Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Kasus Mobil Listrik Terbakar Ternyata Tak Sebanyak Mobil ICE

Kasus Mobil Listrik Terbakar Ternyata Tak Sebanyak Mobil ICE
ilustrasi mobil terbakar (pexels.com/Styves Exantus)
Intinya Sih
  • Data internasional menunjukkan mobil listrik hanya mencatat sekitar 25 kasus kebakaran per 100.000 unit, jauh lebih rendah dibandingkan mobil bensin yang mencapai 1.530 kasus.
  • Fenomena thermal runaway pada baterai litium-ion membuat api lebih intens dan sulit dipadamkan karena reaksi kimia internal tetap aktif meski aliran udara luar ditutup.
  • Pemadaman mobil listrik memerlukan hingga puluhan ribu liter air dan pengawasan lama untuk mencegah penyalaan ulang akibat panas tersisa di dalam sel baterai.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Populasi kendaraan listrik yang terus meningkat di jalan raya sering kali memicu kekhawatiran publik mengenai risiko keamanannya. Banyak anggapan keliru yang menilai bahwa teknologi baterai modern membuat kendaraan masa depan ini lebih rentan meledak dan terbakar dibandingkan pendahulunya.

Fakta di lapangan justru menunjukkan kondisi yang berkebalikan dari persepsi masyarakat tersebut. Berbagai data ilmiah membuktikan angka insiden kebakaran pada armada berbasis baterai jauh lebih rendah, meski proses penanganannya menyajikan tantangan baru yang sangat kompleks bagi para petugas penyelamat.

1. Statistik mobil listrik yang terbakar tidak sebanyak mobil bensin

ilustrasi mobil terbakar (pixabay.com/Oskars Zvejs)
ilustrasi mobil terbakar (pixabay.com/Oskars Zvejs)

Data dari lembaga riset keselamatan dan asuransi internasional menunjukkan fenomena menarik terkait tingkat risiko ini. Studi komprehensif yang dirilis oleh AutoinsuranceEZ di Amerika Serikat dengan memanfaatkan data dari National Transportation Safety Board (NTSB) mengungkapkan bahwa mobil listrik hanya mencatat sekitar 25 insiden kebakaran per 100.000 unit kendaraan yang terjual.

Angka ini sangat kontras jika disandingkan dengan mobil bermesin bensin konvensional yang mencatatkan sekitar 1.530 kasus per 100.000 penjualan. Secara akumulatif, porsi kejadian pada lini elektrifikasi global rata-rata hanya berkisar di angka 2% dari keseluruhan total kasus kebakaran transportasi darat dunia. Statistik serupa juga dikonfirmasi oleh otoritas keselamatan Swedia, Myndigheten för samhällsskydd och beredskap (MSB), yang menegaskan bahwa moda transportasi berbasis baterai memiliki kemungkinan terbakar yang jauh lebih kecil dalam operasional harian.

2. Ancaman thermal runaway meningkatkan intensitas api

Ilustrasi mobil terbakar (Pexels/Pixabay)
Ilustrasi mobil terbakar (Pexels/Pixabay)

Walaupun frekuensi kejadiannya tergolong sangat minim, karakteristik kobaran yang dihasilkan oleh sel baterai litium-ion memiliki tingkat keparahan yang berlipat ganda. Isu utama terletak pada fenomena rantai kimia berbahaya yang dikenal dengan istilah thermal runaway. Kondisi ini terjadi saat satu sel mengalami korsleting atau kerusakan mekanis, menghasilkan panas ekstrem yang langsung merembet cepat ke ratusan sel di sekitarnya dalam hitungan detik.

Laporan teknis dari Dansk Brand- og sikringsteknisk Institut (DBI) menjelaskan bahwa reaksi berantai ini menciptakan pasokan oksigen internal secara mandiri di dalam struktur baterai. Dampaknya, api berkobar dengan suhu yang jauh lebih tinggi dan melepaskan gas kimia yang pekat. Karakteristik ini membuat teknik pemadaman konvensional dengan menutup aliran udara luar menjadi tidak efektif karena reaksi kimia di dalam ruang kompartemen tetap aktif berlangsung.

3. Kebutuhan air melimpah dan risiko penyalaan ulang

Ilustrasi mobil terbakar (Pexels/David Henry)
Ilustrasi mobil terbakar (Pexels/David Henry)

Prosedur penjinakan titik api pada unit EV menuntut metode yang sepenuhnya berbeda dari penanganan ruang mesin bahan bakar fosil. Berdasarkan panduan keselamatan yang diterbitkan oleh National Fire Protection Association (NFPA), sebuah mobil konvensional rata-rata membutuhkan sekitar 1.000 hingga 3.000 liter air untuk padam sepenuhnya. Sebaliknya, satu unit kendaraan listrik yang baterainya telah terekspos pusaran thermal runaway dapat menghabiskan hingga 11.000 sampai 30.000 liter air demi mendinginkan suhu inti sel secara total.

Tantangan terbesar yang sering dihadapi oleh regu pemadam di lapangan adalah risiko penyalaan ulang spontan (*re-ignition*). Sel baterai yang tampak sudah padam di permukaan luar sering kali masih menyimpan panas tinggi di bagian dalam struktur proteksinya. Tanpa adanya proses pendinginan yang merata dan konstan selama berjam-jam, sel tersebut dapat kembali memicu percikan api baru, bahkan setelah mobil berhasil dievakuasi ke area penyimpanan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Dwi Agustiar
EditorDwi Agustiar
Follow Us

Related Articles

See More