Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Benarkah Nyetir Sendirian Malam Bisa Menurunkan Stres?

ilustrasi menyetir mobil di jalan menanjak (pexels.com/Erik Mclean)
ilustrasi menyetir mobil di jalan menanjak (pexels.com/Erik Mclean)

Bagi sebagian orang, jalan raya di malam hari bukan sekadar jalur transportasi, melainkan sebuah ruang pelarian dari kebisingan dunia. Saat hiruk pikuk kota mulai mereda dan lampu-lampu jalan mulai berpijar, ada ketenangan aneh yang menyelimuti kabin kendaraan, menciptakan suasana yang jauh berbeda dibandingkan kemacetan di siang hari.

Fenomena berkendara tanpa tujuan atau night drive kini semakin populer di kalangan anak muda sebagai salah satu metode untuk melepas penat. Namun, muncul pertanyaan menarik dari sisi psikologis: apakah aktivitas membelah kesunyian malam ini benar-benar efektif untuk menurunkan tingkat stres atau justru hanya sekadar pengalihan sesaat?

1. Kebebasan kendali dan privasi dalam ruang kabin

ilustrasi panas saat menyetir (pexels.com/Bruchin Noeka)
ilustrasi panas saat menyetir (pexels.com/Bruchin Noeka)

Salah satu alasan psikologis terkuat mengapa berkendara malam hari terasa sangat menenangkan adalah adanya rasa kendali penuh yang sulit didapatkan di dunia nyata. Di siang hari, hidup sering kali didikte oleh jadwal kantor, tugas kuliah, dan interaksi sosial yang melelahkan. Namun, di dalam mobil sendirian pada malam hari, pengemudi menjadi pemegang otoritas tunggal atas kecepatan, arah tujuan, hingga jenis musik yang ingin didengarkan tanpa interupsi dari siapa pun.

Kabin kendaraan berfungsi sebagai "zona aman" atau benteng privasi yang memisahkan individu dari tuntutan eksternal. Dalam kesendirian tersebut, seseorang memiliki ruang untuk memproses emosi yang terpendam atau sekadar menikmati keheningan tanpa perlu berpura-pura di depan orang lain. Perasaan memegang kendali atas mesin yang bergerak melintasi jalanan yang lengang memberikan kepuasan kognitif yang mampu meredam kecemasan akibat ketidakpastian hidup di dunia digital yang serba cepat.

2. Stimulasi sensorik minimal dan fokus yang meditatif

ilustrasi orang menyetir (pexels.com/Tobi)
ilustrasi orang menyetir (pexels.com/Tobi)

Berbeda dengan siang hari yang penuh dengan distraksi visual dan suara klakson yang agresif, malam hari menawarkan stimulasi sensorik yang jauh lebih tenang. Pemandangan lampu kota yang berpendar secara repetitif dan suara mesin yang stabil menciptakan efek serupa dengan white noise. Kondisi ini membantu otak untuk masuk ke dalam keadaan yang mirip dengan meditasi bergerak, di mana fokus perhatian terpusat pada aspal di depan mata dan koordinasi tangan pada kemudi.

Gerakan kendaraan yang konsisten dan pemandangan yang lewat dengan ritme tertentu dapat membantu menurunkan aktivitas amigdala, bagian otak yang bertanggung jawab atas respon stres. Bagi banyak orang, momen ini menjadi waktu terbaik untuk melakukan deep talk dengan diri sendiri atau sekadar menjernihkan pikiran dari tumpukan masalah yang buntu. Fokus yang sederhana pada aktivitas mengemudi memberikan jeda bagi otak untuk beristirahat dari overthinking yang biasanya memuncak sebelum waktu tidur.

3. Efek katarsis dari musik dan suasana perjalanan

ilustrasi mengatur audio mobil (Unsplash.com/Courtney Corlew)
ilustrasi mengatur audio mobil (Unsplash.com/Courtney Corlew)

Berkendara sendirian di malam hari sering kali tidak lengkap tanpa kehadiran musik yang sesuai dengan suasana hati. Musik memiliki kekuatan besar dalam mengubah kimiawi otak; mendengarkan lagu favorit sambil membelah keheningan malam dapat memicu pelepasan dopamin yang memberikan rasa bahagia. Ini adalah bentuk katarsis atau pelepasan emosional yang sangat valid, di mana seseorang bisa bernyanyi sekeras mungkin atau merenung dalam diam tanpa takut dinilai oleh orang lain.

Suasana malam yang sunyi juga memberikan perspektif baru terhadap lingkungan sekitar yang biasanya terlihat kacau saat siang hari. Melihat kota dari sudut pandang yang lebih damai membantu menurunkan kadar kortisol atau hormon stres dalam tubuh. Meskipun demikian, penting untuk memastikan bahwa kondisi fisik tetap prima agar aktivitas healing ini tidak berubah menjadi bahaya akibat kelelahan. Jika dilakukan dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab, berkendara malam hari memang bisa menjadi salah satu alat manajemen stres yang ampuh untuk memulihkan kesehatan mental sebelum menghadapi hari esok.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Dwi Agustiar
EditorDwi Agustiar
Follow Us

Latest in Automotive

See More

Begini Simulasi Kredit Motor dengan Gaji Lima Juta Rupiah

10 Jan 2026, 07:05 WIBAutomotive