ilustrasi sopir (pexels.com/UHGO)
Masalah muncul ketika keinginan untuk kembali mendahului berubah menjadi aksi saling kejar. Pengemudi mungkin mulai menambah kecepatan, berpindah jalur secara agresif, atau mengikuti kendaraan yang baru saja menyalip. Padahal, tindakan tersebut tidak memberikan keuntungan berarti jika tujuan awal hanya ingin sampai dengan aman.
Penelitian tentang kasus road rage yang dipicu aksi menyalip menunjukkan bahwa konflik dapat berkembang melalui saling mendahului, memotong jalur, hingga perselisihan. Karena itu, membiarkan kendaraan lain lewat sebenarnya merupakan pilihan yang jauh lebih aman. Tidak semua aksi menyalip merupakan bentuk persaingan, sehingga menjaga emosi dan tetap fokus pada kondisi jalan menjadi hal penting.
Pada akhirnya, rasa tidak suka ketika disalip dapat dipengaruhi oleh ego, persepsi terhadap tindakan pengemudi lain, hingga kemampuan mengendalikan emosi. Selama tidak ada pelanggaran yang membahayakan, aksi menyalip sebaiknya dianggap sebagai bagian normal dari dinamika lalu lintas.