Langkah ini sejalan dengan kebijakan pemerintah untuk membangun industri kendaraan listrik berbasis baterai (KBLBB) dari hulu hingga hilir. Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita, dikutip dari situs resmi Kementerian Perdagangan, menyatakan Indonesia memiliki modal dasar untuk menjadi salah satu pemain utama industri kendaraan listrik dunia, didukung kekayaan sumber daya alam, pasar domestik yang besar, serta komitmen pemerintah dalam mengembangkan ekosistem kendaraan listrik.
Pabrik VinFast Dorong Indonesia Jadi Pemain Utama Industri EV

Pabrik VinFast di Subang mulai beroperasi bertahap pada Desember 2025, berkapasitas awal 50.000 unit per tahun dan ditargetkan mencapai 350.000 unit sebagai hub ekspor setir kanan.
Investasi tahap pertama US$300 juta, dari total komitmen lebih US$1 miliar, mendukung ekosistem EV nasional dari hulu hingga hilir serta rantai pasok otomotif regional.
VinFast menargetkan TKDN di atas 40% pada 2026 hingga 80% mulai 2030, dengan Supplier Park dan potensi penyerapan 5.000–15.000 tenaga kerja langsung.
Indonesia berpeluang memperkuat posisinya dalam industri kendaraan listrik (electric vehicle/EV) global melalui pengembangan fasilitas manufaktur dan rantai pasok lokal. Salah satu langkah yang mendukung upaya tersebut adalah beroperasinya pabrik kendaraan listrik VinFast di Subang, Jawa Barat, yang disiapkan sebagai basis produksi sekaligus hub ekspor kendaraan setir kanan di kawasan regional.
1. Pabrik VinFast di Subang memiliki kapasitas produksi 50.000 unit per tahun

Pabrik VinFast di Subang (dok. Istimewa) Pabrik VinFast di Subang berdiri di atas lahan seluas 171 hektare. Fasilitas ini mulai beroperasi secara bertahap pada pertengahan Desember 2025, dengan investasi awal tahap pertama sebesar US$ 300 juta dari total komitmen investasi yang direncanakan melebihi US$ 1 miliar.
Fasilitas tersebut merupakan pabrik kendaraan listrik global keempat VinFast sekaligus yang pertama di Asia Tenggara di luar Vietnam.
Pada tahap awal, pabrik memiliki kapasitas produksi 50.000 unit per tahun untuk sejumlah model kendaraan, termasuk city car VF 3 dan VF 5, SUV VF 6 dan VF 7, serta kendaraan komersial Limo Green dan MPV VF 7. Kapasitas produksi ini direncanakan meningkat hingga 350.000 unit per tahun seiring pengembangan fasilitas.
Pengembangan tersebut diharapkan memperkuat peran Indonesia dalam rantai pasok otomotif regional, sekaligus membuka peluang ekspor kendaraan listrik ke pasar negara lain yang menggunakan setir kanan.
2. VinFast menargetkan penggunaan komponen dalam negeri

Pabrik VinFast. (IDN Times/Aryodamar) Selain kapasitas produksi, penguatan industri komponen lokal menjadi bagian penting dari pengembangan pabrik VinFast di Indonesia. Investasi manufaktur diharapkan tidak hanya menambah fasilitas produksi, tetapi juga mendorong transfer teknologi, meningkatkan kemampuan industri kecil dan menengah (IKM), serta memperkuat kompetensi tenaga kerja di bidang manufaktur dan rekayasa otomotif.
Untuk mendukung tujuan tersebut, VinFast menargetkan penggunaan komponen dalam negeri atau tingkat komponen dalam negeri (TKDN) lebih dari 40% pada 2026. Target tersebut akan ditingkatkan menjadi 60% pada 2029 dan 80% mulai 2030.
VinFast juga menyiapkan kawasan khusus pemasok atau Supplier Park di area manufaktur Subang. Kawasan ini dirancang untuk mengintegrasikan pemasok komponen otomotif lokal, termasuk IKM, ke dalam rantai pasok perusahaan.
Fasilitas produksi yang mencakup proses pengelasan bodi, pengecatan, perakitan akhir, hingga pengendalian kualitas diharapkan membuka peluang bagi pemasok domestik untuk meningkatkan kemampuan produksi dan memenuhi standar industri otomotif global.
3. Pengembangan pabrik VinFast di Subang juga diproyeksikan memberikan dampak ekonomi bagi daerah
Peningkatan penggunaan komponen lokal juga berpotensi mengurangi ketergantungan terhadap pasokan impor dan mengefisienkan biaya logistik. Bagi konsumen, rantai pasok yang lebih kuat di dalam negeri dapat mendukung ketersediaan suku cadang serta mempermudah proses perawatan dan perbaikan kendaraan.
Pengembangan pabrik VinFast di Subang juga diproyeksikan memberikan dampak ekonomi bagi daerah. Saat beroperasi pada kapasitas penuh, fasilitas ini diperkirakan menyerap 5.000 hingga 15.000 tenaga kerja langsung. Selain itu, ribuan peluang kerja tidak langsung berpotensi tercipta melalui sektor logistik, jasa, dan industri komponen pendukung.
Dengan pengembangan kapasitas produksi, peningkatan penggunaan komponen lokal, serta integrasi pemasok domestik, fasilitas Subang diharapkan berkontribusi terhadap pertumbuhan industri otomotif nasional dan perekonomian Jawa Barat.
Pengembangan manufaktur kendaraan listrik ini menjadi bagian dari upaya memperkuat posisi Indonesia dalam industri otomotif global. Melalui investasi jangka panjang, target TKDN hingga 80%, dan pelibatan pemasok lokal, Indonesia berpeluang meningkatkan nilai tambah industri kendaraan listrik sekaligus memperluas perannya dalam rantai pasok regional dan global. (WEB/TAMA)























