Ke Mana Perginya Partikel Ban Yang Aus Terkikis?

- Gesekan antara ban dan aspal menghasilkan partikel mikroplastik yang mengendap di jalan, terbawa air hujan ke drainase, lalu mencemari sungai dan laut serta masuk ke rantai makanan.
- Sebagian partikel ban berukuran mikroskopis melayang di udara kawasan padat lalu lintas, meningkatkan kadar PM2.5 dan menimbulkan risiko kesehatan seperti gangguan pernapasan serta penyakit kardiovaskular.
- Inovasi seperti aspal berpori penjebak partikel, ban berbasis bio, dan daur ulang limbah ban dalam campuran aspal dikembangkan untuk mengurangi dampak polusi dari kikisan ban kendaraan.
Setiap roda kendaraan berputar di atas aspal, terjadi sebuah proses erosi mikro yang nyaris tidak terlihat oleh mata telanjang. Gesekan antara permukaan ban dan tekstur jalan yang kasar secara perlahan mengikis lapisan polimer karet, meninggalkan jejak hitam yang semakin menipiskan ketebalan ban seiring bertambahnya jarak tempuh kendaraan.
Fenomena ini sering kali hanya dianggap sebagai biaya perawatan rutin saat harus mengganti ban yang sudah botak tanpa memikirkan nasib partikel yang hilang tersebut. Padahal, jutaan ton material ban yang terkikis setiap tahunnya tidak lenyap begitu saja ke dalam kehampaan, melainkan berpindah tempat dan menjadi bagian dari siklus lingkungan yang kompleks di sekitar jalan raya.
1. Akumulasi partikel mikroplastik pada pori-pori aspal dan drainase

Partikel ban yang terkikis, atau yang sering disebut sebagai Tire and Road Wear Particles (TRWP), sebagian besar akan mengendap di permukaan jalan dan terselip di antara pori-pori aspal. Saat cuaca kering, serpihan mikro ini tampak seperti debu hitam halus yang menumpuk di pinggir jalan, namun segalanya berubah ketika hujan turun. Air hujan akan membilas partikel-partikel ini dari permukaan jalan dan membawanya menuju sistem drainase, saluran air, hingga akhirnya bermuara di sungai dan lautan.
Karena ban modern terbuat dari campuran karet sintetis, karbon hitam, dan berbagai bahan kimia tambahan, partikel ini diklasifikasikan sebagai mikroplastik yang sulit terurai secara alami. Di perairan, serpihan ban ini dapat tertelan oleh organisme air kecil, yang kemudian masuk ke dalam rantai makanan manusia. Akumulasi partikel ban di ekosistem perairan menjadi salah satu penyumbang polusi mikroplastik terbesar yang sering kali luput dari perhatian dibandingkan dengan limbah botol plastik atau kantong belanja.
2. Sebaran polusi udara halus di kawasan padat lalu lintas

Tidak semua partikel ban yang terkikis berakhir di permukaan tanah atau air, sebagian dari serpihan yang lebih kecil dan ringan akan terbang melayang di udara. Proses pengereman yang mendadak atau akselerasi yang cepat dapat memecah material karet menjadi ukuran mikroskopis yang cukup ringan untuk terbawa angin. Di kawasan perkotaan yang padat lalu lintas, partikel udara dari ban ini berkontribusi secara signifikan terhadap peningkatan kadar PM2.5, yaitu partikel udara halus yang dapat terhirup langsung ke dalam sistem pernapasan manusia.
Paparan jangka panjang terhadap debu ban ini dapat memicu berbagai masalah kesehatan, mulai dari iritasi saluran pernapasan hingga risiko penyakit kardiovaskular. Sifat partikelnya yang lengket dan mengandung logam berat membuatnya lebih berbahaya dibandingkan debu tanah biasa. Udara di sekitar jalan tol atau persimpangan lampu merah sering kali memiliki konsentrasi partikel ban yang sangat tinggi, menciptakan risiko kesehatan tersembunyi bagi para pengguna jalan dan masyarakat yang tinggal di sekitar infrastruktur transportasi utama.
3. Inovasi aspal ramah lingkungan sebagai solusi masa depan

Menghadapi tantangan lingkungan dari sisa kikisan ban ini, para ilmuwan dan insinyur mulai mengembangkan teknologi jalan raya yang lebih berkelanjutan. Salah satu solusinya adalah pengembangan aspal berpori khusus yang dirancang untuk menjebak partikel ban agar tidak terbawa air hujan ke sungai, yang kemudian dapat dibersihkan secara berkala menggunakan mesin penyedot khusus. Selain itu, penggunaan ban dengan material berbasis bio yang lebih mudah terurai mulai diuji coba untuk mengurangi dampak jangka panjang dari limbah mikro ini.
Di beberapa negara, konsep ekonomi sirkular diterapkan dengan mencampurkan limbah ban yang sudah didaur ulang ke dalam aspal jalan raya. Teknik ini tidak hanya mengurangi limbah ban di tempat pembuangan akhir, tetapi juga menciptakan permukaan jalan yang lebih elastis dan memiliki daya cengkeram lebih baik, yang secara paradoks justru dapat mengurangi laju pengikisan ban baru. Melalui pemahaman yang lebih dalam mengenai ke mana perginya setiap milimeter karet yang hilang, diharapkan sistem mobilitas masa depan dapat berjalan tanpa meninggalkan jejak polusi yang merusak keseimbangan alam.

















