Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Kenapa Orang Bisa Jadi Agresif Saat Menyetir?

ilustrasi sopir (pexels.com/Oleksandr Pidvalnyi)
ilustrasi sopir (pexels.com/Oleksandr Pidvalnyi)

Jalan raya sering kali menjadi panggung bagi transformasi kepribadian yang mengejutkan. Seseorang yang dikenal santun, penyabar, dan ramah dalam kehidupan sehari-hari tiba-tiba bisa berubah menjadi sosok yang penuh amarah, berteriak kasar, hingga melakukan tindakan berbahaya hanya karena dipotong jalannya oleh pengendara lain.

Fenomena ini dikenal sebagai road rage, sebuah ledakan emosi agresif yang dipicu oleh stres selama berkendara. Memahami alasan psikologis di balik perubahan karakter ini sangat penting untuk menyadari bahwa perilaku agresif di jalan bukan sekadar masalah temperamen, melainkan hasil dari interaksi kompleks antara otak, lingkungan, dan persepsi manusia.

1. Anonimitas dan hilangnya hambatan sosial dalam kabin

ilustrasi sopir (pexels.com/UHGO)
ilustrasi sopir (pexels.com/UHGO)

Salah satu faktor psikologis terkuat yang memicu road rage adalah perasaan anonimitas saat berada di dalam kendaraan. Kabin mobil menciptakan sekat fisik yang membuat pengemudi merasa terisolasi dari dunia luar, seolah-olah berada dalam sebuah "gelembung" pelindung. Dalam kondisi ini, pengendara cenderung tidak melihat orang lain sebagai sesama manusia, melainkan hanya sebagai objek berupa mesin atau logam yang menghalangi jalan.

Tanpa adanya kontak mata langsung atau interaksi sosial yang personal, hambatan moral yang biasanya mencegah seseorang berperilaku kasar menjadi luntur. Di kehidupan nyata, sangat jarang ada orang yang berani memaki orang asing secara langsung di sebuah antrean toko. Namun, di jalan raya, perlindungan berupa kaca film dan jarak fisik membuat pengemudi merasa aman untuk melepaskan rasa frustrasi tanpa perlu menghadapi konsekuensi sosial instan. Hal ini diperparah dengan anggapan bahwa mereka tidak akan pernah bertemu lagi dengan pengendara tersebut, sehingga rasa malu pun menghilang.

2. Dehumanisasi dan bias kognitif terhadap kesalahan orang lain

Ilustrasi sopir mengantuk (pexels.com/Adrien Olichon)
Ilustrasi sopir mengantuk (pexels.com/Adrien Olichon)

Psikologi berkendara sering kali melibatkan bias kognitif yang disebut sebagai kesalahan atribusi fundamental. Ketika seorang pengemudi melakukan kesalahan, ia cenderung mencari alasan eksternal seperti sedang terburu-buru atau tidak sengaja. Sebaliknya, ketika melihat orang lain melakukan kesalahan kecil, otak sering kali langsung melabeli orang tersebut sebagai "pengemudi bodoh" atau "egois". Proses dehumanisasi ini membuat amarah lebih mudah tersulut karena kesalahan orang lain dianggap sebagai serangan pribadi yang disengaja.

Kondisi stres yang sudah menumpuk dari rumah atau tempat kerja membuat ambang batas kesabaran menjadi sangat rendah. Saat seseorang terjebak macet atau terpapar cuaca panas, otak berada dalam mode "lawan atau lari" (fight or flight). Dalam keadaan ini, bagian otak emosional (amigdala) mengambil alih kendali dari bagian otak logis. Akibatnya, tindakan sepele seperti lampu hijau yang terlambat sepersekian detik bisa direspon dengan klakson yang panjang dan amarah yang meledak-ledak.

3. Kendaraan sebagai perluasan ruang pribadi dan identitas

Ilustrasi sopir (Pexels/RDNE Stock project)
Ilustrasi sopir (Pexels/RDNE Stock project)

Bagi banyak orang, kendaraan bukan sekadar alat transportasi, melainkan perluasan dari ruang pribadi dan identitas diri. Secara psikologis, ketika ada kendaraan lain yang memotong jalur atau menyerempet, pengemudi merasakannya sebagai pelanggaran terhadap ruang privasi atau wilayah kekuasaan mereka. Reaksi yang muncul sering kali merupakan insting primitif untuk mempertahankan "wilayah" tersebut dari ancaman luar.

Perasaan memiliki kendali penuh di dalam kabin juga berkontribusi pada fenomena ini. Di jalan raya, banyak hal terjadi di luar kendali pengemudi, seperti kemacetan atau perilaku buruk orang lain. Ketidakmampuan untuk mengendalikan situasi lingkungan ini menciptakan frustrasi yang mendalam. Akibatnya, meluapkan amarah melalui kata-kata kasar atau mengemudi secara provokatif menjadi cara yang keliru bagi otak untuk mencoba merebut kembali rasa kendali yang hilang tersebut. Menyadari bahwa jalan raya adalah ruang publik bersama merupakan langkah awal untuk meredam ego dan menjaga kesehatan mental selama perjalanan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Dwi Agustiar
EditorDwi Agustiar
Follow Us

Latest in Automotive

See More

[QUIZ] Pilih Mobil Sport Ini, Kami Tebak Member TWICE yang Menemanimu Night Ride

09 Jan 2026, 21:10 WIBAutomotive