Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Alasan Warga Amerika Masih Merasa Miskin meski Inflasi Turun
ilustrasi belanja kebutuhan sehari-hari, supermarket, bendera Amerika Serikat (pexels.com/Mike Jones)
  • Turunnya inflasi tidak mengembalikan harga ke level sebelumnya; kebutuhan makanan di Amerika disebut lebih dari 50 persen lebih mahal dibandingkan 2020.
  • Pendapatan banyak rumah tangga belum mengejar biaya hidup, sementara sewa, energi, transportasi, kesehatan, dan pangan menggerus sisa uang setelah tagihan wajib dibayar.
  • Tekanan biaya hidup mengubah pola belanja dan meningkatkan ketergantungan bantuan pangan; inflasi hanya mengukur kenaikan harga, bukan kemampuan keluarga memenuhi kebutuhan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Turunnya inflasi sering dianggap sebagai kabar baik bagi kondisi keuangan rumah tangga. Secara teori, harga barang memang gak lagi naik secepat sebelumnya sehingga tekanan terhadap konsumen seharusnya ikut berkurang. Namun, jutaan warga Amerika masih merasa uang mereka cepat habis meski laju inflasi sudah lebih terkendali.

Kondisi ini menunjukkan bahwa inflasi ternyata hanya menggambarkan sebagian dari masalah yang dihadapi rumah tangga. Bagi banyak keluarga, persoalannya sekarang bukan sekadar seberapa mahal harga barang, tapi apakah pendapatan mereka masih cukup untuk membayar seluruh kebutuhan.

Lantas, kenapa warga Amerika masih merasa miskin meski inflasi turun?

1. Harga kebutuhan masih jauh lebih tinggi

ilustrasi belanja kebutuhan sehari-hari, supermarket (pexels.com/Helena Lopes)

Inflasi yang turun gak otomatis membuat harga barang kembali seperti beberapa tahun lalu. Penurunan inflasi berarti harga masih bisa naik, hanya saja kecepatannya lebih lambat dibandingkan sebelumnya. Kondisi ini terasa jelas ketika kamu membandingkan harga kebutuhan sehari-hari dengan harga pada 2020.

Salah satu contohnya terlihat dari kebutuhan makanan. Biaya untuk membeli berbagai kebutuhan makanan yang umum dibeli rumah tangga Amerika saat ini disebut sudah lebih dari 50 persen lebih mahal dibandingkan 2020. Jadi, meskipun inflasi makanan mulai lebih terkendali, konsumen tetap harus mengeluarkan uang lebih banyak untuk membeli kebutuhan yang sama. Bagi keluarga dengan anggaran terbatas, selisih tersebut bisa terasa besar setiap kali berbelanja.

Situasi tersebut menjelaskan kenapa penurunan inflasi belum tentu langsung terasa di dompet. Kamu mungkin melihat angka inflasi lebih rendah dibandingkan beberapa tahun sebelumnya, tapi harga yang harus dibayar di kasir sudah terlanjur berada di level yang lebih tinggi. Akibatnya, pengeluaran bulanan tetap terasa berat meskipun laju kenaikan harga mulai melambat.

2. Penghasilan gak selalu mampu mengejar biaya hidup

ilustrasi stres finansial, dompet kosong, bokek, utang, tagihan (vecteezy.com/dao_kp20226443)

Masalah lain muncul ketika pendapatan rumah tangga gak bertambah secepat biaya kebutuhan sehari-hari. Inflasi memang mengukur seberapa cepat harga barang dan jasa berubah, tapi angka tersebut gak menunjukkan apakah gaji seseorang cukup untuk membayarnya. Karena itu, kondisi keuangan keluarga juga sangat dipengaruhi oleh kemampuan mereka membayar kebutuhan setelah menerima penghasilan.

Bayangkan kamu sudah membayar sewa rumah, listrik, asuransi, transportasi, dan kebutuhan kesehatan terlebih dahulu. Setelah semua tagihan tersebut lunas, uang yang tersisa untuk membeli makanan mungkin jauh lebih sedikit daripada yang terlihat dari angka gaji. Kondisi inilah yang membuat harga bahan makanan yang relatif murah sekalipun tetap terasa mahal bagi keluarga dengan ruang keuangan yang terbatas.

North Carolina menjadi salah satu gambaran mengenai persoalan tersebut. Hampir 41 persen rumah tangga di negara bagian itu masuk kelompok ALICE (Asset Limited, Income Constrained, Employed), yaitu masyarakat yang bekerja tapi pendapatannya masih terbatas untuk memenuhi kebutuhan dasar. Pada saat yang sama, biaya rumah dan energi disebut terus memberikan tekanan terhadap penghasilan, sehingga sebagian keluarga harus mengandalkan bantuan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

3. Biaya rumah dan kebutuhan pokok ikut menekan

ilustrasi perumahan di Amerika Serikat (pexels.com/Get Lost Mike)

Persoalan keterjangkauan hidup di Amerika juga tidak berhenti di supermarket. Biaya tempat tinggal dan energi terus memberikan tekanan terhadap anggaran rumah tangga, terutama bagi keluarga berpenghasilan rendah dan pekerja dengan pendapatan terbatas. Ketika sebagian besar penghasilan sudah habis untuk kebutuhan tersebut, sedikit kenaikan harga makanan saja bisa membuat kondisi keuangan semakin berat.

