Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Fakta Unik Warga Singapura: Kekayaan Meningkat, Utang Juga Melesat
ilustrasi Singapura (pexels.com/Rian Daud7)
  • Kekayaan bersih rumah tangga Singapura mencapai 3,3 triliun dolar Singapura pada kuartal I 2026, tumbuh 6,7% tahunan meski pertumbuhan aset melambat.
  • Kewajiban rumah tangga naik 8,2% menjadi sekitar 415 miliar dolar Singapura, melampaui aset; namun rasio utang terhadap pendapatan 107,9% masih di bawah rata-rata historis.
  • Saldo KPR tertinggi dimiliki kelompok usia 21–29 tahun, sementara tunggakan lebih menonjol pada kredit tanpa jaminan; pemerintah membatasi utang melalui aturan TDSR, LTV, dan kredit tanpa jaminan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Kalau kamu melihat kondisi keuangan rumah tangga Singapura, ada fakta menarik yang cukup bikin penasaran. Berdasarkan data Department of Statistics Singapore (SingStat), kekayaan warga di negara tersebut terus bertambah, tapi pada saat yang sama utang rumah tangga juga tumbuh lebih cepat.

Data kuartal I 2026 bahkan menunjukkan pertumbuhan kewajiban rumah tangga sudah melampaui pertumbuhan aset. Meski begitu, kondisi tersebut belum otomatis berarti warga Singapura sedang mengalami masalah keuangan besar-besaran, lho. Ada beberapa fakta unik di balik perkembangan kekayaan dan utang rumah tangga Singapura yang menarik untuk kamu simak.

1. Kekayaan rumah tangga tembus 3,3 Triliun dolar

ilustrasi usaha kuliner di Singapura (pexels.com/Robert Stokoe)

Kabar baiknya, kekayaan bersih rumah tangga Singapura masih mengalami pertumbuhan. Pada kuartal I 2026, kekayaan bersih rumah tangga mencapai sekitar 3,3 triliun dolar Singapura atau setara kurang lebih Rp39,6 kuadriliun (dengan asumsi kurs sekitar Rp12 ribu per dolar Singapura).

Angka tersebut merupakan nilai aset setelah dikurangi seluruh kewajiban atau utang yang dimiliki rumah tangga. Jadi, meski utang meningkat, nilai kekayaan secara keseluruhan masih terus bertambah.

Data Department of Statistics Singapore atau SingStat menunjukkan kekayaan bersih rumah tangga tumbuh 6,7 persen secara tahunan pada kuartal I 2026. Sementara itu, aset finansial dan properti residensial rumah tangga meningkat 6,8 persen dalam periode yang sama.

Pertumbuhan aset tersebut sebenarnya melambat dibandingkan kuartal IV 2025 yang mencapai 7,3 persen. Menariknya, pertumbuhan kewajiban justru mencapai 8,2 persen sehingga untuk pertama kalinya dalam beberapa periode terakhir utang tumbuh lebih cepat daripada aset.

2. Utang rumah tangga naik lebih cepat daripada aset

Kenaikan utang menjadi salah satu hal yang paling menarik untuk diperhatikan. Pada kuartal I 2026, kewajiban rumah tangga Singapura meningkat 8,2 persen secara tahunan dan mencapai sekitar $415 miliar (sekitar Rp 4.980 triliun dengan asumsi kurs ±Rp12 ribu per dolar Singapura).

Pertumbuhan tersebut sekaligus menjadi kuartal ke-10 berturut-turut ketika pertumbuhan pinjaman rumah tangga mengalami peningkatan. Kondisi ini terutama didorong oleh pertumbuhan pinjaman hipotek dan pinjaman pribadi.

Meski terdengar mengkhawatirkan, kondisi utang rumah tangga Singapura masih tergolong terkendali. Rasio kewajiban rumah tangga terhadap pendapatan pribadi setelah pajak memang naik menjadi 107,9 persen, tapi masih berada di bawah rata-rata historis 10 tahun sebesar 132 persen.

Lee Yen Nee, senior country risk analyst untuk kawasan Asia-Pasifik di BMI, menilai besarnya kekayaan rumah tangga Singapura membuat risiko sistemik tetap sangat rendah. Ia juga melihat pertumbuhan utang belakangan ini lebih mungkin didorong rumah tangga yang memiliki cadangan dana cukup kuat dibandingkan lonjakan kerentanan keuangan di seluruh masyarakat.

3. Anak muda punya saldo KPR paling tinggi

ilustrasi apartment, apartemen di Singapura, properti (pexels.com/Richard L)

Fakta berikutnya cukup mengejutkan kalau kamu melihat kelompok usia 21-29 tahun. Berdasarkan laporan Credit Bureau Singapore, pemilik rumah dalam kelompok usia tersebut mempunyai rata-rata saldo pinjaman properti sebesar 523.199 dolar (sekitar Rp6,3 miliar dengan asumsi kurs Rp12 ribu per dolar AS) pada kuartal I 2026.

