ilustrasi belanja kebutuhan sehari-hari, belanja buah, supermarket (pexels.com/cottonbro studio)
Pada akhirnya, persoalan terbesar terletak pada cara melihat kondisi ekonomi masyarakat. Inflasi memang penting karena menunjukkan perubahan harga dari waktu ke waktu, tapi angka tersebut gak menjawab apakah keluarga masih memiliki cukup uang setelah membayar seluruh kebutuhan wajib. Ada perbedaan besar antara mengetahui harga semakin lambat naik dan mengetahui apakah seseorang masih mampu membeli barang tersebut.
Karena itu, kemampuan membayar atau ability to pay menjadi ukuran yang gak kalah penting. Pendekatan ini melihat berapa banyak pendapatan yang tersisa setelah seseorang membayar kebutuhan seperti tempat tinggal, energi, transportasi, kesehatan, dan makanan. Dua wilayah bisa memiliki harga makanan yang sama, tapi masyarakatnya dapat mengalami tingkat tekanan finansial berbeda jika pendapatan mereka gak sama.
Masalah tersebut juga menjelaskan kenapa angka ekonomi terkadang terasa berbeda dengan pengalaman sehari-hari. Ketika kamu melihat inflasi turun tapi uang tetap terasa cepat habis, bukan berarti angka inflasinya salah. Angka tersebut memang mengukur perubahan harga, sementara pengalaman finansial rumah tangga dipengaruhi oleh kombinasi antara harga, pendapatan, dan berbagai pengeluaran wajib.
Kondisi warga Amerika yang masih merasa miskin meski inflasi turun menunjukkan bahwa kesehatan ekonomi rumah tangga gak bisa dinilai dari satu angka saja. Harga kebutuhan yang sudah terlanjur tinggi, pertumbuhan pendapatan yang gak selalu seimbang, serta mahalnya tempat tinggal dan kebutuhan pokok membuat banyak keluarga tetap merasakan tekanan finansial.
Karena itu, persoalan yang dihadapi masyarakat sekarang lebih berkaitan dengan keterjangkauan hidup daripada sekadar seberapa cepat harga naik. Selama pendapatan belum mampu mengejar seluruh biaya kebutuhan, turunnya inflasi belum tentu membuat kehidupan sehari-hari terasa lebih ringan.