Jangan Asal Beli! Ini 4 Kesalahan saat Investasi Saham Luar Negeri

- Investasi saham luar negeri dipengaruhi bukan hanya harga saham, tetapi juga nilai tukar, pajak, biaya transaksi, dan kondisi ekonomi negara tempat saham diperdagangkan.
- Investor perlu menghitung potongan pajak dividen serta memahami kewajiban pelaporan pajak di Indonesia agar hasil investasi bersih tidak meleset dari perhitungan awal.
- Hindari membeli karena FOMO atau popularitas; teliti fundamental perusahaan, valuasi, utang, risiko industri, lalu diversifikasikan portofolio ke beberapa saham dan negara.
Saham luar negeri, terutama dari perusahaan besar di Amerika Serikat kini semakin menarik perhatian investor yang ingin mencari peluang di luar pasar domestik. Namun, investasi ini tidak cukup hanya dengan memilih perusahaan yang sedang populer atau sering muncul di media.
Ada beberapa hal penting di luar kinerja perusahaan yang bisa memengaruhi hasil investasi kita. Investasi di pasar global memiliki beberapa hal yang berbeda dari investasi saham di Indonesia.
Pergerakan nilai tukar, pajak, biaya transaksi, hingga kondisi ekonomi negara tempat saham tersebut diperdagangkan dapat ikut memengaruhi hasil investasi kita. Sebelum ikut membeli saham luar negeri, ada beberapa kesalahan umum yang penting untuk kita hindari.
1. Melihat harga tanpa memperhatikan nilai tukar

ilustrasi uang (pexels.com/Саша Алалыкин) Ketika membeli saham luar negeri, hasil investasi kita tidak hanya dipengaruhi oleh naik turunnya harga saham. Nilai mata uang juga ikut berpengaruh karena dana kita biasanya perlu ditukar terlebih dahulu ke dolar AS atau mata uang negara tempat saham tersebut diperdagangkan. Artinya, saham bisa naik dalam mata uang asalnya, tetapi keuntungan yang kita terima dalam rupiah dapat berbeda setelah memperhitungkan perubahan nilai tukar.
Misalnya, kita membeli saham AS ketika dolar berada pada level tertentu terhadap rupiah, kemudian saham naik 10 persen. Jika pada saat menjual dolar justru melemah terhadap rupiah, sebagian keuntungan tersebut bisa berkurang ketika dikonversikan kembali. Sebaliknya, dolar yang menguat dapat menambah keuntungan dalam rupiah.
2. Mengabaikan pajak dan potongan dari dividen

ilustrasi memantau pasar (magnific.com/standret) Kesalahan lain adalah menganggap keuntungan dari saham luar negeri sama persis dengan saham di pasar domestik. Padahal, aturan pajak dapat berbeda berdasarkan negara tempat saham tersebut berada dan status kita sebagai investor asing. Misalnya, untuk saham AS dividend yang diterima investor non-AS pada dasarnya dikenai pemotongan pajak sebesar 30 persen atau tarif yang lebih rendah jika ada perjanjian pajak yang berlaku.
Hal ini penting terutama jika kita sengaja mengincar saham yang rutin membagikan dividen. Jangan sampai melihat dividend yield yang tinggi tanpa menghitung berapa dana yang benar-benar masuk setelah potongan pajak. Selain pajak, kita juga perlu memahami aturan pelaporan dan ketentuan pajak di Indonesia agar perhitungan keuntungan tidak keliru sejak awal.
3. Terlalu cepat membeli karena saham sedang naik

ilustrasi pergerakan harga (unsplash.com/Maxim Hopman) Ketika melihat saham luar negeri naik tajam, kita bisa merasa FOMO. Kondisi ini sering membuat investor membeli hanya karena harga sedang bergerak naik atau saham tersebut ramai dibicarakan di media sosial. Padahal, kenaikan harga tidak selalu berarti perusahaan tersebut masih murah atau memiliki peluang pertumbuhan yang sama besar ke depannya.
Sebelum membeli, kita perlu melihat alasan di balik kenaikan saham tersebut. Apakah pendapatan dan keuntungan perusahaan memang meningkat, ada produk baru yang menjanjikan, atau harga saham hanya terdorong oleh antusiasme investor? Memahami dasar bisnis perusahaan membantu kita membedakan antara peluang investasi dan sekadar tren sesaat.
4. Terlalu terpaku pada saham populer

ilustrasi trading saham (pexels.com/Artem Podrez) Popularitas perusahaan bukan berarti sahamnya selalu layak dibeli pada harga berapa pun. Saham perusahaan teknologi besar, perusahaan kecerdasan buatan, atau merek global memang menarik perhatian, tetapi harga saham tetap bisa turun ketika pertumbuhan bisnis tidak sesuai harapan. Kondisi pasar 2026 juga menunjukkan bahwa peluang investasi tidak hanya berada di AS karena sejumlah pasar saham internasional bahkan mencatat kinerja yang lebih baik daripada S&P 500.
Karena itu, kita sebaiknya tidak mengisi seluruh portofolio dengan beberapa saham yang sedang ramai dibicarakan. Perhatikan bisnis perusahaan, pertumbuhan pendapatan, utang, keuntungan, harga saham dibandingkan kinerjanya, serta risiko industrinya. Menyebarkan investasi ke beberapa perusahaan dan negara dapat membantu mengurangi dampak jika satu saham atau pasar mengalami penurunan tajam.
Investasi saham luar negeri memang membuka lebih banyak pilihan, tetapi risikonya juga lebih beragam. Nilai tukar, pajak, biaya transaksi, dan kondisi perusahaan sama-sama perlu diperhitungkan sebelum membeli. Dengan memahami hal-hal tersebut sejak awal, kita bisa berinvestasi di pasar global dengan keputusan yang lebih bijak dan tidak sekadar mengikuti tren.












![[QUIZ] Dari Shio Kamu, Kami Tebak Ide Bisnis yang Cocok Untukmu!](https://image.idntimes.com/post/20240328/10817217-19406371-d1bc7980c62d880a91283408a334e32a.jpg)



![[QUIZ] Dari MBTI, Ini Ide Bisnis yang Cocok untuk Si Ekstrovert](https://image.idntimes.com/post/20240320/tim-mossholder-zhffvw2u93u-unsplash-90788451079a40c7884ed313ca93232a.jpg)