Nilai ini justru menjadi yang paling tinggi dibandingkan kelompok usia lainnya dalam data tersebut. Namun, tingginya saldo pinjaman gak bikin kelompok ini memiliki tingkat keterlambatan pembayaran tertinggi untuk KPR.

Tingkat delinquency atau keterlambatan pembayaran KPR kelompok usia 21–29 tahun hanya 0,14 persen. Artinya, dari setiap 10.000 rumah tangga dalam kelompok tersebut, sekitar 14 mengalami keterlambatan pembayaran lebih dari 30 hari.

Sebagai perbandingan, kelompok usia 50–54 tahun mempunyai rata-rata saldo pinjaman kendaraan paling tinggi, yaitu 64.633 dolar (sekitar Rp775 juta dengan asumsi kurs Rp12 ribu per dolar AS), dengan tingkat delinquency hanya 0,18 persen. Data ini menunjukkan bahwa besarnya saldo pinjaman gak selalu berarti seseorang lebih berisiko gagal membayar cicilan.

4. Utang kartu kredit paling bikin waspada

ilustrasi kartu kredit (vecteezy.com/Sirichai Puangsuwan)

Kalau bicara soal jenis utang, pinjaman tanpa jaminan seperti kartu kredit justru perlu mendapat perhatian lebih. Tingkat delinquency untuk pinjaman pribadi tanpa jaminan tercatat berada di atas 1 persen, dengan kelompok usia 21-29 tahun dan di atas 54 tahun menjadi kelompok yang paling mungkin terlambat membayar.

Menariknya, kedua kelompok tersebut justru memiliki rata-rata saldo pinjaman pribadi tanpa jaminan yang termasuk rendah. Jadi, persoalannya bukan hanya seberapa besar utang, tapi juga kemampuan mengelolanya.

Saldo tagihan kartu kredit dan charge card yang belum dibayar memang masih bertambah, meski pertumbuhannya melambat. Pada kuartal I 2026, pertumbuhannya mencapai 6,8 persen secara tahunan, turun tipis dari 6,9 persen pada kuartal sebelumnya. Sementara itu, data Monetary Authority of Singapore atau MAS menunjukkan saldo kartu kredit yang terus bergulir karena belum dibayar tepat waktu naik 12,7 persen menjadi 9,4 miliar dolar atau sekitar Rp112,8 triliun.

Kelompok usia 40–54 tahun bahkan memiliki rata-rata saldo kartu kredit sekitar 6.741 dolar hingga 7.237 dolar atau sekitar Rp80,9 juta hingga Rp86,8 juta, dengan tingkat delinquency 3,39 persen sampai 3,77 persen.

5. Pemerintah punya rem agar utang gak berlebihan

ilustrasi Singapura (pexels.com/Kenny Foo)

Kenaikan utang rumah tangga Singapura ternyata gak dibiarkan tanpa batas. Ada sejumlah aturan yang dirancang untuk mencegah masyarakat mengambil pinjaman secara berlebihan, salah satunya Total Debt Servicing Ratio atau TDSR. Aturan tersebut membatasi total kewajiban pembayaran utang bulanan seseorang maksimal 55 persen dari pendapatan kotornya.

Ada pula Loan-to-Value atau LTV yang membatasi jumlah pinjaman untuk kredit dengan jaminan berdasarkan nilai aset. Untuk utang tanpa jaminan seperti kartu kredit dan pinjaman pribadi, terdapat aturan berbeda. MAS membatasi total kredit tanpa jaminan yang dapat dimiliki seseorang hingga 12 kali pendapatan bulanannya.

Jika seseorang melewati batas tersebut selama tiga bulan berturut-turut, ia gak bisa memperoleh fasilitas kredit baru dan fasilitas kredit yang sudah ada juga bisa ditangguhkan. Berbagai aturan tersebut menjadi salah satu alasan mengapa pertumbuhan utang rumah tangga Singapura saat ini masih dinilai cukup terkendali.

Dari data tersebut, kamu bisa melihat bahwa kondisi keuangan rumah tangga Singapura punya dua sisi yang berjalan bersamaan. Kekayaan bersih masih meningkat hingga dolar 3,3 triliun (sekitar Rp39.600 triliun), tapi kewajiban tumbuh lebih cepat dengan kenaikan 8,2 persen pada kuartal I 2026.

Di sisi lain, tingginya kekayaan, cadangan finansial, serta aturan pembatasan pinjaman membuat lonjakan utang belum menunjukkan adanya krisis keuangan rumah tangga secara luas. Jadi, fakta menariknya bukan sekadar warga Singapura makin kaya atau makin banyak berutang, melainkan keduanya terjadi pada saat yang hampir bersamaan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article