Jalan Beton vs Aspal: Mana Lebih Licin Saat Hujan?

- Kelicinan jalan saat hujan tidak ditentukan mutlak oleh beton atau aspal, melainkan tekstur permukaan, usia jalan, perawatan, genangan air, dan kondisi ban.
- Aspal dapat licin saat rusak atau mengalami bleeding, sedangkan beton menjadi licin bila terlalu halus atau aus; drainase buruk pada keduanya menurunkan traksi.
- Pengendara perlu memastikan alur dan tekanan ban, mengurangi kecepatan, menghindari pengereman mendadak, serta mewaspadai genangan, marka, tutup saluran, dan permukaan logam basah.
Saat hujan turun, kondisi permukaan jalan bisa berubah drastis. Pengendara mungkin pernah merasakan perbedaan ketika melintasi jalan beraspal dan jalan beton. Ada permukaan yang terasa lebih menggigit, tetapi ada juga yang membuat ban seolah kehilangan cengkeraman, terutama ketika harus mengerem atau berbelok.
Lantas, mana yang sebenarnya lebih licin saat hujan, jalan beton atau aspal? Jawabannya tidak sesederhana membandingkan jenis materialnya. Tingkat kelicinan juga dipengaruhi tekstur permukaan, usia jalan, kondisi perawatan, genangan air, hingga kondisi ban kendaraan.
1. Karakter permukaan beton dan aspal berbeda

ilustrasi jalan basah setelah hujan (pexels.com/aidan roof) Jalan aspal dibuat menggunakan campuran agregat seperti batu pecah dan pasir yang diikat dengan bahan bitumen. Permukaannya memiliki tekstur yang dipengaruhi ukuran agregat, komposisi campuran, serta proses pengerjaan. Jika agregat masih memiliki tekstur kasar dan tidak mengalami kerusakan, permukaan aspal dapat memberikan daya cengkeram yang baik ketika basah.
Sementara itu, jalan beton menggunakan campuran semen, pasir, agregat, dan air. Permukaan beton bisa dibuat dengan tekstur khusus, misalnya melalui proses penyapuan menggunakan sikat atau pemberian alur melintang. Tekstur tersebut membantu meningkatkan gesekan dan mengalirkan air. Namun, beton yang permukaannya terlalu halus atau agregatnya sudah mengalami keausan dan pemolesan bisa menjadi lebih licin ketika basah.
2. Kondisi permukaan lebih menentukan daripada jenis material

ilustrasi mobil di jalan basah (pexels.com/Kaique Rocha) Jalan beton tidak otomatis lebih licin dibandingkan aspal. Begitu pula sebaliknya. Aspal yang mengalami kerusakan, permukaannya terlalu halus, atau mengalami bleeding bisa memiliki daya cengkeram rendah. Bleeding merupakan kondisi ketika aspal pengikat naik ke permukaan sehingga sebagian tekstur agregat tertutup lapisan bitumen. Akibatnya, permukaan jalan dapat terasa lebih licin, terutama ketika terkena air.
Pada jalan beton, risiko serupa bisa muncul ketika permukaannya aus dan agregat di dalamnya menjadi lebih halus akibat gesekan kendaraan selama bertahun-tahun. Kondisi drainase juga berpengaruh. Jika air tidak mengalir dengan baik, genangan dapat terbentuk di atas permukaan jalan, baik beton maupun aspal. Lapisan air ini berpotensi mengurangi kontak langsung antara karet ban dan permukaan jalan sehingga traksi menurun.
3. Cara berkendara tetap menjadi faktor penting

ilustrasi setir mobil (unsplash.com/Stephan Mahlke) Selain jenis material jalan, kondisi ban kendaraan sangat menentukan keselamatan ketika hujan. Ban dengan alur yang masih dalam memiliki kemampuan lebih baik untuk mengalirkan air dari bidang kontaknya. Sebaliknya, ban yang sudah aus lebih rentan kehilangan traksi, terutama ketika kendaraan melaju cepat melewati genangan. Tekanan angin juga harus dijaga sesuai rekomendasi pabrikan agar karakteristik kontak ban tetap optimal.
Pengendara sebaiknya tidak menganggap jalan beton selalu lebih berbahaya atau aspal pasti lebih aman saat hujan. Perhatikan kondisi permukaan, hindari pengereman mendadak, dan kurangi kecepatan ketika melintasi genangan. Marka jalan, tutup saluran air, serta permukaan logam juga perlu diwaspadai karena dapat menjadi sangat licin ketika basah. Menjaga jarak aman dengan kendaraan di depan turut memberi waktu lebih banyak untuk bereaksi jika terjadi kondisi darurat.
Jadi, mana yang lebih licin saat hujan? Tidak ada jawaban mutlak bahwa jalan beton selalu lebih licin daripada aspal. Jalan dengan tekstur kasar, agregat yang tidak aus, dan drainase baik cenderung memberikan cengkeraman lebih baik, apa pun materialnya. Kondisi permukaan dan kualitas ban justru menjadi penentu yang lebih penting daripada sekadar jenis jalan.




















