Secara mekanis, setiap mesin kendaraan telah dirancang sedemikian rupa untuk beroperasi secara optimal pada nilai oktan tertentu sesuai dengan rasio kompresinya. Ketika bahan bakar dengan oktan yang berbeda dicampur, performa mesin justru akan mengalami penurunan karena tidak adanya kepastian nilai oktan yang konsisten. Proses pembakaran di dalam silinder menjadi kacau dan tidak seimbang, sehingga mesin tidak dapat menghasilkan tenaga yang maksimal seperti yang seharusnya.

1. Kegagalan proses pembakaran dan munculnya gejala ketukan

Ilustrasi mekanik mengecek kelistrikan mesin mobil (pexels.com/Gustavo Fring)
Ilustrasi mekanik mengecek kelistrikan mesin mobil (pexels.com/Gustavo Fring)

Setiap jenis bahan bakar memiliki titik nyala dan ketahanan terhadap tekanan yang berbeda sebelum memicu pembakaran. Pertamax dirancang untuk tahan terhadap tekanan tinggi pada mesin kompresi tinggi, sedangkan pertalite akan terbakar lebih cepat pada tekanan yang lebih rendah. Percampuran kedua cairan ini menghasilkan nilai oktan baru yang tidak stabil, sehingga bahan bakar sering kali meledak sebelum piston mencapai posisi yang tepat di dalam silinder.

Kondisi inilah yang memicu terjadinya gejala ketukan atau yang populer dikenal dengan istilah ngelitik pada mesin kendaraan. Gejala ketukan ini bukan sekadar suara bising yang mengganggu kenyamanan berkendara, melainkan tanda bahwa sedang terjadi benturan energi yang tidak sinkron di dalam ruang bakar. Jika gejala ini dibiarkan terjadi secara terus-menerus selama berkendara, getaran dan tekanan abnormal tersebut akan melemahkan struktur mekanis di dalam mesin.

2. Penumpukan kerak karbon dan penyumbatan komponen vital

ilustrasi mesin mobil (pexels.com/erik)
ilustrasi mesin mobil (pexels.com/erik)

Pertalite dan pertamax diproduksi dengan kandungan zat aditif yang berbeda, di mana pertamax memiliki aditif pembersih yang jauh lebih kompleks. Ketika kedua formula kimia ini bercampur secara acak, zat aditif tersebut tidak dapat bekerja secara homogen dan justru berpotensi merusak fungsi satu sama lain. Akibatnya, sisa-sisa senyawa kimia yang tidak terbakar dengan sempurna akan mengendap dan berubah menjadi tumpukan kerak karbon di dinding silinder.

Kerak karbon yang menumpuk ini secara perlahan akan mengotori permukaan busi dan menyumbat lubang kecil pada sistem injektor bahan bakar. Penumpukan kotoran pada busi membuat percikan api menjadi lemah, sementara injektor yang tersumbat akan mengganggu distribusi bahan bakar ke ruang bakar. Dampak langsungnya adalah tarikan kendaraan terasa semakin berat, mesin sering tersendat saat digas, dan konsumsi bahan bakar justru menjadi jauh lebih boros.

3. Kerusakan permanen pada piston dan komponen silinder

ilustrasi mekanik sedang cek mesin mobil (pexels.com/Sergey Meshkov)
ilustrasi mekanik sedang cek mesin mobil (pexels.com/Sergey Meshkov)

Dampak paling fatal dari kebiasaan mencampur bahan bakar ini baru akan terlihat setelah kendaraan digunakan dalam jangka waktu yang cukup lama. Tekanan yang tidak stabil dari gejala ketukan yang konstan akan memberikan beban kejut yang sangat berat pada bagian kepala piston. Suhu di dalam ruang bakar juga akan meningkat secara drastis melampaui batas toleransi normal yang telah ditetapkan oleh pabrikan kendaraan.

Panas yang berlebihan dikombinasikan dengan ketukan yang keras dapat menyebabkan kepala piston berlubang atau bahkan pecah di dalam silinder. Selain itu, dinding silinder juga bisa mengalami baret atau aus akibat gesekan piston yang tidak stabil karena tumpukan kerak karbon yang mengeras. Jika kerusakan pada tingkat ini sudah terjadi, kendaraan harus menjalani proses turun mesin total yang membutuhkan biaya perbaikan sangat besar.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Dwi Agustiar
EditorDwi Agustiar

Related Articles

See More