Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Revolusi Baterai Litium Tembus 700 Wh/kg: Lebih Efisien di Suhu Dingin

Revolusi Baterai Litium Tembus 700 Wh/kg: Lebih Efisien di Suhu Dingin
Ilustrasi baterai mobil listrik (byd.com)
Intinya Sih
  • Tim peneliti Tiongkok berhasil menciptakan sistem elektrolit baru berbasis pelarut hidrokarbon berfluorinasi yang memungkinkan baterai litium mencapai kepadatan energi hingga 700 Wh/kg.
  • Teknologi ini tetap stabil di suhu ekstrem, mempertahankan sekitar 400 Wh/kg pada -50°C, menjadikannya solusi efisien untuk kendaraan listrik di wilayah bersuhu rendah.
  • Dengan peningkatan signifikan dari 300 ke 700 Wh/kg, inovasi ini membuka peluang besar bagi kendaraan listrik, robotika, dan aplikasi luar angkasa masa depan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Dunia teknologi baterai baru saja mencatatkan sejarah besar melalui penemuan sistem elektrolit baru yang mampu mendobrak batasan kepadatan energi. Berdasarkan laporan dari carnewschina.com, tim peneliti asal Tiongkok berhasil merancang pelarut hidrokarbon berfluorinasi yang memungkinkan baterai litium mencapai kepadatan energi fantastis hingga 700 watt-jam per kilogram (Wh/kg).

Terobosan ini merupakan hasil kolaborasi antara Universitas Nankai dan Institut Sumber Daya Listrik Luar Angkasa Shanghai yang telah dipublikasikan di jurnal internasional bergengsi, Nature. Penemuan ini digadang-gadang akan menjadi kunci utama dalam memecahkan masalah efisiensi baterai pada suhu dingin yang selama ini menjadi kelemahan utama kendaraan listrik di wilayah ekstrem.

1. Inovasi molekul untuk efisiensi maksimal

ilustrasi mengisi baterai mobil listrik (unsplash.com/chuttersnap)
ilustrasi mengisi baterai mobil listrik (unsplash.com/chuttersnap)

Masalah utama pada baterai litium komersial saat ini terletak pada elektrolitnya yang menggunakan pelarut karbonat ester. Pelarut tradisional ini memiliki daya basah (wettability) yang buruk sehingga membutuhkan jumlah yang banyak, yang pada akhirnya membatasi peningkatan kepadatan energi baterai. Selain itu, interaksi kuat pada sistem lama menghambat transfer muatan pada antarmuka, sehingga baterai sulit berfungsi di bawah suhu -50°C.

Untuk mengatasi hambatan tersebut, tim peneliti mengembangkan sistem koordinasi litium-fluorin baru untuk menggantikan model koordinasi litium-oksigen yang konvensional. Pelarut hidrokarbon berfluorinasi yang baru ini menawarkan efisiensi pemanfaatan yang jauh lebih tinggi, sehingga jumlah elektrolit yang diperlukan dapat dikurangi secara signifikan namun tetap mampu menghantarkan daya dengan cepat.

2. Performa luar biasa di lingkungan sangat dingin

ilustrasi hujan salju (pexels.com/Marina Solis)
ilustrasi hujan salju (pexels.com/Marina Solis)

Salah satu keunggulan paling menonjol dari teknologi ini adalah ketahanannya terhadap cuaca ekstrem. Jika baterai biasa kehilangan fungsi secara drastis saat suhu membeku, sistem elektrolit baru ini justru tetap stabil. Meskipun pada suhu ruangan baterai ini mencapai 700 Wh/kg, ia tetap mampu mempertahankan kepadatan energi yang tinggi hingga hampir 400 Wh/kg bahkan dalam lingkungan sedingin -50°C.

Mengenai mekanisme teknisnya, Profesor Zhao Qing memberikan penjelasan langsung mengenai kunci dari penemuan ini. Zhao Qing menjelaskan bahwa, “Kunci untuk mencapai pelarutan garam litium melalui koordinasi fluorin terletak pada pengaturan kerapatan elektron atom fluorin dan hambatan spasial molekul pelarut.

Dengan pengaturan ini, baterai tidak hanya menjadi lebih bertenaga secara kapasitas, tetapi juga memiliki toleransi suhu rendah yang luar biasa.

3. Potensi besar mulai dari robot hingga luar angkasa

penggerak BYD Sealion 7 (byd.com)
penggerak BYD Sealion 7 (byd.com)

Loncatan teknologi dari 300 Wh/kg (rata-rata baterai saat ini) ke 700 Wh/kg akan mengubah lanskap berbagai industri secara radikal. Kapasitas energi yang lebih besar berarti kendaraan listrik dapat menempuh jarak yang jauh lebih jauh dengan bobot baterai yang lebih ringan, atau memungkinkan perangkat elektronik bekerja jauh lebih lama tanpa pengisian daya berulang.

Akademisi Chen Jun menekankan pentingnya aplikasi teknologi ini di masa depan dalam pernyataan langsungnya. Beliau mengatakan, “Baterai berenergi tinggi berdasarkan elektrolit ini memiliki potensi aplikasi yang luas pada kendaraan energi baru, robot cerdas, ekonomi dataran rendah, serta di wilayah yang sangat dingin dan aplikasi kedirgantaraan.”

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Dwi Agustiar
EditorDwi Agustiar
Follow Us

Latest in Automotive

See More