ilustrasi mobil (pexels.com/Marco Antonio)
Perbedaan utama antara mobil LCGC dan mobil biasa terletak pada tujuan perancangannya. Mobil LCGC dikembangkan dengan fokus utama pada efisiensi bahan bakar dan biaya operasional yang rendah. Oleh karena itu, mobil jenis ini umumnya menggunakan mesin berkapasitas 980–1.200 cc dan harus memenuhi standar konsumsi BBM minimal sekitar 20 km per liter sesuai ketentuan program LCGC.
Sementara itu, mobil non-LCGC tidak memiliki persyaratan khusus terkait efisiensi bahan bakar. Banyak mobil biasa menggunakan mesin berkapasitas lebih besar, mulai dari sekitar 1.200 cc hingga di atas 2.000 cc, sehingga konsumsi bahan bakarnya cenderung lebih tinggi. Selain itu, produsen mobil biasanya lebih mengutamakan aspek seperti performa, kenyamanan berkendara, ruang kabin yang lebih lega, serta fitur-fitur yang lebih lengkap.
Kesimpulannya, mobil LCGC dibuat lebih hemat BBM karena memang menjadi bagian dari konsep dasar program Low Cost Green Car. Pemerintah menetapkan standar efisiensi bahan bakar yang harus dipenuhi agar kendaraan memperoleh berbagai insentif sekaligus mendukung pengurangan konsumsi BBM dan emisi gas buang.
Untuk mencapai target tersebut, produsen menggunakan mesin berkapasitas kecil, bobot kendaraan yang lebih ringan, desain yang lebih aerodinamis, hingga teknologi pengelolaan mesin yang efisien. Hasilnya, mobil LCGC tidak hanya lebih ramah lingkungan, tetapi juga membantu pemilik menghemat biaya bahan bakar dalam penggunaan sehari-hari.