Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Harga BBM Naik: Saatnya Beralih dari Pertamax ke Pertalite?

Harga BBM Naik: Saatnya Beralih dari Pertamax ke Pertalite?
Ilustrasi mengisi bensin (Pexels/Andrea Piacquadio)
Intinya Sih
Gini Kak
  • Harga Pertamax naik tajam dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter, memicu masyarakat mempertimbangkan beralih ke Pertalite demi menekan pengeluaran di tengah kenaikan biaya hidup.
  • Perbedaan angka oktan antara Pertamax (RON 92) dan Pertalite (RON 90) dapat menyebabkan gejala ngelitik pada mesin berkompresi tinggi, yang berisiko menurunkan performa serta mempercepat kerusakan komponen.
  • Penggunaan BBM beroktan rendah bisa membuat konsumsi bahan bakar lebih boros dan menimbulkan kerak karbon, sehingga potensi penghematan harga beli dapat tergantikan oleh biaya servis tambahan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Kebijakan penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi sering kali memicu perubahan pola konsumsi masyarakat secara signifikan. Salah satu momentum yang menjadi sorotan adalah ketika harga Pertamax mengalami lonjakan cukup tajam, dari yang semula berada di angka Rp12.300 per liter meroket menjadi Rp16.250 per liter.

Kenaikan yang mencapai hampir empat ribu rupiah per liter ini tentu menambah beban pengeluaran bulanan para pemilik kendaraan bermotor secara drastis. Di tengah situasi tekanan ekonomi tersebut, muncul sebuah pertanyaan besar di kalangan pengendara mengenai apakah ini saat yang tepat untuk menurunkan kelas konsumsi BBM dengan beralih ke Pertalite yang harganya jauh lebih murah.

1. Pertimbangan aspek ekonomi di tengah lonjakan biaya hidup

ilustrasi isi bensin (pexels.com/Engin Akyurt)
ilustrasi isi bensin (pexels.com/Engin Akyurt)

Bagi sebagian besar pemilik kendaraan, alasan utama untuk beralih dari Pertamax ke Pertalite adalah demi menjaga kestabilan kondisi finansial rumah tangga. Selisih harga yang melebihi Rp6.000 per liter antara kedua jenis BBM ini merupakan angka yang sangat signifikan, terutama bagi mereka yang memiliki mobilitas tinggi setiap harinya.

Jika sebuah mobil membutuhkan pengisian sebanyak 40 liter dalam seminggu, maka beralih ke Pertalite dapat menghemat pengeluaran hingga ratusan ribu rupiah dalam sebulan. Di tengah merangkaknya harga berbagai kebutuhan pokok lainnya, efisiensi dari sektor transportasi ini dipandang sebagai solusi instan dan paling logis untuk memangkas pengeluaran harian yang kian membengkak.

2. Efek penurunan angka oktan terhadap kesehatan mesin kendaraan

ilustrasi isi bensin (pexels.com/Erik Mclean)
ilustrasi isi bensin (pexels.com/Erik Mclean)

Meskipun menawarkan penghematan biaya secara langsung, keputusan untuk bermigrasi ke Pertalite harus dipertimbangkan secara matang dari sisi teknis mekanis. Pertamax memiliki angka oktan atau Research Octane Number (RON) 92 yang dirancang khusus untuk mesin mobil dan motor modern dengan rasio kompresi tinggi.

Sementara itu, Pertalite hanya memiliki standar RON 90. Ketika kendaraan dengan kompresi tinggi dipaksa menggunakan bahan bakar beroktan lebih rendah, campuran udara dan bensin di dalam ruang bakar akan meledak sebelum waktunya akibat tekanan piston. Gejala ini dikenal sebagai fenomena ngelitik atau knocking yang dalam jangka panjang dapat merusak piston, mengikis dinding silinder, serta menurunkan performa mesin secara drastis.

3. Menimbang efisiensi jangka panjang antara biaya beli dan biaya perawatan

Ilustrasi mekanik mengecek kelistrikan mesin mobil (pexels.com/Gustavo Fring)
Ilustrasi mekanik mengecek kelistrikan mesin mobil (pexels.com/Gustavo Fring)

Sebelum mengambil keputusan final untuk beralih ke Pertalite, para pemilik kendaraan perlu melakukan kalkulasi secara menyeluruh antara keuntungan jangka pendek dan risiko jangka panjang. Penggunaan BBM dengan oktan yang tidak sesuai spesifikasi pabrikan sering kali membuat konsumsi bahan bakar justru menjadi lebih boros karena mesin harus bekerja lebih keras untuk menghasilkan daya yang sama.

Selain itu, pembakaran yang tidak sempurna dari RON 90 akan menyisakan tumpukan kerak karbon di dalam ruang mesin. Kerak ini pada akhirnya akan menuntut jadwal servis dan pembersihan ruang bakar yang lebih sering, sehingga biaya yang berhasil dihemat dari pembelian bensin bisa saja habis untuk membayar biaya perbaikan mesin di bengkel.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Dwi Agustiar
EditorDwi Agustiar

Related Articles

See More