Kenapa Ada Pengemudi yang Tidak Suka Disalip Kendaraan Lain?

- Sebagian pengemudi menganggap disalip sebagai ancaman terhadap ego atau kemampuan berkendara, sehingga spontan mempercepat kendaraan dan berpotensi bersikap agresif.
- Kehilangan posisi, terutama ketika kendaraan penyalip kemudian melambat, dapat memicu rasa terhambat; penafsiran tindakan pengemudi lain menentukan munculnya emosi.
- Upaya mengejar dan mendahului kembali dapat memicu perpindahan jalur agresif, saling potong, hingga konflik; membiarkan kendaraan lewat lebih aman bagi perjalanan.
Pernah melihat pengemudi yang tiba-tiba mempercepat mobil setelah disalip? Bukannya tetap melaju santai, kendaraan tersebut justru seperti ingin kembali berada di depan.
Respons seperti ini cukup menarik jika dilihat dari sisi psikologi berkendara. Bagi sebagian orang, disalip bukan sekadar peristiwa biasa di jalan, tetapi dapat dianggap sebagai bentuk tantangan atau tindakan yang mengganggu.
1. Disalip bisa dianggap sebagai ancaman ego

ilustrasi setir mobil (pexels.com/Berna) Bagi pengemudi tertentu, posisi kendaraan di jalan dapat berkaitan dengan rasa percaya diri. Ketika kendaraan lain menyalip, muncul perasaan seolah-olah posisi atau kemampuan mengemudinya sedang dikalahkan. Padahal, pengemudi lain mungkin hanya ingin bergerak lebih cepat dan tidak memiliki maksud apa pun.
Perasaan tersebut dapat membuat seseorang secara spontan meningkatkan kecepatan untuk kembali mendahului. Dalam kondisi tertentu, respons seperti ini bisa berkembang menjadi perilaku agresif, terutama ketika pengemudi menganggap tindakan kendaraan lain sebagai bentuk ketidaksopanan. Penelitian mengenai perilaku agresif di jalan juga menemukan hubungan antara sikap terhadap pengemudi lain, pengendalian emosi, dan kecenderungan melakukan tindakan agresif.
2. Keinginan mempertahankan posisi juga berpengaruh

ilustrasi setir mobil (unsplash.com/Noah Gremmert) Ada pula pengemudi yang merasa terganggu karena harus kehilangan posisi setelah disalip. Situasi tersebut bisa menjadi semakin menjengkelkan jika kendaraan yang menyalip kemudian melambat. Pengemudi yang sebelumnya berada di belakang dapat merasa waktunya terbuang atau perjalanannya sengaja dihambat.
Dalam kajian mengenai road rage, terhambatnya perjalanan merupakan salah satu pemicu kemarahan yang umum. Perasaan tersebut bisa menjadi lebih kuat ketika tindakan pengemudi lain dianggap tidak sopan atau disengaja. Cara seseorang menafsirkan kejadian di jalan akhirnya dapat menentukan apakah situasi tersebut dianggap biasa atau justru menjadi pemicu emosi.
3. Mengejar kembali bisa meningkatkan risiko kecelakaan

ilustrasi sopir (pexels.com/UHGO) Masalah muncul ketika keinginan untuk kembali mendahului berubah menjadi aksi saling kejar. Pengemudi mungkin mulai menambah kecepatan, berpindah jalur secara agresif, atau mengikuti kendaraan yang baru saja menyalip. Padahal, tindakan tersebut tidak memberikan keuntungan berarti jika tujuan awal hanya ingin sampai dengan aman.
Penelitian tentang kasus road rage yang dipicu aksi menyalip menunjukkan bahwa konflik dapat berkembang melalui saling mendahului, memotong jalur, hingga perselisihan. Karena itu, membiarkan kendaraan lain lewat sebenarnya merupakan pilihan yang jauh lebih aman. Tidak semua aksi menyalip merupakan bentuk persaingan, sehingga menjaga emosi dan tetap fokus pada kondisi jalan menjadi hal penting.
Pada akhirnya, rasa tidak suka ketika disalip dapat dipengaruhi oleh ego, persepsi terhadap tindakan pengemudi lain, hingga kemampuan mengendalikan emosi. Selama tidak ada pelanggaran yang membahayakan, aksi menyalip sebaiknya dianggap sebagai bagian normal dari dinamika lalu lintas.


















