Ini Bahaya Polusi Mikropastik dari Ban Mobil, Jarang Disadari!

- Gesekan ban mobil dengan aspal menghasilkan partikel mikroplastik yang menjadi salah satu sumber terbesar pencemar laut, mencapai sekitar 28% dari total limbah mikroplastik global.
- Partikel ban mengandung senyawa beracun seperti 6PPD-quinone yang dapat mematikan ikan dan merusak ekosistem air ketika terbawa aliran hujan ke sungai dan laut.
- Mikroplastik dari ban dapat masuk ke rantai makanan laut hingga akhirnya dikonsumsi manusia, serta terhirup di udara padat lalu lintas yang berisiko bagi kesehatan pernapasan.
Polusi udara selama ini identik dengan asap hitam dari knalpot kendaraan. Namun, ada bahaya lingkungan yang jauh lebih besar dan sering kali luput dari perhatian, yaitu polusi mikroplastik dari ban mobil.
Ban modern tidak lagi dibuat dari 100% karet alam, melainkan campuran karet sintetis (mengandung plastik/polimer), minyak bumi, dan berbagai bahan kimia tambahan. Ketika mobil melaju, gesekan dengan aspal mengikis ban dan melepaskan miliaran partikel mikro ke lingkungan.
Berikut adalah beberapa bahaya nyata dari mikroplastik ban mobil yang perlu disadari:
1. Menjadi penyumbang terbesar mikroplastik di lautan

Banyak yang mengira sampah sedotan atau kantong plastik adalah polutan utama di laut. Faktanya, riset global menunjukkan bahwa kikisnya ban mobil adalah salah satu sumber terbesar (sekitar 28%) limbah mikroplastik di lautan dunia.
Partikel mikro dari ban yang tercecer di jalanan akan tersapu oleh air hujan, masuk ke saluran selokan, mengalir ke sungai, dan akhirnya menumpuk di laut. Karena ukurannya yang sangat kecil (sering kali kurang dari 5 milimeter), partikel ini mustahil disaring oleh sistem tata kelola air kota.
2. Mengandung senyawa kimia mematikan bagi ekosistem air

Partikel ban tidak hanya mengotori air secara fisik, tetapi juga membawa racun kimia. Salah satu zat paling berbahaya di dalam ban adalah 6PPD-quinone (senyawa anti-penuaan karet).
Ketika partikel ban hancur dan terkena ozon, senyawa ini berubah menjadi racun mematikan bagi hewan air. Kasus di beberapa negara menunjukkan bahwa aliran air hujan yang membawa limbah ban ke sungai telah memicu kematian massal ikan-ikan seperti salmon secara mendadak karena merusak sistem saraf mereka.
3. Merusak rantai makanan yang akhirnya dikonsumsi manusia

Di dalam air, mikroplastik ban ini secara tidak sengaja tertelan oleh plankton, udang, dan ikan kecil karena dikira makanan. Zat beracun tersebut kemudian mengendap di dalam jaringan tubuh hewan laut.
Melalui hukum rantai makanan, ikan kecil dimakan ikan besar, dan ikan besar akhirnya ditangkap untuk dikonsumsi oleh manusia. Akibatnya, senyawa kimia berbahaya dan mikroplastik yang berasal dari ban mobil di jalanan bisa berakhir di dalam piring makan kita sendiri.
4. Terhirup ke dalam paru-paru dan mengancam kesehatan manusia

Selain hanyut ke air, partikel ban yang berukuran sangat kecil (airborne particulate matter) juga beterbangan di udara saat bergesekan dengan jalanan yang kering dan berangin. Partikel ini menyatu dengan debu jalanan.
Saat manusia berjalan atau berkendara di area padat lalu lintas, partikel mikroplastik ini rentan terhirup secara langsung. Ukurannya yang mikro membuat bulu hidung tidak mampu menyaringnya, sehingga zat tersebut bisa masuk jauh ke dalam paru-paru, memicu peradangan saluran pernapasan, asma, hingga risiko jangka panjang seperti gangguan kardiovaskular.



