Tekanan tersebut juga terlihat dari penggunaan SNAP (Supplemental Nutrition Assistance Program), program bantuan pemerintah Amerika Serikat yang membantu masyarakat berpenghasilan rendah membeli makanan. Di North Carolina, sekitar satu dari enam penduduk disebut mengandalkan SNAP untuk membantu memenuhi kebutuhan pangan. Angka tersebut menunjukkan bahwa kemampuan membeli makanan gak hanya dipengaruhi oleh harga di toko, tapi juga oleh kondisi ekonomi keluarga.

Situasi seperti ini membuat harga bahan makanan saja gak cukup untuk menggambarkan apakah sebuah keluarga mampu memenuhi kebutuhan pangan. Dua keluarga bisa membeli produk dengan harga yang sama, tapi merasakan tekanan yang sangat berbeda karena pendapatan dan pengeluaran wajib mereka gak sama. Jadi, melihat harga tanpa memperhitungkan kemampuan membayar bisa memberikan gambaran yang kurang lengkap mengenai kondisi ekonomi masyarakat.

4. Cara belanja masyarakat mulai berubah

ilustrasi Walmart, supermarket, grocery store (unsplash.com/KDavid Montero)

Tekanan biaya hidup juga membuat konsumen Amerika mengubah cara mereka berbelanja. Sebagian orang mulai membandingkan harga berdasarkan biaya per porsi atau memilih kemasan berukuran besar agar pengeluaran dalam jangka panjang lebih hemat. Namun, ada juga keluarga yang justru memilih kemasan lebih kecil karena hanya mampu mengeluarkan sedikit uang pada saat itu, meskipun harga per onsnya sebenarnya lebih mahal.

Perubahan perilaku tersebut ikut mendorong perusahaan makanan dan peritel menyesuaikan strategi mereka. Produk private label kini menyumbang sekitar 24 persen dari seluruh penjualan bahan makanan di Amerika Serikat. Produk tersebut gak lagi sekadar dianggap sebagai alternatif murah, tapi semakin diposisikan sebagai pilihan yang menawarkan kualitas sekaligus nilai lebih baik.

Perusahaan besar juga mulai merespons konsumen yang semakin sensitif terhadap harga. Walmart misalnya menurunkan harga lebih dari 250 produk, sementara Kroger melakukan penyesuaian harga terhadap berbagai kebutuhan sehari-hari. Produsen seperti PepsiCo, Kraft Heinz, General Mills, dan Conagra juga melakukan berbagai strategi, mulai dari promosi hingga penyesuaian ukuran kemasan agar produk lebih mudah dijangkau konsumen.

5. Ukuran inflasi gak menggambarkan kemampuan membeli

ilustrasi belanja kebutuhan sehari-hari, belanja buah, supermarket (pexels.com/cottonbro studio)

Pada akhirnya, persoalan terbesar terletak pada cara melihat kondisi ekonomi masyarakat. Inflasi memang penting karena menunjukkan perubahan harga dari waktu ke waktu, tapi angka tersebut gak menjawab apakah keluarga masih memiliki cukup uang setelah membayar seluruh kebutuhan wajib. Ada perbedaan besar antara mengetahui harga semakin lambat naik dan mengetahui apakah seseorang masih mampu membeli barang tersebut.

Karena itu, kemampuan membayar atau ability to pay menjadi ukuran yang gak kalah penting. Pendekatan ini melihat berapa banyak pendapatan yang tersisa setelah seseorang membayar kebutuhan seperti tempat tinggal, energi, transportasi, kesehatan, dan makanan. Dua wilayah bisa memiliki harga makanan yang sama, tapi masyarakatnya dapat mengalami tingkat tekanan finansial berbeda jika pendapatan mereka gak sama.

Masalah tersebut juga menjelaskan kenapa angka ekonomi terkadang terasa berbeda dengan pengalaman sehari-hari. Ketika kamu melihat inflasi turun tapi uang tetap terasa cepat habis, bukan berarti angka inflasinya salah. Angka tersebut memang mengukur perubahan harga, sementara pengalaman finansial rumah tangga dipengaruhi oleh kombinasi antara harga, pendapatan, dan berbagai pengeluaran wajib.

Kondisi warga Amerika yang masih merasa miskin meski inflasi turun menunjukkan bahwa kesehatan ekonomi rumah tangga gak bisa dinilai dari satu angka saja. Harga kebutuhan yang sudah terlanjur tinggi, pertumbuhan pendapatan yang gak selalu seimbang, serta mahalnya tempat tinggal dan kebutuhan pokok membuat banyak keluarga tetap merasakan tekanan finansial.

Karena itu, persoalan yang dihadapi masyarakat sekarang lebih berkaitan dengan keterjangkauan hidup daripada sekadar seberapa cepat harga naik. Selama pendapatan belum mampu mengejar seluruh biaya kebutuhan, turunnya inflasi belum tentu membuat kehidupan sehari-hari terasa lebih ringan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article