Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Biasa Pakai Pertamax Turbo Beralih ke Pertamax, Merusak Mesin Motor?

Biasa Pakai Pertamax Turbo Beralih ke Pertamax, Merusak Mesin Motor?
Ilustrasi mengisi bensin (pexels.com/cottonbro studio)
Intinya Sih
  • Kenaikan harga Pertamax Turbo hingga Rp19.400 per liter membuat banyak pengguna motor berperforma tinggi mempertimbangkan beralih ke Pertamax yang lebih murah.
  • Penggunaan Pertamax pada mesin kompresi tinggi berisiko menimbulkan detonasi atau gejala ngelitik yang dapat merusak piston dan komponen penting bila dibiarkan terus-menerus.
  • Penurunan oktan menyebabkan ECU menyesuaikan pengapian sehingga performa turun, konsumsi bahan bakar meningkat, serta potensi penumpukan karbon di ruang bakar makin besar.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Kenaikan harga Pertamax Turbo yang kini menyentuh angka Rp19.400 per liter 18 April 2026 membuat banyak pemilik motor berperforma tinggi merasa cemas. Banyak dari mereka mulai mempertimbangkan untuk beralih dari Pertamax Turbo (RON 98) ke Pertamax (RON 92) yang harganya jauh lebih terjangkau, yakni Rp12.300 per liter.

Perubahan jenis bahan bakar ini menimbulkan kekhawatiran besar mengenai kesehatan jangka panjang komponen mekanis di dalam ruang bakar. Pertanyaan mengenai apakah penurunan oktan ini akan merusak mesin atau sekadar menurunkan performa menjadi topik yang krusial untuk dipahami sebelum memutuskan berpindah haluan di SPBU.

1. Risiko detonasi dan gejala ngelitik pada mesin kompresi tinggi

ilustrasi mesin motor mati (freepik.com/bublikhaus)
ilustrasi mesin motor mati (freepik.com/bublikhaus)

Sepeda motor yang diwajibkan menggunakan Pertamax Turbo umumnya memiliki rasio kompresi mesin yang tinggi, biasanya di atas 12:1. Bahan bakar dengan oktan rendah seperti Pertamax memiliki titik nyala yang lebih cepat sehingga lebih mudah terbakar sebelum busi memercikkan api saat piston mencapai titik mati atas. Fenomena ini dikenal sebagai pre-ignition atau detonasi yang menghasilkan suara ketukan logam yang khas, atau lebih populer disebut sebagai gejala "ngelitik".

Jika gejala ngelitik ini dibiarkan terjadi secara terus-menerus dalam jangka waktu lama, kerusakan serius pada komponen mesin tidak dapat dihindari. Ledakan prematur di ruang bakar memberikan tekanan berlebih pada piston, stang seher, dan bantalan kruk as. Dalam skenario terburuk, piston bisa mengalami lubang atau pecah akibat panas ekstrem dan hantaman gelombang kejut pembakaran yang tidak sinkron, sehingga biaya perbaikan mesin akan jauh lebih mahal dibandingkan selisih harga bensin yang dihemat.

2. Penurunan performa dan efisiensi akibat penyesuaian ECU

ilustrasi mesin motor (pexels.com/Andrea Piacquadio)
ilustrasi mesin motor (pexels.com/Andrea Piacquadio)

Mesin motor modern yang sudah mengadopsi sistem injeksi canggih biasanya dilengkapi dengan sensor ketukan (knock sensor). Saat mendeteksi adanya penggunaan bahan bakar dengan oktan yang lebih rendah dari spesifikasi, otak elektronik atau ECU akan secara otomatis memundurkan waktu pengapian untuk meminimalisir kerusakan. Langkah penyelamatan otomatis ini memang mencegah mesin hancur seketika, namun ada harga yang harus dibayar berupa penurunan performa kendaraan secara drastis.

Tenaga mesin akan terasa "ngempos" atau tidak responsif saat tuas gas ditarik, terutama pada putaran mesin tinggi. Selain itu, penggunaan oktan yang tidak sesuai justru sering kali membuat konsumsi bahan bakar menjadi lebih boros karena mesin membutuhkan lebih banyak debit bensin untuk mencapai tenaga yang diinginkan. Alhasil, niat awal untuk berhemat dengan membeli Pertamax yang lebih murah bisa saja menjadi sia-sia karena frekuensi pengisian bahan bakar yang menjadi lebih sering.

3. Penumpukan deposit karbon dan kebersihan ruang bakar

Ilustrasi memanaskan mesin motor (pexels.com/Pragyan Bezbaruah)
Ilustrasi memanaskan mesin motor (pexels.com/Pragyan Bezbaruah)

Penggunaan bahan bakar dengan nilai oktan yang lebih rendah dari kebutuhan mesin juga berdampak pada kebersihan sistem pembakaran. Pertamax Turbo mengandung zat aditif pembersih yang jauh lebih kuat dibandingkan Pertamax biasa untuk menjaga injektor dan katup tetap bersih. Ketika terjadi penurunan kualitas bensin, sisa hasil pembakaran yang tidak sempurna cenderung meninggalkan kerak karbon yang lebih tebal pada kepala silinder dan permukaan katup.

Penumpukan deposit karbon ini dalam jangka panjang dapat meningkatkan rasio kompresi secara semu dan menciptakan "titik panas" (hot spots) di ruang bakar yang semakin memperparah gejala detonasi. Bagi pengguna yang terpaksa turun oktan karena alasan ekonomi, melakukan servis rutin lebih awal dan membersihkan ruang bakar dengan cairan pembersih khusus menjadi langkah wajib. Hal ini dilakukan guna mencegah penumpukan kerak yang dapat menurunkan efisiensi mesin secara permanen dan menjaga motor tetap layak jalan meski tidak menggunakan bahan bakar terbaiknya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Dwi Agustiar
EditorDwi Agustiar
Follow Us

Latest in Automotive

See More